8 Jul 2008

Awasi Anak via Family Locater














Paduan GPS dan cell tracking membuat family locater cukup ideal untuk mengawasi aktivitas anak. Apalagi didukung desain ponsel yang memang digemari anak-anak

Ungkapan perhatian orang tua terhadap anak bisa diwujudkan dalam banyak hal. Salah satunya memberikan perhatian dan pengawasan terhadap aktifitas sehari-hari sang anak. Maklum kian hari tantangan dan ancaman terhadap anak-anak kian meningkat, mulai dari sisi kriminal hingga salah pergaulan. Di Amerika Serikat (AS), negara yang terkenal dengan surga teknologi LBS (Location Based Service), punya jurus unik untuk pengawasan anak, yakni program family locater.




















Family locater adalah fitur yang disiapkan bagi orang tua untuk mengawasi keberadaan lokasi anak lewat ponsel. Metodenya mengusung paduan dari GPS (Global Positioning System) dan cell tracking, sudah barang tentu ponsel sudah berfasilitas built in GPS. Sebagai catatan, di AS kini ada puluhan penyedia layanan family locater dengan basis operator selular dan MVNO (Mobile Virtual Network Operator), artinya sebuah operator tak memiliki jaringan sendiri, melainkan hanya menyewa jaringan milik operator lain.




















Adalah Disney Mobile operator MVNO yang popular menerapkan family locater, dengan menyewa jaringan Sprint, Disney family locater mampu menjangkau seluruh wilayah AS. Konsep family locater yakni orang tua bisa mengawasi lokasi keberadaan anak secara real time, orang tua bisa memonitor dan merekam lewat layar web di PC dan ponsel, wujud visual tracking berupa tampilan map. Orang tua juga bisa mengatur child zone, artinya keberadaan anak di dasarkan atas parameter suatu area, misalkan bila anak coba-coba atau tak sengaja keluar dari lokasi belanja, sekolah atau perumahan, secara otomatis orang tua akan mendapat alert lewat SMS.

Lain dari itu family locater turut dibekali fungsi call control, si anak hanya bisa menghubungi beberapa nomer yang telah ditentukan. Sesuai segmen pasar, Disney mobile menyajikan fungsi entertainment seperti games, nada dering dan themes khas Walt Disney. Ponsel Disney pun dibuat atraktif dengan desain tokoh-tokoh komik. Paket ponsel dan program family locater ditawarkan dengan system kontrak, berkisar $ 9 hingga $ 12 per bulan, tergantung jenis ponsel yang dipilih. Disney menyediakn enam pilihan built in GPS phone dari merek Samsung, LG dan Pantech.

Tapi perlu diketahui, keberhasilan family locater bergantung dari kekompakan antara anak dan orang tua. Bila si anak tak mengaktifkan ponsel toh orang tua tak bisa men track keberadaan anak. Tapi orang tua tetap bisa mendapatkan koordinat terakhir, GPS tracking digunakan untuk situasi obyek outdoor, lalu cell tracking dioptimalkan untuk area indoor. Baik akses orang tua dan ponsel si anak dilengkapi password, sehingga family locater tidak bisa diakses oleh orang yang tak berkepentingan.

Perlindungan dan kebebasan individu merupakan isu yang keras di AS, untuk itu Disney Family locater hanya dijalankan untuk track anak di bawah umur 18 tahun. Secara otomatis layanan family locater berhenti merespon jika anak telah berumur 18 tahun, operator melakukannya berdasar input data saat registrasi. Disney Mobile secara resmi diluncurkan pada bulan Maret tahun lalu, sampai saat ini belum muncul data jumlah pelanggan resmi. Namun fenomena LBS family locater tengah santer di AS, Chaperone Child Locater dari Verizone juga menggelar layanan mirip Disney Mobile. Selain kerjasama dengan Disney mobile, nyatanya Sprint juga menyewakan jaringan selularnya ke Loopt Inc, yang juga menyediakan friend locater dengan jumlah 100 ribu pelanggan.

Sebuah Keharusan
Meski memunculkan kontroversi di masyarakat, pemerintah AS pada tahun 2008 mengharuskan semua ponsel yang dipasarkan sudah harus dibekali fasilitas GPS. Pemerintah berdalih GPS paling akurat untuk merespon panggilan darurat 911. Data Gartners Research pada The Wall Street Journal edisi 16 Januari 2007 mengungkapkan, di tahun 2006 lebih dari 55 persen ponsel yang terjual dibekali GPS, dan estimasi di tahun 2007 akan meningkat 63 persen.

Di lain pihak aktivis hak asasi memprotes keras hal ini, alasannya GPS mudah dimanfaatkan untuk kepentingan lain, seperti intelijen dan spionase. “Publik membutuhkan privasi untuk melakukan kegiatan apa pun, tanpa harus was was selalu diintai,” ujar Kevin Bankston, pengacara di Electronic Frontier Foundation.

(Sep07)

Tidak ada komentar: