Tampilkan postingan dengan label Jurnal Tekno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Tekno. Tampilkan semua postingan

27 Jul 2011

Asyiik...Ada Akses Broadband di Kereta Api Argo


















Perkembangan layanan kereta api di Indonesia terbilang pesat, walau memang belum sepesat di negara-negara maju. Rangkaian gerbong eksekutif kian memadai dengan kenyamanan yang terus ditingkatkan. Tapi disana sini tentu masih ada saja yang kurang, salah satunya adalah akses komunikasi internet untuk penumpang.

Boleh dikata, di sepanjang jalur lintas rel kereta api di Jawa, hampir sepanjang jalur telah terlayani coverage BTS (Base Transceiver Station) operator-operator besar. Dalam perspektif sederhana, penumpang kereta api tentu bisa mengakses internet dari dalam gerbong yang sedang melaju. Tapi pada kenyataan kualitas tidak selalu mulus, saat kereta sedang melintas di area kota mungkin akses internet bagus, sebaliknya bila kereta menjauh dari kota, bahkan melintas hutan atau sawah, koneksi internet kadang melorot.

6 Apr 2011

Mobile Broadband di Puncak Tertinggi Dunia















Di ketinggian 5.200 meter dari permukaan laut, kini akses GSM 3G telah “berkibar,” Siap melayani akses mobile broadband bagi para pendaki gunung


Sudah lumrah sebagian dari kita bisa nikmatin akses komunikasi selular yang lancar bin nyaman, ini jelas karena secara kontur geografis Tanah Air kita cukup menunjang, dimana populasi penduduk mayoritas berada di dataran rendah dan sedang. Tapi bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi, bukan sekedar dataran tinggi seperti di puncak pass – Bogor, tapi dataran tinggi seperti yang ada di puncak Jayawijaya Papua atau yang lebih ekstrim seperti di puncak Everest. Dimana ketinggian daratan bisa lebih dari 5.000 meter diatas permukaan laut.

Memang populasi manusia di daerah setinggi itu bisa dibilang tak banyak, tapi tetap di area ekstrim juga butuh dukungan komunikasi selular yang memadai, tak sekedar akses via handy talky atau telepon satelit. Salah satu fakta adalah Nepal, di negeri yang kondang bagi para pendaki ini terdapat gunung Everest, yakni gunung tertinggi di dunia dengan tinggi total 8.850 meter dari permukaan laut. Tak ayal kontur geografis Nepal sebagian besar memang berada di pegunungan tinggi. Dengan misi untuk memperluas coverage, Ncell, operator selular GSM di Nepal, pada 28 Oktober lalu berhasil “mengudarakan” BTS (base tranceiver station) 3G pegunungan Everest.




















BTS 3G Ncell beridiri di area 5.200 meter diatas permukaan laut, atau 17.000 kaki. Memang belum sampai ke puncak Everest, tapi terobosan Ncell sukses mengibarkan BTS 3G tertinggi di dunia hingga saat ini. Layanan yang bisa digelar mencakup akses internet berkecepatan 4-5 Mbps dan telah sukses dilakukan ujicoba video call. Perlu diketahui, di ketinggian tersebut tak ada pasokan listrik, so pasti suplai energi BTS harus dipasok dari sumber lain, yakni lewat solar cell hybrid, alias kombinasi energi cahaya matahari dan baterai. Adopsi solar cell dipandang tepat, sebab tak berdampak negatif pada lingkungan sekitar.














Pariwisata menjadi sumber devisa yang besar bagi Nepal yang berpenduduk 28 juta jiwa, adanya BTS 3G di Everest tentu tak sekedar maksud untuk memperluas coverage semata, jelas adanya akses mobile broadband di Everest menyasar target para pendaki yang berseliwaran dari waktu ke waktu. Berkat BTS 3G di Everest, seorang pendaki bisa tetap eksis ber-Facebook, bahkan upload foto saat di daratan yang ekstrim.














Sebelum ini, layanan telekomunikasi yang ada di gunung Everest hanyalah komunikasi berbasis satelit yang mahal. Layanan dari Ncell kemungkinan akan bermanfaat bagi para pendaki jika terjadi kecelakaan. Ncell menyebutkan, mereka telah memasang delapan BTS hingga di ketinggian 5.200 meter, di dekat desa Gorakshep. Empat dari delapan BTS tersebut menggunakan solar cell.



























Belum jelas mengenai backhaul yang digunakan BTS 3G di Everest, besar kemungkinan karena kontur geografis yang sulit, Ncell menggunakan teknologi V-SAT (satelit) IP, jadi BTS bisa berdiri sendiri, tak bergantung pada elemen BSC (base station controller).

Rencananya hingga akhir tahun 2011, Ncell akan memperluas coverage hingga 90 persen wilayah di Nepal. BTS 3G-nya bakal dipasang di 14 kota, termasuk Katmandu, Itahari, Bharatpur dan Nepalgunj. Ncell tentu tak berjalan sendiri, operator GSM ini merupakan bagian dari grup TeliaSonera, operator selular dari Swedia yang merupakan salah satu operator terbesar di Eropa Barat. (Haryo Adjie Nogo Seno)








20 Feb 2011

Broadcast Message Center, Pesan Kilat Sensasi Lokal Area














Alcatel-Lucent menawarkan teknologi kirim pesan cepat dengan kustomisasi area. Mendukung konsep pesan darurat dan pesan komersial



Entah apa yang salah dengan bumi ini, rasanya bencana alam silih berganti menerpa seantero negeri. Tak sedikit korban manusia dan harta benda akibat bencana, memang musibah sudah jadi suratan takdir, tapi bukan berarti kita lantas berdiam diri, harus ada langkah antisipasi yang memadai, terutama dalam penyediaan informasi peringatan potensi hadirnya bencana. Jaman sudah maju friend, justu teknologi hape yang selalu kita tenteng adalah jawaban paling afdol untuk antisipasi bencana.

Melihat besarnya kebutuhan teknologi yang tepat sasaran, Alcatel-Lucent (ALu) baru-baru ini memperkenalkan teknologi broadcast message center (BMC). BMC adalah sistem yang ditawarkan bagi pihak pemerintahan dan pihak berwajib lainnya untuk mengirim pesan teks secara cepat, tak hanya tepat lho, tapi BMC menjamin pesan teks (SMS) yang dikirim bisa tepat sasaran.













Caranya tak lain pengiriman pesan dilakukan berdasar pada lokasi yang dianggap berpotensi terkena bencana (cell site tertentu). Pasokan data nomer hape tentu didapat dari operator, semisal lewat elemen HLR (home location register) dan VLR (visitor location register). Ketimbang solusi lainnya, BMC memastikan pesan darurat bisa terkirim lebih cepat ke pengguna. Pesan yang cepat sampai menjadi perhatian khusus, sebab saat terjadi kegentingan biasanya jaringan operator mengalami kepadatan trafik, alhasil pesan darurat telat diterima.

Teknologi pesan kilat sebenarnya bukan “barang baru”, sebelumnya kita telah mengenal istilah flash message, artinya pesan dikirim tanpa proses storing di SMSC (SMS center), pesan jenis ini pun tak bisa disimpan di dalam inbox. Selain pastinya melibatkan peran operator, dalam solusi ini pihak pengguna BMC diberi akses khusus ke alert gateway, dari alert gateway informasi diteruskan ke BMC gateway lewat format XML. Dan, terakhir dari BMC informasi diteruskan ke jaringan operator.

Tapi rasanya agak naif bila BMC hanya dirancaang khusus pesan darurat bencana. Dengan kemampuan kustomisasi area pengiriman pesan, BMC digadang oleh ALu untuk proyek komersial, contohnya pesan broadcast untuk karyawan dan LBA (location based advertising). Untuk tujuan komersial, BMC menggunakan tools aggregation gateway dan commercial broadcast web portal, sehingga benar-benar pas mendukung keterlibatan para penyedia konten.

BMC tak sebatas memenuhi local area message berdasarkan teks based, teknologi ini cukup mumpuni untuk mengadopsi fasilitas pesan dalam lingkup GPRS/3G, seperti MMS misalnya. Hingga saat ini BMC masih dalam pengujian, pihak ALu kabarnya tengah melakukan standarisasi fitur BMC agar pas dengan ketentuan yang ada di Amerika Serikat dan Eropa. Bagaimana untuk pasar Indonesia? Belum ada keterangan lebih lanjut tentang pemasaran BMC, yang jelas teknologi ini pada dasarnya tak baru-baru amat. Seharusnya model teknologi seperti ini sudah bisa dibuat di dalam negeri. (Haryo Adjie Nogo Seno)

12 Des 2010

Pantau Polusi Udara via Visibility















Dengan memanfaatkan kombinasi fasilitas kamera, fitur GPS dan akselerometer, smartphone bisa disulap menjadi sensor untuk memantau kadar polusi udara



Bila kita punya niat mulia, banyak jalan lho untuk peduli pada kondisi lingkungan, caranya bisa dipilih dari yang sederhana sampai yang rada-rada berbau high tech. Untuk yang berbau high tech salah satu terobosannya bisa dilakukan lewat teknologi ponsel pintar yang kini semakin canggih. Apa yang bisa diperbuat si ponsel? Dengan dukungan sistem operasi bak sebuah komputer, sebuah ponsel pintar (smartphone) bisa menjadi alat sensor udara dengan beragam fitur yang dimiliki.

Contohnya seperti terobosan yang dilakukan tim peneliti dari University of Southern California Viterbi School of Engineering di Amerika Serikat, mereka menciptakan aplikasi Visibility pada awal September lalu. Aplikasi ini sejatinya masih berupa eksperimen, namun terobosan aplikasi ini tergolong menarik, memanfaatkan jalur fitur standar yang ada di ponsel dengan hasil guna yang maksimal. Visibility diciptakan sebagai aplikasi untuk mengukur tingkat polusi udara di suatu area yang diakibatkan debu, asap knalpot dan partikal karbon.

Bagaimana proses kerja Visibility? Aplikasi ini bekerja dengan cara yang tak terlalu rumit, pengguna cukup mengaktifkan aplikasi dan menjepret foto suasana langit (udara) dimana obyek berada. Nah, hasil foto suasana langit diterjemahkan aplikasi Visibility dalam file hitam putih yang selanjutnya output foto dikirim ke server komputer di laboratorium. Mengirim gambarnya so pasti via jalur high tech dong, alias lewat media GPRS/3G dan HSDPA. Artinya ponsel harus terkoneksi dengan internet.


















Saat file foto dikirimkan ke server, secara bersamaan Visibility menyertakan data-data pendukung yang ada di TKP (tempat kejadian perkara-red) berupa informasi koordinat GPS, posisi kompas, jam dan akselerometer. Nantinya komputer disisi server akan membandingkan nilai pencahayaan dari langit yang ada di foto untuk model algoritma dalam jangka waktu tertentu dimana gambar tersebut diambil. Bila foto di langit tak seterang hasil gambar sebelumnya, itu artinya sebagian sinar matahari tak terserap sempurna melalui atmosfer, bisa jadi penyebabnya sinar matahari terhalang kabut akibat asap aerosol.

Hasil olah data di server kemudian dikirimkan kembali ke pengguna ponsel, berisi tingkat polusi udara. Salah satu yang penting dari solusi ini adalah kekuatan database yang dibangun, sebab server Visibility menyimpan informasi yang didapat dari himpunan informasi di suatu daerah. Secara sederhana bisa disebut Visibility bisa berjalan dengan semangat ”dari kita untuk kita”.

Saat pengguna mengambil foto, penting bahwa posisi kamera harus diambil dengan sudut orientasi langit yang tepat. Guna memudahkan, sebelum obyek di foto terdapat panduan layar untuk memfokuskan obyek menggunakan akselerometer untuk menentukan sudut yang tepat. Visibility sampai saat ini telah diuji di beberapa lokasi, seperti di dekat stasiun pemantauan polusi udara konvensional di Los Angeles.

Visibility saat ini tersedia sebagai aplikasi yang bisa diunduh gratis, para peneliti berharap bahwa banyak orang akan menggunakannya, sehingga mereka dapat memberikan umpan balik untuk perbaikan. Visibility saat ini baru tersedia dalam versi aplikasi Android, kedepan akan dibuat versi untuk iPhone. (Haryo Adjie Nogo Seno) www.selular.co.id

28 Okt 2010

Menyingkap Seluk Beluk BTS




















Tak kenal maka tak sayang, walau sering dilihat belum tentu BTS kita perhatikan. Asal tahu saja komponen satu ini merupakan “penyambung lidah” ponsel anda



BTS kian hari semakin bertebaran dimana-mana, mulai dari pertokoan, mall-mall, sekolah, rumah sakit hingga perumahan. Singkat kata nama BTS (Base Tranceiver Station) begitu populer nya dikenal masyarakat. Tidak peduli menggunkana jaringan GSM atau CDMA, asal berbasis wireless sudah pasti, dan mau tidak mau harus berhubungan dengan sang BTS. Dalam komponen suatu BTS sebenarnya terdiri dari berbagai macam perangkat penting. Hanya saja yang paling populer yakni komponen tower (menara), sebab memang tower lah yang paling jelas dilihat orang. Selain tower, rangkaian utama lain yakni shelter (rumah BTS), dan feeder.

Pada tulisan ini akan diulas mengenai shelter BTS, sebuah bangunan yang menyertai kehadiran setiap jaringan operator dimana pun. Umumnya shelter BTS berdimensi tiga kali tiga meter, dengan cat warna putih. Di dalamnya terdapat berbagai perangkat penting, diantaranya adalah module combiner, module per carrier, core module (module inti), power supply, fan (kipas) pendingin, dan AC/DC converter. Seperti terlihat di gambar, seluruh perangkat dalam shelter BTS tidak ubahnya seperti rak-rak besi, atau malah lebih mirip lemari pendingin. Rak besi ini disebut juga sebagai BTS equipment (BTSE). Untuk mentenagai perangkat tadi rata-rata diperlukan range antara 25 sampai 45 watt, tergantung module dan hardware yang digunakan.

Dalam dunia jaringan telekomunikasi selular, perangkat seperti BTS termasuk dalam sisi BSS (Base Station Subsystem). Selain komponen BTS, dalam BSS juga dikenal BSC (Base Station Controler), dimana dalam alur sistem yang beberapa BTS ditangani oleh satu BSC. Disamping sisi BSS, secara keseluruhan juga dikenal komponen SSS (Switching Subsystem), dalam SSS mencakup kombinasi dari berbagai perangkat seperti MSC (master switching control), HLR (home location register), dan VLR (visitor location register). Singkatnya dalam jaringan GSM terdapat tiga komponen utama yakni BSS, SSS, dan intelligent network.

Dari ketiga komponen utama diatas sisi BSS merupakan yang paling banyak bersinggungan dengan pengguna. Kenapa istilah BTS bisa begitu populer ?, sebab memang BTS lah komponen jaringan GSM yang pertama kali koneksi dengan ponsel Anda. Di Indonesia dikenal berbagai macam vendor BTS yang cukup populer, seperti Alcatel, Ericsson, Huawei, Motorola, Siemens dan Nokia. Kesemuanya memasarkan produk yang relatif serupa kepada para klien, yakni operator selular. Siemens merupakan vendor terbesar untuk pangsa radio station dan switching di Indonesia, dengan menguasai sekitar 60 persen dari pangsa pasar. Dimana Siemens memasok seluruh dari ribuan BTS Telkomsel, sebagian BTS Satelindo dan Excelcom. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini digambarkan mengenai alur sistem informasi yang terdapat pada komponen BSS.














Alur Sistem BSS

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengikuti alur sistem jaringan. Sebagai ilustrasi, pertama terpancar data atau signal dari ponsel yang diterima oleh antena (cell), dimana data atau signal tersebut dipancarkan lewat udara dalam area coverage cell BTS. Kedua data atau signal yang telah diterima oleh antena disampaikan melalui feeder (kabel antena), yang selanjutnya data atau signal tersebut diolah dalam module-module hardware dan software BTS. Setelah itu tercipta output data yang diteruskan ke rangkaian luar BTS, yakni BSC. Untuk menghubungkan transmisi antara BTS dan BSC dipergunakan microwave (berbentuk bulat mirip rebana).

Microwave


“Microwave dipergunakan untuk menggantikan peran fungsi kabel, seperti PCM cable atau fiber optic. Namun baik microwave dan fiber optic memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing”, ujar Hendarmin, technical instructor ICM Training Center Siemens. Kelebihan microwave ialah infrastruktur yang dibangun lebih murah, sedang kekurangan microwave kapasitas lebih rendah, kualitas bisa lebih buruk jika terjadi gangguan di udara. Lalu alternatif lain fiber optic, dengan kelebihan kapasitas lebih besar (fisik lebih kecil) ditunjang kualitas data lebih baik.


Sedang kekurangan fiber optic investasi lebih mahal, sebab memerlukan penggalian tanah atau laut. Excelcom merupakan operator yang mempopulerkan penggunaan fiber optic guna mendukung transmisi, istilah yang dulu dikenal dengan Connetrix. Selain itu microwave juga dapat dipergunakan untuk mendukung koneksi dari BSC ke TRAU (Transcoder and Rate Adaptation Unit), atau dari TRAU ke MSC. Proses alur tadi juga bisa berjalan dari arah sebaliknya. TRAU merupakan jalur penghubung dari BSS ke komponen SSS.

feeder BTS


Jenis dan kelas BTS

Kembali ke perihal BTS yang kita kenal, dalam istilah BTS juga dikenal berbagai pembagian kelas. Semisal untuk penempatan BTS, dibagi kedalam kelas indoor dan outdoor. BTS indoor mempunyai spesifikasi desain yang lebih ramping atau simpel, dan relatif lebih awet karena ditempatkan di dalam ruangan. Namun BTS indoor juga memiliki kelemahan pada penempatan ruangan tersendiri yang harus dilengkapi AC (air conditioner) sebagai pendingin. Rentang suhu yang dapat diterima komponen BTS antara –5 hingga 55 derajat celcius. Umumnya perangkat BTS ini yang terdapat di dalam shelter dan mall-mall.

Selain itu terdapat BTS outdoor yang mempunyai spesifikasi tidak memerlukan ruangan khusus, dapat ditempatkan di dinding (wall mounted), terowongan, dan dipinggir jalan. Sifatnya yang lebih fleksibel tidak lepas dari adanya kekurangan seperti desain yang lebih besar dan berat. Perbedaan biasanya hanya pada rack, tapi isi module nya hampir sama dengan BTS indoor.

BTS outdoor

Hendarmin yang juga aktif melatih engineer operator GSM menyebutkan kemampuan BTS juga dipengaruhi oleh kapasitas yang tersedia. Kapasitas dalam hal ini menyangkut daya tampung Trx (Tranceiver) atau frekuensi. Biasanya dalam satu tower BTS terdiri dari 3 Trx. Dimana satu Trx memiliki delapan time slot, artinya time slot inilah yang digunakan oleh subscriber pelanggan untuk melakukan komunikasi selular. Dari delapan time slot, satu time slot khusus digunakan untuk signaling yang berfungsi untuk membawa informasi tetntang parameter cell. Biasanya satu time slot ini juga dipergunakan untuk komunikasi data seperti GPRS. Sisanya tujuh time slot biasa digunakan untuk komunikasi voice. Jadi satu cell yang memiliki tiga Trx (3 x 8 time slot) – 1 time slot, artinya terdapat 23 time slot yang bisa digunakan oleh 23 pelanggan secara bersamaan.


Indoor BTS














Hubungan Antara Cell dan Coverage

Cell dalam BTS mempunyai kaitan erat dengan coverage (area layanan). Besar kecil nya cell tentu berpengaruh pada performa jaringan yang diterima oleh pelanggan. Penyediaan cell pun tidak terlepas dari faktor kontur permukaan bumi. Seperti tanah lapang, pegunungan, dan daerah gedung bertingkat mempunyai kebijakan tersendiri dalam pemasangan cell BTS. Berikut ini dijelaskan beberapa tipe cell, dan luas coverage yang mampu dicakup.


Trx BTS






Macro cell
– jenis ini yang paling gampang dilihat, sebab ditempatkan di atas gedung tinggi atau tower dengan ketinggian sekitar 50 meter lebih. Ciri dari macro cell yakni memiliki transmit power yang tinggi, dan coverage lebih luas.Umumnya macro cell banyak ditempatkan di daerah pinggiran kota yang mempunyai kepadatan rendah (low traffic). Macro cell sendiri dibagi ke dalam umbrella cell, dan standard cell. Jarak jangkauan bisa berbeda antar operator, tergantung desain yang dibutuhkan. Maksimum macro cell mempunyai jangkauan hingga 35 km, pada realitanya macro cell hanya beroperasi hingga 20 km saja. Ini disebabkan adanya halangan-halangan yang mengganggu penetrasi signal.

Micro cell – jenis ini biasanya ditempatkan di pinggiran jalan atau di sela-sela pojok gedung. Micro cell dirancang bagi komunikasi pelanggan dengan mobilitas tinggi atau dirancang untuk menyerap traffic, misalkan saat menelepon sambil naik mobil. Ciri dari micro cell yakni coveragenya kecil namun kapasitas besar dengan transmit power yang rendah. Biasanya menara BTS micro cell memiliki ketinggian 8 meter, namun banyak juga yang dipasang tanpa antena alias ditempel pada dinding. Micro cell sendiri ke dalam micro cell standar, pico cell, dan nano cell. Maksimum micro cell mempunyai jangkauan antara 500 meter hingga 1 km. (Haryo Adjie Nogo Seno/Jan04)








9 Okt 2010

Mau Proyek LTE? Harus Ada Footprint 3G dong ...


















Seperti halnya saat 3G datang 5 tahun lalu, kini menjelang teknologi LTE (Long Term Evolution) hadir di Indonesia, para vendor jaringan sudah punya kesibukan sendiri untuk show of performance teknologi LTE mereka ke pihak operator selular. Rangkaian ujicoba ditawarkan para vendor ke operator A, operator B, dan operator C. Tapi hampir dipastikan vendor hanya berhasrat pada ujicoba ke Telkomsel, Indosat dan XL yang punya Capex (Capital Expenditure) dan jumlah pelanggan besar.

Sah-sah saja setiap vendor menawarkan solusinya, namanya juga dagang. Tapi tahukah Anda, bahwa tak sekedar solusi teknologi canggih yang diperlukan untuk mendapatkan kontrak atas proyek LTE. Hampir tiap operator besar, seperti Telkomsel dan Indosat men-”syarat”-kan, yang bakal mendapat proyek LTE adalah vendor jaringan yang sudah punya footprint 3G di jaringan operator yang bersangkutan.

Apakah itu footprint 3G? Tak lain adalah rangkaian jaringan pada gelar layanan 3G, mudahnya bisa diartikan seperti BTS (Base Tranceiver Station) 3G. Ambil contoh untuk Telkomsel, operator terbesar ini mempunyai supplier BTS 3G dari vendor Nokia Siemens Network (NSN) dan Huawei, Begitu juga misalnya dengan Indosat yang menggunakan solusi BTS 3G dari Ericsson. Walaupun belum pasti, besar kemungkinan mereka-merekalah yang bakal mendapat order instalasi komersial LTE pada waktunya nanti.

Selain NSN, Ericsson, dan Huawei tentu banyak vendor-vendor lain yang melirik pasar LTE di Indonesia, meski mereka tak punya footprint 3G di Indonesia. Salah satunya seperti Alcatel-Lucent (ALU), vendor ini punya pengalaman panjang memasok BTS untuk Indosat dan XL, tapi sayang tak punya portfolio produk BTS 3G di operator lokal. Oleh karena itu, ALU yang kini baru-baru ini menggelar LTE trial harus cukup puas bila ”hanya” mendapat kesempatan diundang untuk field test trial oleh operator besar.

ALU tak sendiri, ZTE pun kabarnya juga akan melakukan hal yang sama di Indonesia. Target vendor dalam jangka pendek tentu bukan untuk mendapatkan PO (purchase order), tapi sekedar show of force solusi di depan petinggi operator. (Haryo Adjie Nogo Seno)

1 Agu 2010

DietSense "Monitor Program Diet via Ponsel"
















Banyak jalan untuk diet sehat, salah satunya dengan ponsel sebagai sensor pengawas. DietSense menawarkan solusi teknologi diet yang relatif sederhana untuk diaplikasikan



Gaya hidup yang tak sehat kerap berujung pada timbulnya penyakit serius, salah satunya disebabkan oleh pengaturan pola makan yang tidak tepat. Seiring ekonomi yang meningkat dan kesibukan tinggi, kaum urban di kota-kota besar menjadi kurang peduli untuk urusan pola makan. Akumulasi pola makan yang berlebih, ditambah kurangnya olahraga, muncul kemudian gejala kolesterol tinggi yang berimbas pada penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker. Tiap orang tentu punya kiat masing-masing untuk mengatur pola makan yang sehat, salah satunya dilakukan lewat program diet.

Program diet dengan panduan yang benar tentu sangat bermanfaat, selain asupan gizi ke tubuh lebih baik, Anda pun dapat mengatur bentuk tubuh lebih ideal. Tapi nyatanya tak semua orang mudah untuk melaksanakan diet, beberapa orang memerlukan alat bantu untuk memonitor pola diet makan. Nah, salah satu solusinya adalah DietSense, teknologi ini dirancang untuk mengevaluasi pola makan lewat bantuan ponsel. Dalam DietSense, kamera digital di ponsel berperan sebagai sensor.

Cara kerja DietSense tidak berlangsung real time, melainkan selama proses makan, kamera akan mengambil obyek foto dengan interval waktu tertentu, sekitar 10 detik. Dalam ujicoba yang dilakukan tim riset CENS (Center for Embedded Networked Sensing) UCLA (University California Los Angels), DietSensor dirancang menggunakan ponsel sebagai sensor dan sebuah perangkat server sebagai pengolah management data. Dalam pengoperasiannya, pengguna mengalungkan ponsel kamera secara terbalik, dengan lensa utama menghadap keluar. Sebelum makan, pengguna terlebih dahulu mengaktifkan aplikasi Campaignr. Selama makan berlangsung, Campaignr mengambil foto ke obyek makanan dalam interval 10 detik, ini dikombinasikan pula dengan fitur akselerometer sebagai sensor gerak.

Setelah makan, pengguna dapat mematikan aplikasi Campaignr. Dari hasil ujicoba ke 40 sukarelawan, diketahui rata-rata dihasilkan 100 foto setiap sekali makan. Untuk ujicoba, CENS menggunakan ponsel Symbian S60 seri Nokia N80. Ponsel ini mempunyai spesifikasi resolusi kamera 3Mpix, akses WiFi b/g, dan layar akselerometer. Di dalam ponsel, ukuran foto mengalami kompresi, sebab rangkaian hasil foto akan diolah ke dalam server. Proses input foto ke server dirancang melewati internet based, karena ukuran file yang relatif besar jalur WiFi menjadi rujukan utama.












DietSense dari disisi server terdiri dari data management server dan image processing server. Konfigurasi file dari aplikasi Campaignr ke server mengadopsi format XML (Extensible Markup Language). Lewat beragam proses, akhirnya dapat dimunculkan data metrik (lihat bagan), pengguna dapat memonitor DietSense lewat web access dengan user ID dan password khusus. Parameter informasi yang dihasilkan pada DietSense disusun oleh Lenore Arab, peneliti dari David Geffen School of Medicine di AS.

DietSense sejatinya mulai di ujicoba pada bulan Agustus 2007 dan hingga kini terus disempurkan. Beberapa program penyempurnaan DietSense seperti image filtering, integrasi navigation tools ke layanan Picasa dan Flickr. (Haryo Adjie Nogo Seno)

23 Jul 2010

CycleSense - "Navigasi Untuk Para Bikers"




















“Dari bikers untuk bikers,” inilah konsep navigasi ala CycleSense untuk para pengguna sepeda di kota-kota besar



Bersepeda adalah aktivitas yang menyenangkan serta menyehatkan raga, tapi bersepeda di kota metropolitan jelas punya tantantan serius. Alih-alih niat ingin sehat, bersepeda di kota besar malah bisa berbuah celaka bila tak cermat dan hati-hati. Herry Ridwansyah (30 tahun), seorang bikers yang tinggal di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan menceritakan, “Setiap hari saya berangkat dan pulang kantor naik sepeda dengan niat supaya badan lebih sehat, tapi kondisi jalan di Jakarta lumayan mengkhawatirkan”. Tentu cukup alasan untuk khawatir, seperti risiko tertabrak angkot, jalan berlubang, dan polusi asap kendaraan yang parah.

Untuk itu perlu terobosan bagi para bikers, sebab problem diatas rata-rata memang dialami di kota-kota besar dunia. Terkait hal tersebut, UCLA (University California Los Angeles) Center of Embedded Networked Sensing (CENS) menciptakan solusi CycleSense. Solusi ini diciptakan untuk membantu bikers merencakan rute yang aman dengan mengambil data dan informasi terkini dari server CycleSense. Data di dalam server CycleSense berasal tak lain dari ponsel para bikers sendiri. Menurut rilis di situs http://urban.cens.ucla.edu, CycleSense mengambil konsep sensor navigasi dari bikers untuk bikers.

Bagaimana cara kerjanya? Sebelum bersepeda, bikers dapat membuka aplikasi CycleSense di ponsel untuk mendapatkan info terkini seputar jalur lalu lintas yang bakal dilalui. Seperti kepadatan trafik, laporan polusi udara, dan kejadian-kejadian lainnya. Informasi tadi berasal dari para bikers dalam komunitas. Selama bikers bersepeda, ponsel yang dibawa berperan sebagai ‘sensor’, lewat ponsel yang dilengkapi fitur GPS (global positioning system) dan akselerometer, secara otomatis atau pun manual informasi akurat seperti koordinat berdasar latitude dan longitude bisa dikirim ke server lewat jalur GPRS/3G. Bikers juga bisa mengirimkan rekaman video, foto, dan pesan suara ke server CycleSense. Hingga para bikers dalam komunitas dapat menerima peringatan-peringatan khusus dari rekannya.

CycleSense sejatinya dirancang UCLA CENS untuk membantu sebuah komunitas bikers di AS, yakni Los Angeles County Bicycle Coalition (LACBC). Selain bantuan navigasi bersepada lewat map di layar ponsel, CycleSense yang masih dalam tahap pilot project nantinya juga bakal dilengkapi fitur informasi koneksi ke transportasi publik, seperti bus dan kereta api, beserta jadwal keberangkatan.

Dari sisi teknologi jelas tak ada yang baru dari CycleSense, solusi ini terlihat canggih bila dilihat dari sisi konektivitas dan data base. Dengan beragam kelebihannya, solusi model CycleSense tampak ideal diterapkan untuk komunitas Bike to Work di Jakarta. (Haryo Adjie Nogo Seno)

9 Jun 2010

Smart Offload


















Konvergensi Mulus Akses Selular dan WiFi


WiFi hotspot kini bisa disebut sebagai perpanjangan coverage operator selular. Berkat smart offload layanan dasar GSM (voice dan SMS) bisa dinikmati dari akses WiFi lewat perpindahan jaringan yang mulus


Sebagian dari Anda mungkin pernah berburu akses WiFi saat berada di café atau restoran. Tujuannya bisa beragam, mulai dari sekedar mencari akses internet dari free WiFi atau lebih jauh guna mendapat kualitas koneksi internet yang lebih baik. Alasannya akses internet via WiFi cenderung lebih cepat dan stabil ketimbang akses internet via broadband operator selular. Belum lagi di beberapa area indoor akses internet operator terasa belum optimal, karena penyebaran picocell BTS belum merata benar.

Nah, saat akses WiFi berhasil didapatkan, umumnya koneksi di jalur akses operator tetap aktif di ponsel Anda. Padahal pola pemakaian ini membuat energi baterai di ponsel cepat terkuras. Sekalipun Anda melakukan perpindahan akses dari internet selular ke WiFi, pastilah tidak akan bersifat seamless. Pada banyak pemakaian, akses ke operator dan WiFi memang harus aktif bersamaan, pasalnya pengguna tak ingin kehilangan akses sambungan voice dan SMS.







Berangkat dari kasus diatas, Kineto Wireless Inc, sebuah perusahaan pemasok perangkat WiFi dari AS memperkenalkan teknologi smart offload. Smart offload menawarkan konvergensi yang mulus dari akses internet operator ke akses WiFi. Yang dimaksud mulus ibarat perpindahan (handover) koneksi dari akses 3G ke EDGE/GPRS. Jadi selancar menikmati aplikasi tidak akan terputus saat handover dari 3G ke WiFi. Smart offload terbilang teknologi anyar dan baru saja diperkenalkan pada ajang Mobile Wireless Congress 2010 di Barcelona bulan Februari lalu.

Kecanggihan smart offload tak cuma pada handover akses. Untuk meningkatkan efisiensi baterai, saat telah terjalin koneksi ke jaringan WiFi, otomatis akses 3G operator akan di off-kan oleh aplikasi khusus. Inilah yang menjadi kunci kecanggihan smart offload. Pada sisi ponsel pintar dibenamkan aplikasi yang berlabel "smart WiFi". Aplikasi ini berperan ibarat sensor untuk meneruskan sambungan akses internet WiFi yang berhasil ditangkap ke server layanan smart offload.

Dalam skenarionya, aplikasi smart offload di ponsel bakal melakukan routing akses internet ke perangkat Kineto MSAG (Multi Service Access Gateway). Perangkat MSAG ditempatkan pada elemen core network operator, fungsi MSAG mencakup 3GPP Generic Access Network Controller yang menghubungkan antara jalur eksisting mobile switching center (MSC) operator dan infrastruktur SGSN (serving GPRS support node). Berkat keterkaitan antar jaringan tadi, smart offload mampu menghadirkan layanan selular seperti voice, SMS, MMS, dan video call meski akses selular operator terputus.

Keamanan akses menjadi isu penting dalam jalur WiFi. Agar menjamin koneksi data yang aman dan lancar, manajemen koneksi dilengkapi ototentifikasi berdasarkan SIM (subscriber indentity module) based over internet ke smart WiFi. Menurut rilis dari Kineto Wireless, smart offload diciptakan untuk mengantisipasi tren saat ini dan di masa depan. Jumlah populasi smartphone dengan kemampuan WiFi terbilang sangat besar di pasaran. Hasil riset RBC Capital Market 2009 memperkirakan pada tahun 2014 lebih dari 52% ponsel di seluruh dunia sudah dilengkapi WiFi.

Masih terkait teknologi smart offload, handover akses juga bisa dipadukan dengan perangkat femtocell, semacam mini privat BTS untuk segmen indoor perumahan. Selain manfaat yang didapatkan untuk pelanggan, hadirnya smart offload diproyeksikan juga dapat menguntungkan pihak operator. Tanpa investasi cell BTS indoor, operator dapat menigkatkan kapasitas layanan dan ’memperluas’ coverage secara tak langsung, dimana infrastruktur WiFi hotspot yang bertebaran dimana-mana tak menjadi beban pihak operator. (Haryo Adjie Nogo Seno)

18 Mei 2010

CitiSense - Komunitas Sensor Polusi Udara



















CitiSense menawarkan konsep sensor polusi udara yang unik, memadukan keunggulan interkoneksi dan mengedepankan peran komunitas masyarakat



Sebagai pengguna jalan raya di kota besar, banyak hal yang Anda inginkan agar perjalanan aman dan nyaman. Hal ini bisa didapat bila Anda melalui rute jalan yang singkat dan bebas macet. Tapi dampak industrialisasi membawa kita untuk melengkapi unsur kenyamanan berjalan raya, yakni pilihan rute yang sehat dengan tingkat polusi rendah. Seperti diketahui, kadar polusi udara yang tinggi menjadi problem serius di jalan raya kota metropolitan. Bila jalanan macet berdampak pada tingkat stres. Maka polusi udara di jalan berdampak ke penyakit pernasapan bagi pengendara dan penduduk yang tinggal di sepanjang jalan.

Berangkat dari kasus diatas, sekelompok peneliti dari University of California San Diego (UCSD) memperkenalkan solusi yang diberi lalel ”CitiSense”. CitiSense adalah solusi monitoring lingkungan yang melibatkan ratusan, bahkan nantinya dengan ribuan sensor polusi di wilayah padat polusi. ”Ide ini kami rancang berdasar kasus polusi udara di San Diego, kota ini mempunyai populasi 3,1 juta jiwa dengan luas wilayah 4000 metric persegi. Tapi ironisnya hanya terdapat 5 sensor udara yang dimiliki EPA (Enviromental Protection Agency),” ujar William Griswold, Profesor pengembang CitiSense dari Department of Computer Science and Engineering UCSD.
















Kebolehan CitiSense yakni melibatkan secara aktif masyarakat untuk melakukan monitoring polusi udara. Hasil monitoring nantinya juga dimanfaatkan (di-share) oleh masyarakat. Untuk menjalankan CitiSense diperlukan infrastruktur jaringan, software, artificial intelligence dan back end server. Konkritnya ’ditebar’ ratusan/ribuan sensor indoor/outdoor baik yang bersifat fixed dan mobile sensor. Fixed sensor polusi udara mirip dengan yang terdapat di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, bedanya pihak UCSD akan mengembangkannya dengan energi solar cell.










Sedang pada mobile sensor menggunakan perangkat mungil, Squirrel. Perangkat mungil ini bekerja layaknya sensor polusi udara pada umumnya. Cara kerja Squirrel dengan menyalurkan data dan info polusi udara via bluetooth ke ponsel. Nah, pengguna ponsel dapat melihat langsung kadar polusi yang ada disekitaran dirinya. Tapi tak hanya itu, pengguna yang tergabung dalam komunitas CitiSense dapat mengirimkan info polusi yang didapat ke server based CitiSense. Dari server semua data diolah yang kemudian di distribusikan pada para pengguna kendaraan yang membutuhkan (info on demand) di layar ponsel.

Mewujudkan CitiSense bukanlah tanpa tantangan, menurut Griswold, ada beberapa tantangan teknis yang akan dihadapi di lapangan. Contohnya uplink streaming yang rata-rata berkecepatan 64 Bps (bytes per second), proses uplink umumnya 20 kali lebih lambat dari download, dan pengaturan prioritas trafik. Idealnya untuk partisipasi di mobile sensor diperlukan akses uplink 1,8 Mbps pada jaringan EV-DO Rev A, atau 100 Bps pada selular berjaringan 3G. CitiSense dalam rilisnya akan dikembangkan dengan standar up date data per menit.

CitiSense memang masih sebatas konsep, tapi perhatian publik di AS sangat tinggi pada konsep ini. Dibuktikan dengan bantuan dana untuk implementasi CitiSense sebesar US$1,5 juta dari National Science Foundation pada awal Desember 2009. Di AS urusan kesehatan publik menjadi isu penting, terutama terkait polusi udara. Data dari EPA menyebutkan, selama tahun 2009 tak kurang 158 juta penduduk AS mempunyai problem akibat polusi udara yang diakibatkan asap knalpot kendaraan bermotor. (Haryo Adjie Nogo Seno)

20 Apr 2010

Solusi Mobile WiMax dari Operator 2G/3G














Operator 2G/3G berpeluang sukses bila menggarap mobile WiMax. Antar akses jaringan dan layanan bisa dipadukan dalam teknologi OFDM MIMO



Seperti telah diberitakan di banyak media, implementasi WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) awalnya disiapkan untuk fixed access, tapi karena alasan tuntutan pasar dan perkembangan teknologi, WiMax didorong menjadi mobile WiMax yang punya kemampuan tak ubahnya jaringan selular. Pergeseran minat implementasi mobile WiMax juga berimbas di Tanah Air. Setelah sebelumnya WiMax disiapkan pemerintah untuk berjalan di versi 802.16 d (nomadic), nyatanya pasar operator justru menyatakan minat pada WiMax 802.16 e (mobile).

Lepas dari problem regulasi dan isu pemenuhan kandungan lokal pada komponennya, standar 802.16 e lebih diminati sebab mempunyai kemampuan handover seperti di teknologi selular, bisa roaming internasional, dan mengadopsi IPV6 untuk akses internet broadband. Itu baru dari segi kemampuan akses, standar 802.16 e juga punya keuntungan dalam cakupan wilayah yang lebih luas, instalasi lebih mudah, dan penggunaan pita frekuensi yang lebih efisien. Nah, keunggulan tersebut juga tak terlepas dari adopsi teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) dan MIMO (Multiple Input Multiple Out).

Apakah yang dimaksud OFDM? Ini sebuah teknik transmisi yang menggunakan beberapa buah frekuensi pembawa (multicarrier) yang saling tegak lurus (orthogonal). OFDM bekerja dengan cara memisahkan sinyal radio ke dalam sejumlah kecil subsinyal yang kemudian ditransmisikan secara simultan pada frekuensi berbeda. OFDM adalah sistem yang efisien untuk mengatasi permasalahan pada komunikasi NLoS (Non Line of Sight). Pada NLoS sinyal akan sampai di perangkat penerima setelah melalui proses pemantulan, pemencaran, dan pembiasan. Sedangkan MIMO mengacu pada teknologi dimana terdapat beberapa antena di BTS (Base Tranceiver Station) dan beberapa antena pada ponsel.

Adopsi teknologi OFDM dan MIMO inilah yang menjadi pilihan bagi operator mobile broadband, khususnya untuk operator 2G/3G jika berminat menggelar mobile WiMax. Hal ini seperti diutarakan WiMax Forum yang menyebut standar penggunaan OFDM dan MIMO masuk dalam Mobile WiMax release 1.5. Release terbaru ini mempunyai kemampuan akses data sampai 100 Mbps di rentang bandwidth 20 Mhz. Bahkan bila digunakan konfigurasi MIMO 4x4 bisa dicapai kecepatan akses data hingga 300 Mbps.

Untuk mewujudkan hal ini tentu diperlukan penyesuaian di sisi RAN (Radio Access Network) dan core network operator 2G/3G. Dari sisi RAN, operator perlu membangun BTS 4G dan upgrade core network dengan jaringan IP berkecepatan tinggi. Serupa dengan gelar 3G, untuk mobile WiMax operator harus membeli frekuensi tersendiri. Tapi dalam aplikasi di lapangan, penempatan BTS 4G bisa co location dengan BTS 2G/3G. Konsep mobile WiMax bekerja secara overlay dengan jaringan 2G/G, tapi berkat adopsi teknologi OFDM MIMO adanya kemungkinan gangguan sinyal (interference) dapat dikurangi.

Next Generation Mobile WiMax (802.16 m)
Sementara di Indonesia masih memperjuangkan standar 802.16 e, ternyata di luar negeri sudah ada loncatan lebih jauh dalam next generation mobile WiMax (802.16 m) hasil pengembangan IEEE (Institute of Electrical and Electronics). 802.16 m diciptakan sebagai standar yang lebih akrab untuk akses layanan data selular. Keunggulan 802.16 m mampu beroperasi handover antar radio access yang berbeda, mendukung VoIP, kriptografi, adaptiv radio interface, dan tentunya mengadopsi OFDM MIMO.

Secara teori, 802.16 m mampu menawarkan multi access dengan kecepatan data 1 Gbps untuk kondisi diam dan 1 Mbps untuk kondisi bergerak. Standar 802.16 m rencananya baru akan dirilis tahun depan di Amerika Serikat, standar ini juga dikenal dengan sebutan WiMax 2. (Haryo Adjie Nogo Seno)

14 Jan 2010

Akses 3G di Frekuensi 900 Mhz





















Dengan jangkauan yang lebih luas, frekuensi 900 Mhz digadang mampu mengusung layanan mobile broadband. Tentunya diawali dengan solusi refarming


Adu performa antar operator dalam ranah mobile broadband kian menarik. Seiring pemunculan jenis handset baru dan bertambahnya populasi, maka menjadi tantangan bagi tiap operator untuk meningkatkan jangkauan (coverage) dan kapasitas mobile broadband. Operator harus meningkatkan jangkauan, sebab target pelanggan mobile broadband juga sudah merambah ke wilayah rural, seiring perluasan wilayah pemukiman di pinggiran kota-kita besar. Ambil contoh akses mobile broadband cukup kuat di Jakarta, tapi di area Tangerang, Bekasi dan Depok jangkauan aksesnya masih terbatas.

Selepas misi meningkatkan jangkauan, operator masih punya pekerjaan rumah untuk menambah kapasitas di area tersebut. Maklum seiring perluasan jangkauan, biasanya diikuti bertambahnya kebutuhan akan kapasitas. Tapi ternyata bukan perkara mudah buat operator untuk ekspansi jaringan, kebutuhan investasi mobile broadband yang tinggi harus dihadapkan pada tingkat ARPU (average revenue per user) yang menurun. Untuk itu harus dicari jalan tengah agar diperoleh solusi terbaik. Salah satu yang ditawarkan yakni penggunaan frekuensi 900 Mhz untuk 3G/UMTS (Universal Mobile Telecommunication System).

Saat ini 3G di Indonesia berjalan di frekuensi 2100 Mhz dengan bandwidth 5 Mhz. Sedangkan bila 3G diadopsi pada frekuensi yang lebih rendah, 900 Mhz, maka jangkauan akan meningkat lebih jauh. Dalam teorinya, operator dapat mengurangi kebutuhan site BTS 3G hingga 65 persen. Pada solusi refarming yang dituangkan oleh Nokia Siemens Network (NSN), disebutkan penggunaan site BTS 3G 900 Mhz dapat mencakup area 2.8 kali lebih luas dibanding menggunakan BTS 3G 2100 Mhz.

Dengan kelebihannya itu, 3G di 900 Mhz mulai banyak diadopsi operator di luar negeri. Berdasarkan rilis dari GSA (Global mobile Suppliers Association) per 4 September lalu, sudah 10 operator yang mengadopsi solusi ini. Elisa dari Finlandia menjadi yang pertama meluncurkan 3G 900 Mhz pada November 2007, dan terakhir Digitel dari Venezuela pada awal Maret 2009. Untuk wilayah Asia, beberapa operator di Thailand, Singapura, Filipina dan Hong kong juga sudah mulai mengadaptasi 3G 900 Mhz.

Untuk menggelar 3G 900 Mhz bukan perkara mudah, diperlukan teknik yang disebut refarming, yakni menata kembali frekuensi dan bandwidth yang tersedia. Frekuensi 900 Mhz sudah dikenal diperuntukkan bagi jaringan 2G, dan alokasi kanal di frekuensi ini sudah cukup padat. ”Tingkat kesulitannya ibarat kita ingin membangun jalur busway di tengah jalur eksisting yang juga sudah padat,” ujar Pandu Sinatriyo, Head of Solution Sales Radio Access NSN Indonesia. Tantangan lainnya adalah menjamin performa layanan 2G tidak terganggu, dan koneksi layanan baik 2G dan 3G bisa berjalan seamless.

Hal diatas bisa dilakukan dengan menata bandwidth 5 Mhz menjadi unique carrier bandwidth 4.2 Mhz di frekuensi 900 Mhz. Sisanya 800 Mhz bisa tetap dialokasikan untuk melayani service 2G. Untuk mengatasi beban kapasitas 2G, operator dapat mendayagunakan kapasitas di frekuensi 1800 Mhz dan 2100 Mhz. Untuk menggelar solusi ini, operator dapat memanfaatkan BTS eksisting, secara hardware memang diperlukan penambahan modul frekuensi baru. Bagi konsumen, selain tidak ada perubahan dari sisi akses kecepatan data, di area indoor pun lewat frekuensi 900 Mhz performa kecepatan data bisa lebih baik. Ponsel-ponsel 3G yang mampu berjalan di frekuensi 900 Mhz juga sudah mulai banyak beredar di pasar.

Tantangan di Regulasi
Solusi refarming di beberapa negara, termasuk Indonesia, masih perlu pengkajian dari sisi regulasi. Pasalnya frekuensi 900 Mhz memang “hanya” diperuntukkan untuk 2G, dimana setiap operator harus membayar BHP (Biaya Hak Penggunaan) frekuensi per tahun untuk setiap Trx (tranceiver dan receiver). Untuk ini belum ada pengaturan dari regulator, apabila layanan 3G 2100 Mhz dialihkan semua atau sebagian ke 900 Mhz. (Haryo Adjie Nogo Seno)

4 Jan 2010

Jaringan Komunikasi Alternatif Saat Bencana




















Kian maraknya bencana yang menimpa Tanah Air, semestinya dapat memicu inovasi dan penerapan teknologi jaringan komunikasi alternatif


Berkaca dari setiap datangnya musibah bencana alam, mulai dari banjir, gempa bumi dan tsunami, kerap membuat sistem jaringan komunikasi telepon kabel dan telepon selular lumpuh, entah disebabkan jaringan infrastruktur operator ikut hancur atau infrastruktur operator yang kehilangan energi akibat putusnya aliran listrik. Hal ini tentunya harus diantisipasi, mengingat bencana di masa mendatang akan terus mengincar dan komunikasi selular kian menjadi sesuatu yang esensial, apalagi kala musibah datang justru lonjakan trafik akan meningkat tajam.

Di negara indutri maju, beragam inovasi teknologi jaringan disiapkan untuk menghadapi pra dan pasca bencana datang, tak sekedar berbasis voice dan SMS, akses internet juga mutlak diperlukan. Beberapa sudah berhasil di implementasi, sebagian lainnya masih berupa konsep yang masih perlu di uji lebih lanjut. Untuk Indonesia, inisiatif operator untuk membangun BTS dengan tenaga alternatif patut didorong lebih lanjut, paling tidak untuk mengurangi ketergantungan 100 persen pada pasokan listrik PLN dan solar untuk genset. (Haryo Adjie Nogo Seno)

WiFi Berjangkauan 100 Km



Saat ini WiFi menjadi bagian penting dari fitur komunikasi data di ponsel dan laptop, saat bencana datang, WiFi juga mutlak diperlukan, seperti digunakan untuk komunikasi para relawan di Padang. Namun WiFi terkendala jangkauan akses, untuk itu Intel membuat besutan teknologi baru, yakni WiFi berjangkauan jarak jauh yang sinyalnya bisa’ditembakkan’ sampai jarak 100 Km. Solusi Intel ini disebut RCP (rural connectivity platform), idenya dirancang untuk memenuhi kebutuhan akses internet yang murah bagi negara berkembang, RCP menghubungkan antara urban ke rural area.

Cara kerjanya tarbagi dua, yakni basic configuration dan extended configuration. Perangkat yang diperlukan untuk RCP mencakup single board computer dengan embedded prosesor Intel IXP425, compact flash storage, 10/100 ethernet port dan lokal WiFi untuk akses ke perangkat klien. Antena bisa memanfaatka jenis yang sudah ada. Keseluruhan perangkat beroperasi dengan pasokan tenaga dibawah 6 watt. RCP telah diuji coba di India, Vietnam, Panama dan Afrika Selatan. Di Berkeley Research Lab – California, RCP bisa menyalurkan video streaming dengan frekuensi 5,8Ghz pada jarak 1,5 mil. Dalam release disebutkan RCP bisa dikebut untuk akses hingga 6,5 Mbps.

10 Kilo Phone GSM Network
10 Kilo Phone GSM Network merupakan perangkat yang dikembangkan oleh para peneliti di Eropa yang tergabung di WISECOM (Wireless Infra Structure over Satelite for Emergency COMmunication). Perangkat ini memungkinkan petugas penyelamat membuat jaringan untuk suara maupun data dengan memanfaatkan satelit. Dengan catatan, jaringan yang dibuat hanya dapat bertahan untuk sementara waktu.

Pola kerja perangkat ini yakni dengan terhubung ke satelit terlebih dahulu, baru setelah itu terkoneksi dengan jaringan telpon bergerak maupun tetap. WISECOM menghadirkan dua perangkat dengan fungsi sama, namun menggunakan dua teknologi satelit berbeda. Yakni teknologi Inmarsat BGAN (Broadband Global Area Network) dan DVB-RCS (Return Channel via Satellite). Perangkat yang bekerja dengan BGAN berukuran kecil dan beratnya 10 kg. Sedangkan yang menggunakan teknologi DVB RCS beratnya 60 kg. Keduanya terintegrasi dengan jaringan GSM serta memiliki koneksi Wi-Fi. Versi BGAN terintegrasi dengan GSM picocell, yakni bagian kecil dari elemen BSS (base station subsystem) GSM yang bisa terkoneksi dengan telepon umum via internet, dengan picocell hingga radius 300 meter bisa dicakup untuk komunikasi selular. Sementara, perangkat dengan DVB-RCS terintegrasi dengan GSM microcell, yang punya cakupan serta bandwidth lebih luas dibanding versi BGAN

Robot Helikopter dengan Akses WiFi

Robot ini mengemban tugas sebagai hotspot darurat yang melayani area bencana secara remote. Oleh pembuatnya, heli ini disebut sebagai quadcopter yang memiliki empat baling-baling. Dukungan sistem komunikasi di heli ini mencakup VIA’s pico ITX hardware dan satu unit penerima sinyal GPS. Dengan dukungan akses WiFi, heli ini dapat mendukung komunikasi data bagi beberapa terminal berkemampuan WiFi, sudah tentu diantaranya ponsel. Dalam sebuah ujicoba, heli ini hanya mampu terbang selama 20 menit. Heli WiFi ini pertama kali diperlihatkan dalam ajang CeBIT 2009 di Hanover, Jerman awal Maret lalu. Robot ini dalam tahap pengembangan oleh peneliti dari Germany's Ilmenau University of Technology.

Terranet


Tanpa dukungan dari jaringan operator selular, pengguna ponsel bisa bercakap-cakap. Inilah teknologi dari Terranet yang mengusung kemampuan sistem teknologi peer to peer dalam satu komunitas dan berjalan tanpa dukungan base station. Komunikasi bisa dilakukan dalam cakupan area 1 sampai 2 Km, bergantung pada penggunaan frekuensi. Berbeda dengan sistem HT (handy talkie), coverage area bisa semakin jauh, sebab Teranet memanfaatkan ponsel lain untuk menjalankan fungsi sebagai sebuah BTS, atau pada sistem mesh WiFi, node untuk mengandalkan sebuah hotspot. Dalam skenario ini peran node bisa dipikul dari sebuah ponsel.
Tapi untuk menikmati Terranet diperlukan ponsel berkemampuan khusus. Vendor Sony Ericsson sempat diberitakan tertarik untuk mengembangkan ponsel dengan teknologi ini, dimana ponsel akan dijual untuk kelas entry level seharga 50 Dollar AS. Teknologi asal Swedia ini kabarnya tengah di uji coba di kawasan Amerika Selatan.

Prediksi Banjir Lewat Menara BTS


Berangkat dari kasus bencana alam di New Orleans, dua peneliti dari TAU (Tel Aviv University), Israel – profesor Pinhas Alpert dan Hagit Messer Yaron – menciptakan model teknologi baru untuk memprediksi datangnya banjir bandang. Teknologi yang dipilih memanfaatkan keberadaan menara BTS operator. Cara kerja teknologi ini terbilang tak terlalu rumit, seperti diketahui kualitas sinyal selular umumnya menurun bila cuaca sedang hujan. Berangkat dari fenomena diatas, dimanfaatkan kedua peneliti TAU untuk mengukur kekuatan pancaran gelombang radio lewat efek embun di udara. Perubahan kekuatan gelombang radio itu yang lalu dimanfaatkan sebagai bahan analisa datangnya banjir. Solusi dari TAU ini memang belum diaplikasikan oleh operator selular, baik di Amerika Serikat sekalipun. Tapi dengan tawaran biaya operasi yang murah, bukan tak mungkin teknologi prediksi bencana ini dapat dilirik dimasa mendatang.

30 Des 2009

Siasat Operator Hadapi Bencana Alam

















Dengan mengandalkan mobilitas tinggi, operator selular berperan besar menyambung tali komunikasi kala bencana alam datang

Saat gempa bumi menggoyang kota Padang 30 September lalu, banyak infrastrukur kota hancur. Salah satu imbasnya terkait infrastruktur operator selular. Ratusan ribu orang ditengah kesulitan dan kepanikan sangat sulit untuk mendapatkan akses komunikasi selular. Tak jarang indikator sinyal di layar ponsel lenyap, sekalipun di beberapa area didapati sinyal operator, bukan sesuatu yang mudah untuk bisa menelepon dan SMS, maklum saat itu terjadi lonjakan trafik.

Buntut sulitnya akses selular disebabkan tumbangnya BTS (base tranceiver station) beberapa operator. Walaupun ada BTS yang masih on, bukan berarti masalah teratasi, seperti diketahui pasokan listrik PLN kala itu terputus dan BTS hanya mengandalkan tenaga dari genset yang memerlukan solar. Operator yang aset jaringannya rusak tentu tak tinggal diam. Justru tiap operator sangat kentara saling ’berlomba’ menampilkan image perbaikan jaringan tercepat dengan dibarengi beragam aksi pelayanan sosial.

BTS Mobile
Menyadari pentingnya komunikasi saat terjadi bencana, operator punya jurus yang disiapkan bila infrastruktur BTS tumbang. Salah satu yang diandalkan adalah gelar BTS mobile. Perangkat BTS mobile tak ubahnya BTS reguler yang berada di lahan tahan (green field) dan di atas gedung (roof top). Yang membedakan hanya segi mobilitas, dimana BTS mobile mudah untuk dipindah-pindahkan dengan wahana truk.



Konsep BTS mobile juga dikenal dengan istilah cells on wheels (COW). Beberapa operator besar, seperti Telkomsel, XL, Indosat dan Telkom Flexi diketahui mempunyai armada BTS mobile di setiap wilayah. Secara teknis untuk menggelar BTS mobile hanya butuh hitungan beberapa jam. Umumnya BTS ini ditempatkan di lokasi yang mengalami blank spot akibat BTS regular mati atau bermasalah. Tapi tak jarang BTS mobile dihadirkan guna memperkuat handling trafik di event penting atau di sebuah ajang yang menyedot konsentrasi massa dalam jumlah besar. Contohnya penempatan BTS mobile saat digelar pameran Pekan Raja Jakarta (PRJ) di Kemayoran.

Ada beragam spesifikasi BTS mobile. Semisal BTS mobile yang dilengkapi 3 cell. Maka 1 cell mempunyai 3 Trx (transmitter dan receiver), dimana 1 Trx mempunyai 8 time slot. Time slot inilah yang digunakan oleh pelanggan untuk melakukan komunikasi. Dari 8 time slot, 1 time slot digunakan khusus untuk signaling yang berperan membawa informasi tentang parameter cell. Sisanya 7 slot digunakan untuk komunikasi voice dan GPRS. Jadi 1 cell dengan 3 Trx artinya terdapat 23 time slot yang bisa digunakan bersamaan. Dan secara keseluruhan dalan satu BTS mobile dengan 3 cell dapat menampung 69 percakapan secara bersamaan. Konfigurasi tentu bisa dirubah sesuai kelengkapan perangkat dan besarnya daya, semisal jadi 42 atau 84 percakapan bersamaan.



Pada BTS mobile sudah terdapat rumah BTS (shelter), generator dan alat pendingin. Ketinggian tower umumnya bisa di set sampai 32 meter. Kesiapan BTS mobile bisa lebih cepat bila microwave BTS mobile memperoleh kondisi LoS (line of sight) ke BSC (base station controller), seperti diketahui setiap BTS harus terhubung ke elemen BSC. LoS yakni kondisi pengirim dan penerima tembus pandang tanpa rintangan.

Pada gempa di Padang, Telkomsel mengerahkan 10 unit Compact Mobile Base Transceiver (Combat) yang dilengkapi akses WiFi di sejumlah area publik. Pasca gempa, Telkomsel mengalami gangguan pada 981 BTS di wilayah Sumatera Barat. Selain Telkomsel, XL diketahui juga menggelar XL mobile di posko Satkorlak untuk membantu komunikasi para relawan.

Pico GSM IP BTS over VSAT IP
Inilah solusi yang ampuh dan cepat untuk dirakit saat kejadian darurat. Dengan mengandalkan jalur satelit, maka pico BTS tak perlu repot mencari koneksi ke BSC terdekat. Berkat sistem IP (internet protocol) satelit, jenis BTS ini dapat digelar secara mandiri. Keunggulan lainnya, BTS ini tak membutuhkan antena, low power dan investasi murah. Ditambah lagi untuk tenaganya tak perlu bergantung listrik, yakni cukup lewat solar cell dan baterai.





Tapi sesuai dengan namanya, coverge BTS ini terbilang sangat kecil dan kapasitas handling hanya 1 Trx, berarti hanya 7 sampai 8 percakapan bersamaan yang bisa ditangani. Saat bencana di Padang, Telkomsel mengerahkan 20 unit BTS jenis ini untuk coverage di wilayah terpencil yang sulit dijangkau. Berbeda dengan BTS mobile, pico GSM VSAT IP baru sebatas melayani layanan 2G. Telkomsel sebelumnya sudah mempopulerkan penggunaan teknologi ini dalam kampanye ”Telkomsel Merah Putih”. Sistem teknologi ini serupa dengan yang dipasang pada layanan selular di kapal-kapal milik PT. Pelni.

Early Warning System (EWS)
Pasca Tsunami Aceh tahun 2004, SMS digadang sebagai elemen penting dalam EWS. Tentu disini operator hanya sebagai penyedia layanan, untuk peran sebagai ‘content provider’ diserahkan pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Salah satu yang sudah berjalan yakni SMS cell broadcast (CB). SMS CB dipandang tepat karena langsung mengirimkan info darurat ke pengguna di area yang dimaksud. Metode ini dipandang lebih tepat dan efisien ketimbang kirim pesan berdasarkan HLR (home location register).

Pesan hanya bisa dipancarkan berdasarkan area cell per cell atau BTS tertentu, hal ini menjadikan target EWS bisa lebih spesifik. Proses SMS CB dikirim lewat SMSC (short message service center) dan bersifat push message. Pesan yang diterima tidak berbeda dengan bentuk SMS konvensional dan bisa disimpan pada inbox. Selain lewat SMS, CB juga ada yang digelar lewat sistem stream. Dengan stream proses pengiriman lebih cepat diterima tapi isi info berupa pesan yang amat singkat dan tak bisa disimpan di inbox. Metode ini kerap digunakan sebagai promo broadcast saat memasuki area pusat belanja.

Tapi lepas dari semua sistem yang ada, tantangan terbesar yang dihadapi operator adalah potensi hancurnya jaringan bersamaan datangnya musibah. Tapi setidaknya EWS SMS CB bisa menjadi solusi untuk peringatan dini datangnya musibah yang bisa diperkirakan datangnya, seperti Tsunami, banjir dan badai. (Haryo Adjie Nogo Seno)

21 Des 2009

EDGE Evolution


















Turbo Akses Internet dari Standar 2G

Setelah lima tahun ”beredar”, kini saatnya EDGE berevolusi dengan performa yang ditingkatkan. Salah satunya pengingkatan bit rates hingga 1 Mbps


Bila diperhatikan ada beragam indikator pada layar ponsel, diantaranya indikator kekuatan jaringan dan status teknologi jaringan. Kedua indikator jaringan tersebut bersifat dinamis, artinya menyesuaikan dengan kualitas dan cakupan layanan operator yang bersangkutan. Oleh sebab itu wajar bila kerap terlihat indikator kekuatan sinyal naik turun pada layar. Sedang indikator status teknologi jaringan ditandai dengan beberapa ikon yang popular, contohnya ikon G (GPRS), E (EDGE), 3G dan H (HSDPA). Tentu munculnya ikon-ikon tadi disesuaikan dengan kemampuan fitur internet yang ada di ponsel Anda.

Disisi lain, sesuai dengan semangat operator untuk membangun layanan mobile broadband, teknologi 3G dan HSDPA terlihat gencar digaungkan. Tapi faktanya, coverage 3G operator masih terbatas di kota-kota besar. Maka jangan heran bila status sinyal 3G di layar ponsel kerap muncul dan hilang seketika. Nah, untuk mengatasi belum ratanya penyebaran 3G, operator sejak lima tahun lalu telah mengimplementasi teknologi EDGE (Enhanced Data Rates for GSM Evolution). Hampir tiap operator selular kini menempatkan EDGE sebagai pelengkap layanan mobile internet broadband.

Sedikit mengingat, ada beberapa hal yang membuat EDGE menjadi primadona dalam implementasi jaringan. Diantaranya EDGE secara teori mampu dikebut hingga 384 Kbps. Investasi EDGE pun tak sebesar 3G, EDGE dapat beroperasi di rentang frekuensi yang sama dengan GSM, sebaliknya 3G butuh rentang frekuensi khusus dan operator harus membeli lisensi. Implementasi EDGE terbilang cepat, cukup upgrade software di jaringan yang tersedia. Antara teknologi 3G dan EDGE bisa berjalan seamless, bila sinyal 3G disuatu area ’keok’ maka otomatis langsung switch ke EDGE. Itu semua yang membuat EDGE terus diminati.

Bukti larisnya EDGE juga dinyatakan oleh lembaga riset In-Stat pada awal awal April 2009, disebutkan pasar BTS EDGE global mencapai lebih dari 40 persen di tahun 2008. Untuk pasar Indonesia, 80 persen pasar penjualan BTS dikuasasi segmen GPRS dan EDGE. Setelah lima tahun berjasa melayani akses internet operator, eksistensi EDGE tidak terlihat surut, justru dengan nilai ekonomisnya EDGE berusaha ditingkatkan kemampuannya oleh beberapa vendor yang tergabung dalam GSM Community.

Secara faktual bit rates EDGE yang dinikmati ke pelanggan baru mencapai 250 Kbps dengan latency 150 ms (mili second). Latency adalah waktu yang dibutuhkan data untuk melalui koneksi tertentu, atau dikenal juga dengan sebutan TTI (Transmission Time Interval). Nah, lewat terobosan baru yang dikenal lewat EDGE Evolution, disini performa dan kualitas EDGE ditingkatkan secara optimal. Vendor pelopornya adalah Ericsson dan Nokia Siemens Network (NSN). Tujuan EDGE Evolution yang masuk dalam standar 3GPP release 7 yakni meningkatkan kecepatan akses (bit rates) dan mengurangi TTI, sehingga akses internet mobile bisa dirasakan lebih cepat.

Perbandingan bit rates antara GPRS, EDGE standar dan EDGE Evolution
















Selain upgrade software, implementasi EDGE Evolution membutuhkan perangkat dual antenna dan tambahan time slot. Sebagai perbandingan EDGE standar saat ini mempunyai 5 time slot, sedang di EDGE evolution bakal menggunakan 10 time slot dan 12 MCS (Modulation and Coding Schemes). Alhasil EDGE Evolution secara teori mampu dikebut hingga bit rates 1 Mbps dengan optimalisasi pada elemen downlink, hal ini dapat tercapai antara lain berkat efisiensi spectrum dan pengurangan TTI sampai dibawah 80 ms. Dengan performa akses 1 Mbps, EDGE menjadi sangat handal melengkapi layanan 3G. Beragam layanan khas mobile broadband tentu begitu mudah dijalankan EDGE generasi baru ini, bahkan dalam rilisnya, Ericsson menyebut akses EDGE Evolution mampu tekoneksi dengan baik pada layanan ADSL hingga kecepatan 500 Kbps.

Sampai saat ini belum ada operator yang menggunakan EDGE Evolution secara komersial, tapi menurut berita di www.cellular-news.com, pada bulan September lalu EDGE Evolution telah dilakukan uji coba oleh operator di Cina, tapi sayang tidak disebutkan nama operator yang menjajal teknologi ini. Dengan keunggulan yang ditawarkan EDGE Evolution, rasanya pas untuk diadopsi oleh operator GSM di Indonesia untuk memperkuat kualitas jaringan EDGE yang kini sudah tersebar luas. (Haryo Adjie Nogo Seno)





17 Nov 2009

Transaksi Cepat dengan Voice Pay














Tidak perlu repot-repot datang ke toko atau membawa banyak uang serta kartu kredit, dengan kecanggihan teknologi transaksi pembayaran dapat dilakukan hanya dengan verifikasi suara lewat ponsel kapanpun



Berbelanja melalui internet memang mengasyikan. Kita tidak perlu bersusah payah datang ke toko untuk melihat-lihat dan membeli barang yang diinginkan. Hanya tinggal klik, barang yang kita inginkan diantar ke rumah atau kantor. Cara pembayaranpun sangat mudah, hanya dengan memasukkan nomor kartu kredit. Namun bagaimana jika kita sibuk dan tidak sempat untuk mengetik nomer kartu kredit yang lumayan banyak itu? Dan terkadang, pembayaran dengan kartu kredit melalui internet kurang aman. Salah-salah, bukannya barang yang dibeli yang diantar, melainkan setumpuk tagihan yang transaksinya tidak dilakukan oleh kita.

Berangkat dari pemikiran bahwa suatu hari nanti mobilitas di dunia akan semakin meningkat, sejalan dengan tidak dibutuhkan lagi keyboard pada suatu perangkat keras, Nick Ogden dari Inggris, yang pernah menemukan sistem pembayaran online kini menemukan suatu sistem pembayaran baru, yakni pembayaran dengan menggunakan suara.

Sistem pembayaran ini disebut Voice Pay. Dengan sistem ini, kita tidak perlu repot mengetik deretan angka-angka kartu kredit, sebab pembayaran dilakukan dengan suara melalui ponsel kita. Pertama-tama yang mesti dilakukan untuk menggunakan voice pay adalah membuat account melalu website www.voicepay.com. Proses membuat account sudah termasuk menghubungi nomer layanan voice pay dan memberikan print suara dengan menyebut sederet angka yang diperintahkan. Setelah selesai melakukan hal tersebut, print suara akan disimpan dan akan dikenali sebagai alat pembayaran yang autentik.

Sistem pembayaran ini tidak hanya dapat dilakukan jika sedang browsing toko online di internet. Saat melihat advetorial di televisi, majalah atau koran yang berlogo voice pay, pembayaran dengan suara dapat dilakukan. Ketika kita sudah memilih barang yang ingin dibeli, cukup menelpon nomer pelayanan voice pay dan memasukkan 6-9 digit kode barang, kemudian kita akan diminta untuk menyebutkan dua deret angka secara acak, jika suara cocok maka secara otomatis akan terhubung dengan account yang telah kita buat dan pembayaranpun selesai. Barang yang diinginkan akan diantar ke alamat yang telah didaftarkan. Dengan voice pay, tidak perlu lagi menghafal atau mengetik sederet angka pada kartu kredit. Dan voice pay menjamin semua informasi pribadi aman kerahasiaannya.

Sistem pembayaran voice pay menggunakan teknologi biometrik untuk menganalisa suara. Biometrik adalah metode untuk mengenali manusia berdasarakan bagian tubuh atau kelakuan manusia itu sendiri. Saat ini beberapa Bank sudah menggunakan sistem yang mirip dengan voice pay untuk mengenali pemegang accountnya. Namun Ross Anderson, professor dari Universitas Cambridge di Inggris mengatakan, berdasarkan pengalaman, menggunakan suara sebagai password tidak cukup aman. Apalagi jika diterapkan sebagai alat pembayaran.

Namun Vance Harris dari Voice Vault, perusahaan yang mengembangankan sistem voice pay di Dublin, menjamin bahwa sistem pembayaran ini aman digunakan. Voice pay dijamin berbeda dengan sistem verifikasi suara sebelumnya, sebab voice pay menggunakan sampel suara untuk membuat model kerongkongan dari orang yang bersangkutan. Biasanya verifikasi dengan suara hanya berdasarkan gelombang frekuensi dari suara orang tersebut, sehingga dirasa tidak cukup aman.

Setelah sebulan sistem ini diperkenalkan, Nick Ogden mengatakan bahwa sudah ada 120 ribu orang yang telah membuat account di www.voicepay.com. Namun mereka belum dapat menggunakan accountnya sampai pedagang atau perusahaan-perusahaan retail ikut berpastisipasi dan memasang logo voice pay pada barang dagangannya. (Haryo Adjie Nogo Seno & Dina PS)

(Ags07)

11 Nov 2009

Pesan Darurat lewat Intrasonics


















Butuh teknologi yang tepat untuk menghantarkan pesan darurat secara cepat. Intrasonics SLS menawarkan solusi merubah pesan audio menjadi teks dalam very local area. Mudah dalam penggelaran dan tak dibutuhkan hardware



Hadirnya sistem pesan darurat lewat media ponsel kini jadi tuntutan di banyak negara. Paska musibah tsunami di Aceh tahun 2004 lalu misalnya, operator selular dan badan pengawas bencana mulai menggiatkan sistem informasi peringatan dini lewat metode SMS broadcast. Namun seiring perkembangan, desain pesan darurat (emergency messaging) sudah harus disiapkan untuk tak lagi bergantung pada jaringan selular yang eksis. Sebab jaringan selular kerap mengalami load trafik tinggi, bahkan down network di saat bencana, pada akhirnya banyak konsumen tak bisa mengakses komunikasi. Ini terbukti saat terjadi bom Bali dan bom di Kuningan di Jakarta.




Menyiasati fenomena lemahnya jaringan selular, di Inggris dikembangkan sistem emergency messaging dengan audio messaging system. Teknologi ini disebut Intrasonic Sound and Sync (SLS), hasil pengembangan Generics (Sagenta Group), sebuah perusahaan elektronik yang bermarkas di Cambridge – Inggris. Kemunculan SLS sendiri terinspirasi dari kejadian pemboman pada tiga stasiun bawah tanah di kota London tahun 2005 yang menewasakan lebih dari 50 orang sipil. SLS punya karakter unik, dirancang sebagai penghantar pesan untuk very local area, seperti stasiun bawah tanah dan di ruang dalam kereta. Pesan yang dihantarkan berasal dari audio stream. Jalur transmisi SLS memakai broadcast TV, radio dan PA (public address) systems, tak ada kaitan dengan koneksi sistem radio selular. Meski pesan SLS ditujukan untuk diterima lewat ponsel.



Lalu bagaimana cara kerja pesan darurat ini? Intrasonics SLS akan mulai bekerja saat seorang pengguna ponsel masuk ke area sistem transportasi. Terlebih dahulu pengguna harus mengirim informasi link embedded. Transmisi data dikirim lewat audio strean melewati kode PA sistem yang ada di stasiun. Data yang dikirim tak diubah untuk sistem kompresi dan audio code nya. Transmisi audio SLS dipancarkan ke ponsel dari loudspeaker, bisa berasal dari radio, TV, shopping mal dan stasiun kereta. Pancaran pesan tersebut kemudian diterima oleh sensor mikrofon di ponsel, lalu pesan suara diolah sebagai pesan teks yang bisa dibaca pada layar ponsel. Meski audio message dipancarkan lewat loudspeaker, pancaran suara yang diterima mikrofon bersifat tersembunyi, alias tak terdengar oleh kuping manusia.

Selanjutnya software SLS mampu menampilan teks pesan darurat ke dalam bahasa yang digunakan oleh masing-masing ponsel, walau audio message yang di transmisikan memakai bahasa Inggris. Ini yang menjadikan teknologi SLS sangat pas jika digunakan para pelancong asing. Apalagi pesan bisa di set ke dalam bentuk peringatan getar. Kemampuan ini menjadikan Intrasonics SLS pas bila diadopsi oleh penderita tuna rungu. Pesan darurat yang didapatkan pun bisa langsung diteruskan ke penumpang lain yang tak memiliki software SLS.



Kebolehan teknologi ini akhirnya dilirik operator NTT DoCoMo dari Jepang. Di Jepang sistem transportasi bawah tanah sudah sangat maju. Jepang pun pernah menghadapi serangan teroris lewat gas beracun, juga di stasiun bawah tanah. Pihak NTT DoCoMo beranggapan SLS cukup baik untuk memberi pengarahan di saat genting tanpa membuat orang panik. Gelar teknologi ini juga tak seberapa mahal, tak diperlukan hardware di sisi pengguna. Secara keseluruhan untuk bisa mengaplikasikan sistem Intrasonics dibutuhkan komponen link listener, link maker dan choreographer.

Link listener tak lain adalah pengguna ponsel yang menerima audio message, ponsel dilengkapi software SLS. Saat ini software SLS baru dirancang untuk ponsel Symbian, nantinya pengguna bisa melalukan download over the air. Link maker yakni pengelola web server, bertugas mengatur link yang yang masuk dari user tentang destination address. Kemudian choreographer, bertugas melakukan pengkodean pesan yang akan disampaikan ke dalam media link intrasonics, kemudian pesan akan diteruskan ke speaker-speaker di spot (lokasi) terjadinya potensi ancaman dan bencana. (Haryo Adjie Nogo Seno)

(Ags07)