Tampilkan postingan dengan label Jurnal Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Bisnis. Tampilkan semua postingan

15 Jul 2010

Pilihan Alternatif Tarif Mobile Data














Diluar time based dan volume based, operator masih punya beberapa jurus alternatif untuk menawarkan layanan data yang lebih menarik ke pelanggan



Pengguna layanan mobile data 3G di Tanah Air dipastikan bakal melonjak pesat di tahun ini. Indikatornya semakin banyak perangkat dengan kemampuan mobile 3G yang ditawarkan ke pasar. Ikon 3G tak cuma didominasi oleh segmen ponsel pintar, 3G saat kini begitu populer dalam wujud modem (dongle) USB yang dipasangkan pada PC/laptop. Target pasar mobile data 3G pun kini mayoritas diarahkan pada pengguna pra bayar, hampir tiap operator jika dicermati menawarkan paket mobile data pra bayar dengan tarif murah, lengkap dengan modem.

Imbasnya kompetisi antar operator penyedia mobile data 3G terlihat sengit, secara periodik masyarakat disuguhkan tawaran modem yang kian turun harga dan tarif akses unlimited ekstra murah. Fenomena pemasaran ini tak hanya dirasakan di Indonesia, di India dan Cina ada gejala yang serupa. Laporan lembaga riset Morgan Stanley pada tahun lalu memprediksi penetrasi mobile data 3G di tahun ini mencapai 21% secara global dengan jumlah pengguna 1.055.000. Ini terlihat meningkat drastis dari tingkat penetrasi di tahun 2009 yang hanya 15% dengan jumlah pengguna 688.000.

Kalangan operator tentu gembira dengan peningkatan jumlah pelanggan, tapi disisi lain biaya operasional juga meningkat. Hal inilah yang menjadi tantangan buat operator, apalagi dengan penetapan tarif data yang murah berimbas pada kecilnya jumlah ARPU (Average Revenue Per User). Nah, untuk menjembatani antara kepentingan konsumen dan operator, perlu ada inovasi kreatif dalam menyajikan konsep layanan dan tarif mobile data. Terkait paket tarif layanan, umumnya operator menyajikan dua pilihan layanan, yakni time based dan volume based.

Dengan ketatnya persaingan, muncul modifikasi dalam pola tarif. Contohnya produk Mobi dari Mobile-8 menyajikan tarif unlimited dengan downgrade kecepatan akses saat melampaui kapasitas tertentu. Lain dari itu, masih ada beberapa inovasi penetapan tarif yang unik di beberapa operator luar negeri. Lembaga Riset Morgan Stanley membagi inovasi tarif dalam speed rated, bandwidth usage and application specific, time of day, location based service models, ad funded solutions, dan mobile commerce driven. Beberapa pola tarif ini bukan tak mungkin diadaptasi di Indonesia, mengingat persaingan yang ketat, apapun bisa terjadi. (Haryo Adjie Nogo Seno)



Speed Rated
Operator memberlakukan tarif berdasar kecepatan yang ditawarkan. Hal ini pertama kali diperkenalkan operator Elisa di Finlandia dan Tele2 di Swedia. Umumnya speed rated dipadukan dengan pola tarif bulanan unlimited. Di Indonesia beberapa operator sudah mengadopsi cara ini.

Bandwidth Usage and Application Specific
Operator memberlakukan tarif berdasar bandwidth (kapasitas maksimal) yang digunakan, pola ini biasa ditawarkan untuk segmen korporat. Lebih update lagi Application Specific, disini operator akan men-charge tarif berdasarkan pilihan aplikasi tertentu. Dalam hal ini operator perlu menyiapkan intelligent network yang memadai.

Time of Day
Operator memberi pilihan paket tarif akses berdasar waktu/jam tertentu. Semisal tarif akses sore/malam hari dan akhir pekan lebih murah daripada tarif akses di siang hari atau hari kerja. Hal ini bermanfaat untuk mengatur peak load trafik data. Di Indonesia baru ada pilihan akses mobile data pra bayar per hari (24 jam).

Location Based Service Models
Operator menetapkan tarif akses berdasar area, semisal di area urban tarif akses mobile data dikenakan lebih tinggi dibanding area rural. Hal ini berguna untuk mengatur trafik data dan lebih meningkatkan kualitas layanan. Pola ini sudah diaplikasi di London, Inggris di beberapa lokasi strategis.

Ad Funded Solutions
Tumbuhnya mobile advertising disambut antusias kalangan operator sebagai solusi peningkat revenue. Lewat identifikasi pelanggan yang, pihak pelanggan juga bisa diuntungkan dengan beragam tawaran layanan khusus, termasuk tarif subsisdi didalamnya.

Mobile Commerce Driven
Bangkitnya industri konten membuat operator mampu menghadirkan ekosistem layanan. Dengan beragam kerjasama antar konten developer dan vendor membuat tarif layanan lebih kompetitif. Hal ini terbukti sukses di Jepang, operator NTT DoCoMo menggandeng Yahoo untuk konten, layanan, dan mobile advertising.




27 Jun 2010

Peta Kompetisi Mobile Browser di Indonesia



















Orientasi layanan mobile broadband terkait erat dengan performa browser yang ada di dalam ponsel. Di Indonesia pun pasar mobile browser tumbuh subur dengan kompetisi yang ketat



Sebuah penelitian dari NSN (Nokia Siemens Network) pada akhir tahun lalu menyebutkan, bahwa tingkat kepuasan layanan mobile broadband 22% lebih rendah dibandingkan dengan layanan fixed broadband. Menurut hasil penelitian tersebut, hal ini bukan karena bentuk perangkat, tapi karena isu kecepatan unduh dan unggah yang lebih rendah. Penelitian ini melibatkan 11.000 responden di 15 negara, termasuk Indonesia.

Berangkat dari hasil penelitian tadi, jelas sebuah pekerjaan rumah bagi operator untuk terus meningkatkan kualitas layanan mobile broadband. Salah satunya cara yang bisa dilakukan yakni dengan implementasi browser yang lebih efisien dalam konsumsi trafik data. Operator sebagai penyedia layanan tentu berharap mendapat solusi browser yang handal di sisi server. Contohnya terobosan dalam teknologi gateway browsing yang bisa mengurangi ukuran pengunduhan file hingga 90% tanpa mempengaruhi kualitas gambar yang terlihat, dan secara signifikan meningkatkan kecepatan browsing.

Tapi disisi lain, kualitas layanan mobile broadband juga erat kaitannya dengan aplikasi browser di dalam ponsel. Pasar mobile browser pun tak bisa dibilang sepi, kini setidaknya ada puluhan aplikasi browser yang ada di pasaran, baik yang sifatnya proprietary dan bebas unduh. Opera Mini menjadi salah satu bukti suksesnya sebuah aplikasi mobile browser. Pengguna Opera Mini kini telah tembus sampai angka diatas 50 juta user. Kepopuleran Opera Mini tak lepas dari kemudahan aplikasi dalam mendukung ponsel berbasis Java. Versi Opera Mini terbaru pun menggadang kemampuan kompresi data hingga 90%.

Pasar Indonesia yang kini tengah gandrung pada ponsel Cina juga turut meningkatkan populasi Opera Mini, sebab hampir tiap ponsel Cina mengusung Opera Mini yang bebas diunduh tanpa beban lisensi. Menurut laporan dari Opera Software di awal tahun ini, Indonesia adalah pasar pengguna Opera Mini terbesar di kawasan Asia Tengga, pengguna Opera Mini di Indonesia untuk page-view bertumbuh sebesar 641,7%, sedangkan untuk unique-user bertumbuh sebesar 419,7%.

Pentingnya elemen mobile browser juga berimbas pada strategi yang dilakukan vendor-vendor besar. Setelah Apple yang memilliki Safari browser, Windows Mobile dengan Internet Explorer, kini giliran Nokia yang mengakuisisi penyedia browser bernama Novarra. Pembelian ini dilakukan Nokia sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan penjelajahan internet di ponsel-ponsel besutan Nokia, khusunya ponsel untuk segmen low-end dan mid-range.
















Serunya pertarungan pasar mobile browser di Tanah Air juga dipandang menarik, menurut informasi dari situs http://gs.statcounter.com/ yang diperoleh antara periode 9 Maret hingga 10 April 2010, Opera mobile browser memang menjadi mayoritas tunggal untuk pasar mobile browser di Indonesia. Seperti terlihat pada grafik, Opera mendekati populasi 78,43%, posisi kedua ditempati Nokia browser dengan 14,82%, dan posisi ketiga adalah NetFront browser 5%. Sesuai pertumbuhan penggunanya yang pesat, BlackBerry browser menempati posisi keempat dengan 2,08%. (Haryo Adjie Nogo Seno)

25 Mar 2010

Mengintip Model Bisnis Aplikasi Operator














Kini eranya serba bundling, tak hanya bundling produk, layanan aplikasi pun dibungkus dalam skema tarif bundling yang memikat. Operator untung, pelanggan juga puas



Dampak krisis ekonomi tentu dirasakan langsung operator, dimana daya beli pelanggan menurun yang berimbas pada belanja pulsa, dan ujung-ujungnya ARPU (average revenue per user) operator stagnan, bahkan cenderung turun. Padahal disisi lain, biaya investasi dan beban operasional terus meningkat akibat inflasi global.

Tentu operator punya beragam strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatan, salah satunya dengan mengoptimalkan value addes service business model. Dalam perspektif ini bisa dilihat kaitan kerjasama antara operator, CP (content provider) dan bundling produk. Bundling produk terbilang paling laris saat ini, hampir semua vendor ponsel dan CP saling giat untuk merapat di jalur bundling, terutama dengan operator selular kelas atas.











Ada beragam tipe bundling, seperti bundling produk, bundling layanan, dan bundling produk plus layanan. Contoh paling populer seperti skema paket BlackBerry, dimana mencakup bundling produk dan layanan secara terpadu. Kini operator umumnya mendorong bundling yang mampu menggiatkan trafik data. Untuk itu tiap bundling produk disertai paket aplikasi. Menurut informasi dari white paper Ericsson ”Unlocking The Value of Operator Assets” yang dirilis bulan Oktober 2009, terdapat 3 model bisnis yang bisa dilakukan operator terkait aplikasi. Pilihan model bisnis diantaranya adalah market centric, operator centric, dan device centric.

Bila diperhatikan pada tabel, model market centric adalah yang paling populer diterapkan di dunia, dan juga di Tanah Air. Alasannya sederhana, market centric paling banyak menghasilkan keuntungan. Pada market centric terdapat peran agregator sebagai pengumpul lisensi konten. Berkat adanya agregator atau disebut juga broker, operator lebih mudah mengatur pola kerjasama dengan CP. Hal ini umum dijumpai dalam pemasaran konten berupa game dan SMS premium. Singkat kata di model ini operator dan agregator membuat sebuah ekosistem layanan yang bisa digunakan lintas operator dan jenis ponsel.

Ada lagi yang lebih canggih, CP yang menciptakan aplikasi gabungan. Salah satunya yang terkenal dari dalam negeri adalah Mobinity. Aplikasi ini menyajikan paduan layanan mulai dari jejaring sosial, update berita, dan chatting. ”Kini sedang tren aplikasi chat dan jejaring sosial, selain ada agregator juga dikenal istilah integrator, di integrator peran CP hanya mengumpulkan beberapa channel, contohnya seperti eBuddy, Palringo, dan Mig33 yang menyediakan multi akun chatting,” ujar Antonius Aditya, praktisi dan developer dari Yogyakarta. Menurut Aditya, konsep aplikasi integrator cocok untuk CP baru guna menarik pelanggan dalam jumlah besar.

Model bisnis kedua, operator centric. Disini aplikasi hanya dirancang untuk berjalan di operator tertentu tapi dapat berjalan lintas merek ponsel. Contoh pada aplikasi embedded, seperti I-go Indosat, My Pulau dan Chatbox Telkomsel. Operator disini mendapat keuntungan lebih sedikit dibanding market centric, sebab hanya berperan sebagai reseller.

Dan model bisnis ketiga, device centric, pada model ini aplikasi hanya berjalan untuk sebuah merek ponsel. Contohnya BlackBerry messenger, Nokia messenger, dan Esia Messenger. Pada model ini operator mendapat keuntungan paling sedikit, sebab peran operator sebatas penyedia jaringan mobile broadband.

Diperkirakan 3 model bisnis aplikasi ini akan terus berkembang sesuai porsi pasarnya. Selain operator yang tak ingin kapasitas jaringannya idle, pihak vendor jaringan nyatanya terus gencar menawarkan solusi teknologi dan pinjaman dana ke operator guna pengembangan aplikasi. (Haryo Adjie Nogo Seno)

4 Feb 2010

Jadi Yang Tercepat di Jalur HSPA+















Guna menjadi yang terdepan di layanan mobile broadband, Indosat dan Telkomsel mulai pasang kuda-kuda menyiapkan jaringan super cepat HSPA+



Kian dinamisnya layanan operator tak terlepas dari keberadaan elemen bandwidth. Dengan memiliki bandwidth yang besar, setiap operator mampu menghadirkan layanan berkualitas broadband bagi pelanggannya. Ambil contoh bandwidth 5 Mhz yang dialokasikan bagi operator pengusung layanan 3G. Bandwidth ialah nilai kotor kapasitas maksimal sebuah jaringan. Semakin besar kapasitas yang dimiliki, membuka peluang seluas-luasnya bari operator untuk menghadirkan konten data berkecepatan tinggi.

Pada kenyataan saat ini, operator 3G dengan bekal alokasi bandwidth 5 Mhz merasa kian ”sesak” akibat permintaan kebutuhan akses data yang meningkat tajam. Untuk itu operator berlomba guna mendapat alokasi bandwidth 5 Mhz tambahan dari regulator. Hingga akhirnya operator bisa menggenapkan bandwidth yang dimiliki menjadi 10 Mhz pada frekuensi 2100 Mhz. Dengan bandwidth 10 Mhz, operator tak hanya menggadang teknologi akses 3G dan 3,5G/HSDPA (high speed downlik packet access), lebih dari itu bisa dialokasikan bagi penggunaan teknologi HSPA+ (evolved high speed packet access). Dengan HSPA+, secara teori dapat disalurkan kecepatan akses data hingga 21 Mbps, jauh lebih cepat ketimbang HSDPA yang kecepatan akses datanya 7,2 Mbps dan 14,4 Mbps.




Nah, layaknya nostalgia diawal peluncuran 3G di tahun 2006, dua operator besar di Tanah Air kembali berkompetisi untuk saling adu cepat menggelontorkan HSPA+ ke pasar. Adalah Telkomsel dan Indosat, dua operator ini pada bulan September lalu telah mendapat tambahan bandwidth 5 Mhz, lewat tambahan bandwidth, dua operator tampil percaya diri untuk pasang kuda-kuda untuk menggelar HSPA+. Ini dibuktikan pada awal November lalu, dalam selang beberapa hari dua operator ini saling unjuk demo akselerasi HSPA+ di Jakarta.

Untuk gelar HSPA+, Telkomsel menggandeng vendor jaringan Huawei, sedang Indosat menggandeng vendor Ericsson. Kedua operator mempersiapkan HSPA+ sebagai akses andalan paket layanan mobile broadband, seperti Next Generation Flash, paket Matrix data, dan layanan IM2. Indosat sampai akhir tahun ini mentargetkan up grade 1500 BTS 3G (node B) di kawasan Jabodetabek. Sedang Telkomsel menyatakan HSPA+ telah tersedia di area Jakarta, dan sampai akhir tahun bakal hadir di Yogyakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya. Untuk Jakarta, HSPA+ Telkomsel baru tersedia di kawasan Jakarta Selatan.

Hadirnya teknologi ini tentu tak lepas dari capex (capital expenditure) atau biaya belanja modal. ”Kami mengalokasikan Rp 1,3 trilyun dari total Capex Rp 13 trilyun di tahun ini untuk pengembangan teknologi HSPA+,” ujar Sarwoto Atmosutarno, Direktur Utama Telkomsel. Sedangkan Guntur Siboro, Direktur Pemasaran Indosat menyatakan, ”Capex untuk HSPA+ terbilang kecil, tapi untuk mendukung teknologi ini diperlukan peningkatan pada sisi backbone dan core, sehingga sulit untuk mengurai Capex HSPA+. Mengingat backbone dan core juga dipakai untuk teknologi lain,” kata Guntur. Pada sisi BTS 3G hanya diperlukan up grade software untuk menambahkan fitur baru.

Seperti diuraikan diatas, untuk menggelar HSPA+ operator harus memperoleh tambahan bandwidth. Nah, untuk ini tentu diperlukan biaya yang tak murah, paling tidak operator harus merogoh kocek Rp 160 milyar untuk tambahan 5 Mhz 3G yang dibayarkan kepada pemerintah. Sejatinya operator 3G mengambil bandwidth tambahan guna mendukung pengembangan layanan. Selain Telkomsel dan Indosat, XL dikabarkan juga berminat untuk membeli tambahan bandwidth di tahun depan. Bisa diperkirakan peta pertarungan mobile broadband bakal meningkat tajam. Ditambah rencana Telkomsel untuk menggelar demo LTE (long term evolution) di pertengahan tahun depan, lewat LTE bisa disalurkan akses downlink mobile broadband sampai 100 Mbps.

Saat ini perangkat pendukung HSPA+ memang belum tersedia banyak di pasaran, sebagian besar masih berwujud modem USB yang dipasok oleh Huawei, Sierra Wireless, Novatell, ZTE, Picochip, dan Ovation. Menanggapi terbatasnya perangkat, Guntur Siboro menyatakan, ”tidak usah khawatir soal perangkat yang terbatas, bila operator makin banyak yang mengadopsi HSPA+, otomatis vendor akan mulai menawarkan perangkat dalam beragam variasi, termasuk di ponsel,” ungkap Guntur. Hingga kini HSPA+ telah digelar oleh 28 operator di 20 negara. (Haryo Adjie Nogo Seno)

1 Des 2009

Bundling 3G Murah Asli Cina




















Lama dinanti, akhirnya muncul juga ponsel 3G besutan Cina dalam wujud bundling. Harga jual yang murah menjadi pemikat, disamping skema bisnis jaringan dibelakangnya



Pasar ponsel Tanah Air ibarat kata sedang dihujani produk merek lokal yang aslinya buatan Cina. Beragam desain dan fitur unik yang tak digarap serius vendor global disajikan begitu lugas, sebut saja mulai dari TV tuner, dual on, bluetooth stereo sampai pada tren menjamurnya ponsel lokal asli Cina yang berdesain ala Berry. Khusus untuk kelas ponsel ala Berry kini lebih hebat lagi dengan sajian fitur WiFi dan document viewer. Singkat kata, apa yang diminta pasar, pabrikan dari Cina selalu siap menyediakan.

Tapi nyatanya tak semua batasan fitur bisa ditembus, buktinya tak satupun vendor merek lokal yang hingga kini menawarkan fitur 3G. Tentu dengan 3G, tak cuma video call yang bisa dinikmati, tapi koneksi data berkecepatan tinggi juga terasa lebih afdol untuk keperluan browsing. Beberapa sumber dari vendor lokal menyebutkan, teknologi 3G kini belum tersedia untuk kelas ponsel Cina. Jadilah market ponsel asal Cina di Indonesia hanya berkutat di lingkup teknologi 2G.

Pendapat soal keterbatasan ponsel Cina boleh jadi telah gugur, tepatnya setelah dua vendor global dari Cina – Huawei dan ZTE – meluncurkan resmi ponsel 3G untuk pasar Tanah Air. Ponsel 3G yang diluncurkan juga bukan bergenre multimedia kelas atas, melainkan ponsel 3G low cost dengan harga bandrol dibawah Rp 1 juta. Huawei dengan tipe U1280 ditawarkan dalam paket IM3 Groove Indosat dan ZTE dengan tipe F188 ditawarkan dalam paket kartu Telkomsel. Yang lebih menarik, kedua ponsel dijual hanya seharga Rp 888 ribu, padahal fitur dan fasilitasnya berada di range segmen kelas menengah. Selain 3G video call, ada bekal kamera 2 Mpix, bluetooth stereo, support MicroSD sampai 8GB dan mendukung koneksi Microsoft Windows.

Dari segi harga jual kedua ponsel sangat atraktif, sebab ponsel low cost 3G yang ditawarkan pertama di Indonesia oleh LG dan Motorola harganya masih diatas Rp 1 juta. Lalu apakah ada subsidi dari operator? “Untuk bundling ini sama sekali tidak ada subsidi dari operator dan ponsel tidak di lock kartu SIM-nya,” ujar Yunny Christine, Brand Manager PT. Huawei Tech Investment. Pihak ZTE juga menyatakan hal serupa, ”walau produk kami menggunakan lock kartu SIM Telkomsel, tidak ada bentuk subsidi dari operator,” kata Willy Kurniadi, Account Manager Terminal PT. ZTE Indonesia.

Huawei dan ZTE juga tak tergabung dalam proyek ”3G For All” yang digagas oleh GSM Association (GSMA). Lalu mengapa bisa sedemikian murah? Jawaban dari pihak Huawei dan ZTE senada, yakni teknologi pembuatan ponsel 3G sudah tersedia cukup murah dan kedua vendor mempunyai pabrikan sendiri. Meski hadirnya dua ponsel 3G murah ini tak berbau subsidi operator, tapi perlu dicatat kedua vendor bisnis utamanya bukan berjualan ponsel, melainkan solusi teknologi jaringan 2G dan 3G GSM/CDMA. Beberapa operator di Tanah Air tak sedikit yang telah memakai jasa teknologi jaringan dari kedua vendor ini. Semisal solusi jaringan Huawei kini sudah digunakan luas oleh Telkomsel, Indosat, XL, Axis dan Bakrie Telecom.

”Untuk saat ini pola penjualan ponsel bundling lebih sebagai pelengkap bisnis, utamanya kami fokus pada penjualan solusi jaringan,” ujar Yunny. Maka tak heran operator yang menjadi mitra bundling, semuanya adalah pengguna solusi teknologi jaringan Huawei. Pola ini juga berlaku untuk pasar global, baik produk Huawei dan ZTE lebih dominan dijual dengan bundling. Selain menawarkan ponsel, bundling juga cukup popular dalam bentuk modem 3G.

Dengan penguasaan teknologi yang tinggi, roadmap produk yang beragam dan kapasitas produksi yang besar. Muncul pertanyaan, mengapa kedua vendor terkesan tak berani berlaga menjual ponsel langsung ke pasar? Padahal merek kedua vendor sudah cukup dikenal. Jawaban dari Yunny dan Willy lagi-lagi serupa, untuk terjun ke penjualan langsung diperlukan survei yang mendalam dan kesiapan investasi yang besar, seperti pembentukan divisi penjualan dan distribusi. ”Hasil survei kami saat ini mengindikasikan lebih tepat untuk menjual produk lewat bundling, buktinya kini semua vendor memang mengarah ke bundling,” ujar Willy.

Kedua vendor berdalih memilih kemitraan dan pelayanan jangka panjang dalam payung bundling operator. Dengan bundling ke operator, setidaknya elemen distrubusi tak menjadi urusan vendor. Tapi kedepan, baik Huawei dan ZTE tak menepis kemungkinan akan menjual produk secara langsung. Khusus ZTE beberapa tahun lalu sempat menjual dua produk dual on GSM CDMA secara langsung, tapi kemudian tak terdengar kabar beritanya lagi. (Haryo Adjie Nogo Seno)

22 Okt 2009

Lagi, Angin Segar dari BlackBerry





















Hadirnya BlackBerry benar-benar membawa pengaruh kuat, setelah deman ponsel lokal yang ”mendadak Bery”, kini silicon case ala BlackBerry juga tengah menjamur dimana-mana


Riuhnya penjualan BlackBerry (BB) membawa dampak yang positif pada segmen akserosis. Dari sekian banyak tipe aksesoris BB, produk silicon case (SC) atau sarung karet terbilang yang paling laris dalam penjualan. Sejak awal, bahkan sebelum ponsel BB ngetop seperti saat ini, sebenarnya aksesoris SC di BB sudah identik dan pada akhirnya mampu membawa pengaruh sebagai tren aksesoris di kelas ponsel QWERTY pada khususnya.

Terkait hal ini, pasar konsumen di Tanah Air kini sedang gandrung pada sosok ponsel QWERTY ala BB dari Cina. Setelah vendor merek lokal Nexian untuk pertama kali ’meniupkan’ ponsel QWERTY, berikutnya serasa beruntun hadir ponsel-ponsel QWERTY yang diluncurkan oleh belasan vendor merek lokal. Walau desain BB asli dan ponsel yang ”mendadak Berry” nyaris serupa, tapi orang pun sadar, dari segi harga dan performa keduanya ibarat beda antara bumi dan langit. Sadar akan realita tersebut, tak lantas kelas ponsel ”mendadak Berry” jadi mati gaya.

Beragam terobosan digiatkan guna mendongkrak pamor ponsel QWERTY lokal, seperti Nexian yang memplopori penawaran SC untuk seri NX-G900, ponsel ini adalah ponsel QWERTY merek lokal pertama yang dijual lewat bundling dengan operator XL. ”Kami tak menjual sebagai paket dengan bundling dari XL, tapi lebih fokus sebagai aksesoris guna mengikuti tren SC sebagai pelindung ponsel,” ujar Martono Jaya Kusuma, Presiden Direktur PT. Metrotech Jaya Komunika, perusahaan prinsipal ponsel Nexian. Silcon case Nexian dalam aneka warna kini ditawarkan terpisah dengan harga Rp 50.000 per buah.

Setelah Nexian, giliran HT Mobile lewat seri G30 juga menawarkan aksesoris SC di dalam dus paket penjualan. Sayang SC yang disediakan baru sebatas warna merah dan hitam. ”Tapi sebenarnya kami sudah siapkan pilihan warna lain termasuk kuning, biru, merah muda dan hijau. Tapi karena paketnya cuma dua, seolah hanya dua warna saja dan kami tak menjual terpisah,” ujar Nuramin, General Manager HT Mobile. Soal kualitas, diakui Nuramin SC HT memang masih terlalu tipis, tapi sekitar bulan Oktober akan ditawarkan SC dengan kualitas yang jauh lebih baik. Laris manisnya penjualan ponsel ”mendadak Berry” juga direspon para penjual aksesoris. Salah satunya diakui Akiong dari Toko ”Sumber” di ITC Roxy Mas, Jakarta. ”Untuk saat ini tipe SC model BlackBerry dan Nexian terbilang paling laris, ” ujar Akiong yang menjual SC Nexian seharga Rp 40.000 per buah.

Maraknya Silcon case QWERTY ala ”BlackBerry” rupanya juga ditanggapi oleh vendor ponsel papan atas. Contohnya Samsung Mobile kini menawarkan promo SC di dalam paket jual seri C6625. Sama dengan HT G30, paket C6625 juga dilengkapi dengan dua pilihan warna SC, yakni biru dan putih. ”Soal warna tentu kami sadar selera tiap orang pasti berbeda, tapi kami berusaha mencari warna netral sesuai dengan warna ponselnya,” ujar Adinda Nesvia, Product Marketing Mobile Phone PT. Samsung Electronics Indonesia. SC untuk C6625 khusus di impor dari Hong Kong, dan menurut rencana tidak akan dijual secara terpisah.

Aksesoris Terlaris
Minat pasar yang tinggi pada silicon case bergaya BB juga diungkapkan oleh vendor aksesoris merek nasional. Seperti dijelaskan Jeffry Lunardi, pemilik merek aksesoris Wellcomm yang menyebutkan, SC BB paling banyak diminati karena unsur corak warna yang beragam, sehingga membuat penampilan BB jadi lucu dan menarik. ”Dalam satu bulan pihak kami dapat memasarkan lebih dari 30.000 SC BB ke beragam jaringan outlet, itu belum termasuk aksesoris BB lainnya,” ungkap Jeffry Lunardi kepada Essi Ered dari SELULAR. Hal senada juga dikatakan Dery Lukman, pemilik merek aksesoris Lexus, ”walau belum ada survei tingkat penjualan per bulan, kami merasa respon pasar untuk SC model BB sangat besar, untuk itu kami memberi pilihan harga yang bergantung pada kualitas, mulai dari Rp 20.000 – Rp 100.000, semakin baik kualitas dan ketebalannya, maka harga juga lebih tinggi. Agar lebih tepat sasaran, kami fokuskan penjualan pada wilayah-wilayah dengan komunitas pengguna BB terbesar, ” ujar Dery.
(Sep09)

5 Okt 2009

Pat Gulipat Bisnis BlackBerry




















Setelah mengenal kecanggihan layanan BlackBerry. Sisi bisnis BlackBerry juga menarik untuk disimak, selain kompetisi yang ketat, kebijakan migrasi layanan antar operator juga harus diperhatikan


Tak hanya berevolusi dalam soal desain, BlackBerry juga berkembang cepat dalam sistem penjualan, seiring perkembangan dan perluasan target pasar, BlackBerry kini ditawarkan dalam dua platform, paska dan prabayar. Tiga operator, mulai dari Telkomsel, Indosat dan XL kini menawarkan dua sistem billing. Ditambah yang terbaru Axis yang juga menawarkan billing BlackBerry prabayar. Demam BlackBerry pun melanda banyak kalangan, bisa jadi efeknya sama dasyat kala demam melanda di era Communicator. Tapi ada nuansa beda antara BlackBerry dengan Communicator, ini tak lain pasar BlackBerry secara langsung terkait dan terlibat eksklusif dengan akses tiap operator.

Meski operator menjual BlackBery dalam paket bundling, sejatinya nafas operator bukan dari berjualan handset, paket bundling ditujukan lebih untuk memacu pertumbuhan pelanggan baru. Kemudian untuk memperluas jaringan penjualan, operator bekerjasama dengan mitra lima distributor nasional, seperti Trikomsel, E-motion, MLW Telecom, Distribusi Voucher Nusantara, dan Erafone. Sedang untuk impor produk, operator menunjuk appointed buyer guna melakukan pembelian dan impor atas nama operator ke pihak RIM (Research in Motion)

Selain pola penjualan lewat distributor resmi, ponsel BlackBerry juga bisa didapat lewat sistem unlock, biasa dikenal dengan produk BM (black market). Maklum karena permintaan tinggi, ponsel BlackBerry banyak masuk ke Indonesia dengan dibawa dari luar negeri secara tak resmi. Rata-rata dalam keadaan terkunci, sebab di negeri asalnya si ponsel juga dilego dalam paket lock bundling operator. Saat ini sekalipun BM, tetap diberikan label postel lengkap dengan buku manual berbahasa Indonesia dan kartu garansi. Semuanya dibuat oleh pihak importir.

Fenomena persaingan bisnis BlackBerry tergolong gurih, saat ini diperkirakan pengguna layanan BlackBerry di seluruh Indonesia dari empat operator penyedia mencapai 400 ribu, mayoritas di dominasi segmen paskabayar. Untuk melebarkan pasar dan meraih target pelanggan baru, operator mau tak mau harus melibatkan BlackBerry ke pasar prabayar. Jadilah kemudian beberapa tawaran billing BlackBerry yang ”unik” khas prabayar, seperti denominasi voucher mulai dari bulanan, mingguan, bahkan yang terbaru XL menawarkan billing harian.

Setiap operator mempunyai kesamaan tujuan dalam menjual BlackBerry prabayar, ”Idenya dengan konsep prabayar, pelanggan bisa lebih mudah dan cepat untuk registrasi, tidak perlu dokumen apapun seperti halnya paskabayar dan bisa berhenti kapan saja”, kata Handono Warih, Manager BlackBerry dan Internet XL. Terjunnnya BlackBerry ke pasar sachet prabayar membuat layanan ini juga lebih bisa diterima secara massal. Meski tiap operator resminya tak punya niatan, pangsa prabayar sebenarnya kecipratan dampak postif dari membanjirnya ponsel BlackBerry BM. Bagi yang punya ponsel BM bisa dengan cepat menikmati layanan BlackBerry prabayar.

Setelah tarif layanan BlackBerry terlihat lebih murah dengan skema prabayar, lantas apakah masih ada tantangan dalam ekspansi pasar? Menurut Warih, satu-satunya tantantan saat ini adalah harga ponsel yang relatif masih mahal, buat operator hal harus dipecahkan kedepan, mengigat tarif mungkin pas buat kalangan mahasiswa, tapi dari sisi ponsel yang masih mahal juga jadi batu sandungan.

Operator juga punya target dalam pencapaian jumlah pelanggan, biasanya dikur dalam satu tahun. Bahkan saking larisnya permintaan BlackBerry, sebuah sumber menyebut adanya sistem kuota akun BlackBerry untuk tiap operator. Meski hal ini disanggah, tiap operator nyatanya berusaha keras untuk mempertahankan pelanggan BlackBerry yang eksis, walau sebenarnya dimungkinkan untuk melakukan migrasi bila kualitas layanan operator yang digunakan kurang baik.

Migrasi Layanan BlackBerry? Mengapa Tidak

Tentu tak ada operator yang ingin kehilangan pelanggannya, begitu pula dalam ranah kompetisi operator BlackBerry di Indonesia. Dengan pelanggan yang digolongkan sebagai premium user bisa dipastikan tiap operator akan berusaha mati-matian untuk mempertahankan pelanggan BlackBerry. Dalam jagad penggunaan layanan BlackBerry, setiap pelanggan di suatu operator bisa dimungkinkan untuk berpindah ke lain operator, maksudnya dengan mempertahankan akun BIS (BlackBerry Internet Service)-nya, hal ini disebut migrasi akun BIS, konsekuensi nomer ponsel tentu berganti pula.

Fenomena migrasi inilah yang kini hangat dibicarakan, salah satu pengguna BlackBerry di Jakarta, sebut saja Anto namanya, pernah merasa dipersulit untuk migrasi akun BIS oleh operator. ”Prosedur permintaan yang saya utarakan di customer service ditanggapi lama dan cukup berbelit”, ujar Anto. Operator secara tersirat tak rela ada akun BIS yang hengkang dari kandangnya. Akun BIS adalah layanan BlackBerry yang dapat mengakses email umum (berbasis PO3 dan IMAP4), selain akun email BlackBerry dari operator. Akun BIS bisa menyimpan informasi email yang hendak di push ke ponsel.

Untuk migrasi akun BIS antar operator diperlukan PIN, dan pelanggan yang ingin melakukan migrasi akan mendapatkan PIN release dari operator lama. Kelancaran perpindahan info email bisa dilakukan dengan mudah dalam proses ini, kecuali untuk akun email nama@operator.blackberry.com, melekat dengan identitas operator yang dipakai. Peran penting migrasi akun BIS seperti memindahkan akun outlook email kantor yang menggunakan BlackBerry exchange server.

Faizal Adiputra, salah satu pelopor komunitas BlackBerry di Jakarta menjelaskan bahwa setiap pelanggan BlackBery berhak untuk melakukan migrasi. ”Tapi biasanya ada alasan tertentu untuk migrasi, misalnya kualitas jaringan operator yang bersangkutan buruk. Bila demikian operator harus legowo untuk melepas si pelanggan. Si pelanggan juga harus tahu tentang syarat dan ketentuan yang berlaku. Misalnya bila masih dalam paket pembelian kontrak, ya harus selesaikan dulu kontraknya baru bisa pindah. Bila semua urusan administarsi beres, operator biasanya bisa memberikan PIN release maksimum dalam 3 hari”, ujar Faizal.

Masalah ponsel juga harus dicermati jika ingin bermigrasi, bila ponsel di lock, maka harus di open dulu. Indosat menggunakan sistem ponsel lock dalam paket jualnya. Sedang handset dari sistem penjualan XL dan Telkomsel tidak di lock, alhasil ponsel yang dijual kedua operator tadi bisa digunakan untuk layanan operator lain. Faizal menyarankan, idealnya pelanggan BlackBerry menggunakan dua layanan operator untuk menjamin kualitas yang bagus, jaga-jaga bila jaringan salah satu operator down. Sebab sampai saat ini belum ada operator BlackBerry yang bisa menyajikan kualitas layanan dan jaringan sempurna.

27 Jul 2009

Strategi Bertahan Nokia Dihimpitan Krisis




















Dikala badai krisis datang, lumrah bila vendor ponsel terbesar menjadi barometer kondisi pasar. Strategi bertahan mutlak diterapkan untuk tetap eksis sebagai jawara nomer satu


Bicara krisis ekonomi global serasa tak ada habisnya, melihat dampaknya jelas membuat hati miris, jutaan pekerja dari beragam industri mengalami pemutusan hubukan kerja (PHK), pertumbuhan ekonomi sudah pasti melambat. Bila dikaitkan dengan segmen industri ponsel, pasti hasilnya sudah bisa ditebak. Tak satupun vendor ponsel yang kebal pada krisis ekonomi saat ini.

Bahkan untuk kelas vendor raksasa seperti Nokia, badai krisis langsung berimbas keras. Problem krisis inilah yang kemudian disampaikan oleh Timo Ihamuotila, Executive Vice President Global Sales Nokia, saat kunjungan kerjanya di Jakarta awal bulan Mei lalu. Menurut petinggi Nokia dari Finlandia ini, volume pasar ponsel Nokia pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 10 persen dibanding tahun 2008. Imbasnya langsung berdampak pada segmen smartphone. Seperti diberikan dalam laporan riset Gartner 11 Maret lalu, pertumbuhan penjualan smartphone Nokia mencapai minus 16,8 persen.

Ihamuotila menjelaskan penjualan Nokia di kuartal pertama tahun ini adalah 93,2 juta unit, dengan perkiraan pangsa pasar mencapai 37 persen. Di tahun 2008 total penjualan seluruh ponsel Nokia global mencapai 468 juta unit, dimana 60 juta diantaranya berasal dari kelas smartphone. Dengan penurunan pangsa pasar di tahun ini, Nokia harus berupaya keras untuk tetap bertahan sebagai pemain utama di industri. Salah satunya dengan terpaksa melakukan PHK pada ribuan karyawan di seluruh dunia. ”Tapi tak semua negara terkena kebijakan PHK, Indonesia yang menjadi 10 negara penyumbang penjualan terbesar, dipastikan aman dari kebijakan ini,” kata Ihamuotila.

Strategi lain yakni melakukan fokus efisiensi pada bidang pengembangan riset, terkait krisis Ihamuotila menyebut tentu ada penyesuaian pada anggaran penelitian dan pengembangan teknologi, ”tapi kami memastikan prioritas anggaran riset di Nokia masih jadi yang terbesar di industri ini,” ujar Ihamuotila tanpa memberi informasi besaran anggaran yang dimaksud.

Dalam badai krisis tak melulu diisi dengan kabar pilu, dalam sesi wawancara, Ihamuotila menyebutkan pasar layanan email Nokia meningkat pesat, termasuk di dalamnya penggunaan Nokia messaging. Bahkan Indonesia menjadi negara terbesar pengguna layanan email OVI, yakni mencapai 250 ribu pengguna. Konsep penerapan mobile email memang menjadi salah satu fokus dalam strategi meraih pasar di Indonesia, dimana setiap ponsel, termasuk entry level nantinya bisa terhubung dengan fasilitas internet dan email. Timo Ihamuotila menambahkan, masih rendahnya penetrasi internet berbasis kabel merupakan peluang tumbuhnya mobile internet di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Walau krisis global berimbas keras di segmen smartphone, pihak Nokia melaporkan seri 5800 Xpress Music sebagai ponsel penyumbang pendapatan terbesar, hingga kuartal pertama tahun ini sudah dipasarkan 2,6 juta unit. Krisis boleh saja ada, tapi penetrasi smartphone di Tanah Air nyatanya tetap tinggi, dibuktikan dari gurihnya penjualan BlackBerry dan iPhone. Hadirnya dua jenis smartphone tadi jelas membuat pasar smartphone Nokia tergerus. ”Tapi kami yakin untuk mempertahankan sukses pasar smartphone di Indonesia, tunggu saja bulan Juni mendatang, N97 akan menjadi produk yang akan menggetarkan pasar, yang jelas setiap kali meluncurkan produk, kami berusaha menyiapkan solusi layanan yang sesuai dan tepat sasaran,” kata Ihamuotila menutup pembicaraan.

(Jun09)









1 Jul 2009

2G Tetap Nomer Satu





















Jaringan 3G sudah eksis saat ini, tapi dalam pasar base station (BTS) 2G tetap nomer satu. Faktor apa saja yang menyebabkan pasar base station 2G tetap nomer satu hingga kini?


Dengan kecepatan akses yang dimilikinya, 3G kini menjadi ikon dagang andalan bagi para operator selular. Seperti pada jaringan akses sebelumnya (2G), elemen kualitas dan kuantitas juga kerap di kampanyekan pada publik guna menunjukkan performa si operator. Selain soal kualitas jaringan yang punya nilai plus minus di tiap operator, faktor kuantitas juga cukup gencar didengungkan. Wujudnya berupa perluasan coverage base station dan merapatkan cell-cell base station 3G (node B) di suatu area untuk memberikan kenyamanan akses bagi pelanggannya.

Lepas dari tingkat kesuksesan layanan 3G, operator tetap bergelut untuk memperluas jaringan 3G-nya. Apalagi 3G jadi satu-satunya gerbang buat operator untuk menggelar layanan internet mobile berkecepatan tinggi. Belum lagi dengan hadirnya layanan bundling paket data di ponsel seperti BlackBerry dan iPhone, lalu pasar penjualan modem. 3G pun mau tak mau harus berevolusi menjadi 3,5G – HSDPA (high speed downlink packet access).

Walau menjadi ikon pencapaian teknologi bagi operator, dalam kuantitas base station (BTS) 3G masih jauh dari jumlah BTS 2G. Ambil contoh, dari 27.500 BTS Telkomsel, baru 4.000 yang dilengkapi kemampuan 3G. Pasar BTS 2G pun bukan berjalan ditempat, sampai saat pembelian perangkat BTS oleh operator di Tanah Air masih didominasi oleh base station 2G. ”Secara pemasaran di pihak kami, 80 persen BTS yang dijual ke operator adalah dari jenis 2G, baru sisanya BTS 3G,” kata Yohan Adi Satria, Deputy Marketing Director Huawei Indonesia. Huawei adalah salah satu vendor jaringan yang banyak memasarkan BTS untuk operator Telkomsel, XL dan Axis.

Meski akses internet 2G tak bisa ngebut layaknya 3G, tapi 2G juga punya kemampuan akses internet lewat teknologi GPRS (general packet radio access) dan EDGE (enhanced data rate for GSM evolution). GPRS/EDGE pun jadi primadona sebagai backup akses 3G. Antara koneksi 3G dan GPRS/EDGE juga bisa berjalan seamless operation, bila jaringan 3G down maka bisa langsung dialihkan ke jaringan GPRS/EDGE (2,5G/2,75G).

Analisa dari lembaga riset In-Stat pada awal April 2009 melaporkan pasar penjualan BTS di tingkat global di tahun 2008 didominasi jenis EDGE yang mencapai lebih dari 40 persen. ”Melihat kondisi yang ada, diperkirakan tahun ini pasar BTS EDGE masih akan mendominasi,” ujar Allen Nogee, seorang analis dari In-Stat. Laporan In-Stat didasarkan maraknya pembangunan BTS berbasis EDGE di wilayah Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika.

Nogee menyebutkan, ada 300 juta pengguna ponsel baru di wilayah Afrika, Cina dan India. Kebanyakan mereka berasal dari segmen masyarakat kelas menengah ke bawah yang hanya mampu membeli ponsel di segmen low cost phones yang berharga dikisaran US$20. Segmen dan harga ponsel tentu terkait langsung dengan fitur yang ditawarkan. Walau katakan ponsel sudah dibekali akses internet browser, kebutuhan yang diperlukan masih sebatas EDGE.

Sebaliknya pasar base station di wilayah Amerika Serikat, Jepang dan Korea mengalami perlambatan akibat dampak krisis ekonomi global. Di negara-negara maju proyeksi pengembangan BTS lebih ditekenkan pada pasar 3G/HSDPA/HSUPA ”Tingkat perputaran pembelian ponsel berkurang dan kebanyakan konsumen kurang antusian pada fitur-fitur baru yang ditawarkan, hal ini secara tak langsung berimbas pada perluasan BTS 3G/HSDPA di wilayah tersebut,” ujar Nogee.

Mengapa Belum 3G
“Gelar BTS 3G operator pada dasarnya dilakukan lewat analisa potensi ekonomi di suatu wilayah. Meski di suatu daerah terlihat banyak yang menggunakan ponsel 3G belum tentu penggunaanya tinggi, contohnya seperti pasar ponsel di Papua, disana populasi ponsel multimedia cukup tinggi, tapi kebanyakan ponsel berasal dari produk bekas yang berasal dari luar pulau. Artinya pasar ponsel bekas juga berpengaruh pada analisa gelar jaringan operator,” ujar Pandu Sinatriyo, Head of Radio Access Nokia Siemens Network Indonesia.

Selain itu operator juga masih mempertimbangkan soal biaya yang dikenakan oleh regulator untuk BHP (biaya hak penggunaan) 3G. Meski sudah membayar up front fee dengan nilai rartusan miliar, untuk gelar tiap BTS 3G konon masih diperlukan biaya perijinan lain. BHP 3G didasarkan pada lebar bandwidth Bandingkan dengan BHP 2G yang sudah mencakup GPRS/EDGE, operator cukup membayar berdasarkan izin stasiun radio (ISR) setiap tahunnya. Lebar bandwidth 3G yang disediakan di Indonesia adalah 5Mhz, sedang bandwidth 2G adalah 200 Khz.

Tapi alasan utama mengapa belum 3G yakni karena pelanggan 2G tentu jauh lebih besar, dan 2G digunakan benar-benar untuk esensi komunikasi selular seperti voice dan SMS. Sebaliknya 3G dengan ikon video call justru terlihat ibarat mati gaya. Peran 3G kini lebih disiapkan untuk menunjang pasar paket data di ponsel dan modem. Walau konon harga BTS 2G dan 3G tak terpaut jauh, tapi ada pertimbangan teknis dan non teknis yang menyertainya. Dan kedepan pasar BTS 2G dan 3G tetap berkembang sesuai dengan proporsinya masing-masing. Yang perlu diingat, setiap BTS 3G pasti memiliki sudah berkemampuan 2G, tapi belum tentu tiap BTS 2G sudah dibekali 3G.

(Mei09)

26 Sep 2008

Kapasitas vs Jangkauan










Ketersediaan jangkauan dan kapasitas menjadi inti layanan operator. Efek perang tarif murah memunculkan isu keterbatasan kapasitas, ditengah kebutuhan operator memperluas coverage.


Akhir-akhir ini sebagian dari Anda mungkin merasa kualitas layanan voice operator agak berkurang, bahkan memburuk di jam-jam tertentu. Hal ini utamanya dirasakan bagi operator yang mengikuti pola jor-joran perang tarif murah. Keluhan seperti drop call, lost signal dan network failure menjadi santapan banyak pengguna setiap hari. Seolah, kondisi trafik saat lebaran berlangsung terus menerus hingga kini. Lalu, mengapa ini bisa terjadi?

Sudah menjadi keharusan bagi tiap operator untuk meningkatkan jumlah pelanggan, salah satu jalannya dengan meningkatkan jangkauan (coverage) di berbagai wilayah. Indikatornya bisa dilihat, tiap operator besar begitu bangga dengan lomba menanam ribuan BTS, jargon iklan yang disebut ”menjangkau hingga seluruh kecamatan” dan ”coverage melayani 90% populasi” sudah lumayan akrab di benak konsumen. Operator pun mendapat sambutan positif untuk hal ini, sebab berhasil membuka isolasi wilayah yang selama ini belum terjamah jaringan telepon.

Tapi ada persoalan lain, yakni kapasitas jaringan. Di era perang tarif yang bombastis, kapasitaslah yang menjadi momok bagi tiap operator. Tarif super murah membawa dampak pada meningkatnya jumlah pelangga, dan jumlah trafik call meroket tajam. Padahal tidak semua lokasi siap meng handle lonjakan (congestion) trafik. Dalam ilustrasi sederhana, satu BTS bisa menampung 69 percakapan secara bersamaan. Nah, bila ada tambahan percakapan, akan muncul kasus gagal panggil dan jaringan sibuk.

Fenomena ini kerap muncul di wilayah padat penduduk (perkotaan) yang menjadi basis pasar operator. Sebagai jalan keluarnya, operator harus meningkatkan kapasitas cell. ”Saat ini coverage tidak menjadi fokus tujuan kami, yang lebih penting kini adalah meningkatakan kapasitas untuk perbaikan layanan”, ujar Hasnul Suhaimi, Presdir XL disela wawancara saat media gathering di Lombok akhir Ferbruari lalu. Operator seperti Telkomsel, Indosat dan XL punya jumlah BTS hingga puluhan ribu, mungkin ribuan BTS menyelesaikan di isu jangkauan nasional. Tapi belum tentu masalah kapasitas bisa terpecahkan.

Strategi operator untuk mengatasi problem kapasitas, umumnya dilakukan dengan pola cell splittting, yakni memecah jumlah cell ke dalam beberapa cell BTS yang lebih kecil dengan lower power Mhz. Sehingga akan lebih banyak pelanggan yang bisa terlayani di suatu area. Pola ini biasa diterapkan untuk mengatasi trafik di wilayah perkotaan yang padat.

Biaya untuk Jangkauan dan Kapasitas
Adalah harga mati bagi operator untuk meningkatkan kapasitas jaringan, hal ini terlihat dari belanja modal (capital expenditure) yang dialokasikan. Di tahun lalu setidaknya Telkomsel mengalokasikan Rp 3 triliun untuk ekspansi jaringan, Indosat malah lebih besar dengan Rp 8,5 triliun untuk pengembangan jaringan selular dan FWA StarOne. Operator ketiga terbesar XL, di tahun ini mengalokasikan dana sekitar US$650. Dari jumlah tersebut, 70 persen anggaran disiapkan khusus untuk memperkuat kapasitas jaringan di 2000 BTS yang telah terpasang. Baru sisanya digunakan untuk ekspansi jaringan (coverage) di wilayah Indonesia Timur.

Di era kompetisi yang keras, operator harus cermat membagi alokasi anggaran, antara meningkatkan kapasitas dan memperluas coverage. Keduanya merupakan elemen penting seiring tuntutan bisnis untuk menambah jumlah pelanggan. Tapi tentunya ada yang jauh lebih penting, yakni QoS (quality of service), tanpa kapasitas yang memadai, mustahil kualitas layanan yang baik bisa terpenuhi. Jika hal ini berlanjut terus, tarif super murah akan menjadi boomerang buat operator.

14 Agu 2008

Transfer Pulsa - "Penyambung Lidah" Antar Pelanggan














Operator punya kepentingan agar komunikasi tetap ‘hidup’ di setiap nomer. Transfer pulsa menjadi layanan alternatif yang cukup diperhitungkan. Setelah lima tahun diperkenalkan, kini transfer pulsa telah menjelma sebagai sebuah kebutuhan, paling tidak disaat isi pulsa jalur biasa tak bisa dilakukan.


Beragam layanan operator selular dengan segmen value added service (VAS) telah begitu banyak dimunculkan dari waktu ke waktu. Tapi tak semua bisa berhasil diserap dengan cukup baik oleh pelanggannya. Alih-alih biasanya operator memberlakukan layanan VAS dalam wujud promo yang dibatasi oleh sebuah periode tertentu, umumnya periode layanan VAS dalam skema bonus pulsa sering diterapkan dalam pola per 3 bulan atau 6 bulan.

Bila respon pelanggan bagus, bisa jadi promo di evaluasi dan diperpanjang. Tapi nyatanya cukup banyak yang harus dihentikan sesuai waktunya. Alasannya bisa jadi akibat respon kurang optimal atau sebaliknya malah respon pelanggan sangat besar. Semisal program bonus pulsa panggilan masuk dan bonus free talk. Perlu dicermati bahwa setiap promo layanan VAS berarti mengandung unsur subsidi, yang artinya operator ‘harus’ mengurangi sebagian dari potensi keuntungan.

Diantara sederet layanan VAS, jenis layanan transfer pulsa terbilang yang cukup awet. Maklum ditawarkan sebagai VAS permanen. Meski sudah diperkenalkan cukup lama, yakni pertama kali diperkenalkan kartu IM3 Indosat pada bulan Januari 2004. Transfer pulsa terus dikembangkan dan hampir diterapkan oleh seluruh operator besar. Berita terbaru seputar transfer pulsa datang dari XL, di bulan April lalu dengan tajuk Family Progam, kartu Xplor menawarkan transfer pulsa dari nomer paska ke pra bayar.

Kini layanan transfer pulsa telah berusia empat tahun. Sederet operator besar mulai dari Indosat, Telkomsel dan XL telah membuktikan eksistensi transfer pulsa. Meski platform yang digunakan berbeda antar operator, tapi tujuan inovasi transfer pulsa tetap sama yakni memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi akses komunikasi dengan melengkapi keterbatasan pada sistem reload pra bayar.

Revolusi Transfer Pulsa
Boleh jadi transfer pulsa adalah sebuah inovasi VAS yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Indosat sebagai pelopornya bahkan pernah mengikutkan layanan ini di nominasi Best Innovative Award GSM 2004 di Cannes - Prancis. Sekilas kebelakang, runtutan kehadiran transfer pulsa setelah IM3 yakni kartu Mentari yang juga dari Indosat di bulan September 2005. Kemudian menginjak di bulan Januari 2006 Kartu As dari Telkomsel menggelar layanan ini, yang disusul oleh kartu Simpati di bulan April 2007.

Pihak operator ketiga terbesar XL juga tak mau ketinggalan, di bulan November 2005 kartu Bebas dan Jempol juga dibekali transfer pulsa. Bahkan menurut sebuah sumber yang tak ingin disebutkan, operator CDMA berbasis selular juga akan menawarkan transfer pulsa dalam waktu dekat. Transfer pulsa memang populer digunakan antar kartu pra bayar. Tapi seiring kemajuan teknologi inteligent network (IN), para operator mampu membuat sinergi antara transfer pulsa dari kartu paska ke pra bayar, meski harus dalam skema komunitas. Seperti dicontohkan oleh Halo isi pulsa ke Simpati Telkomsel, dan paket Xplor Family Plus.

Pasang Surut Transfer Pulsa
Adanya fasilitas transfer pulsa jelas membawa pengaruh positif pada image operator. Tapi bagaimana dengan perkembangan pasar pemakaian layanan ini? Mengingat expose transfer pulsa kadang kalah gencar dari layanan lain. Hasil investigasi memunjukkan peningkatan animo penggunaan, tapi antar operator jelas punya beda karakter.

Indosat
Layanan yang diberi nama M3 Transfer pada awalnya diterapkan dengan metode pendaftaran untuk memperoleh PIN. Lalu seiring perkembanan dan memberikan kemudahan, M3 Transfer bisa digunakan langsung tanpa PIN. "Awalnya jumlah pengguna transfer pulsa dari IM3 paling banyak, tapi setelah Mentari juga dilengkapi transfer pulsa kondisi berbalik, apalagi setelah prosedur registrasi dan PIN dihilangkan, pengguna melonjak cukup drastis," ujar Guntur Siboro, head of integrated marketing Indosat.

Hingga bulan April lalu, hit transfer pulsa Mentari mencapai 550 ribu, sedang IM3 mencapai 350 ribu. Dengan total hit 900 ribu dari 14,7 juta total pelanggan didapat jumlah pulsa yang ditransfer mencapai Rp 8.5 miliar. Guntur menjelaskan bahwa jumlah nominal yang ditransfer terbilang rendah, antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Rendahnya nominal pulsa yang ditransfer menandakan bahwa layanan ini dibutuhkan untuk penerimanya dalam keadaan terdesak alias tanpa pulsa. Populasi terbanyak pengguna transfer pulsa Indosat berasal dari area Jabotabek yang mencapai 40% dari total pelanggan yang melakukan transfer pulsa. Hingga saat ini Indosat belum menggelar transfer pulsa untuk pelanggan Matrix paska bayar.

Telkomsel
Dengan total jumlah pelanggan 39 juta, Telkomsel punya peluang besar untuk sukses di layanan transfer pulsa. Apalagi semua jenis kartu sudah dibekali kemampuan transfer pulsa. "Dilihat dari hit nya, tampak bahwa pelanggan kartu Simpati adalah yang terbanyak melakukan transfer pulsa. Ini dimungkinkan jumlah pelanggan yang telah mencapai 21 juta," ungkap Agus Mulyadi, VP Product Telkomsel.

Agus menuturkan jumlah penggguna transfer pulsa berkisar 20 sampai 30 persen dari jumlah total pelanggan. Nilai nominal favorit yang sering di transfer yakni Rp 10 ribu untuk Simpati dan Kartu As. Tentang penyebaran pengguna layanan ini yang terbesar adalah wilayah Jakarta.

Excelcom
Meski terbilang paling baru dalam implementasi transfer pulsa. XL sudah mencatat perkembangan yang sangat baik, "sampai kini 61% pengguna kartu prabayar telah menggunakan layanan transfer pulsa. Data bulan April lalu menyebut rata-rata 135 ribu nomer per hari melakukan transfer pulsa," kata Bayu Samudiyo, GM Marketing Prepaid XL. Dominasi pengguna transfer pulsa adalah pelanggan Jempol. Total saat ini XL memiliki 10,1 juta pelanggan, dimana 96% nya adalah pelanggan pra bayar.

Serupa dengan Telkomsel, transfer pulsa XL juga telah bisa diaplikasikan oleh jenis paska bayar. Jika di total per akhir April lalu, pengguna pra dan paska bayar yang memakai transfer pulsa lebih dari 4 juta. Pilihan nominal pulsa yang favorit yakni Rp 3 ribu.

Esia - Bakrie Telecom
Untuk segmen operator berbasis teknologi CDMA, baru Esia yang telah memperkenalkan sisten transfer pulsa antar pelanggan prabayar. Selain transfer pulsa, hebatnya Esia juga bisa transfer masa aktif.

Biaya Transfer Pulsa
Bicara soal beban biaya transfer pulsa, Telkomsel dan Indosat punya hitungan tarif yang sama Rp 500 per kirim. Sedang XL sangat beda yakni Rp 99 per kirim. Keduanya skema tarif punya keunggulan yang berbeda. Transfer pulsa Telkomsel dan Indosat menerapkan metode pecahan bilangan nominal dengan besaran Rp 10 ribu sampai Rp 100 ribu, nominal diantaranya bisa ditransfer sesuai kelipatan. Yang agak sedikit beda adalah IM3, dimana tak memberikan batasan minimum transfer.

Sedangkan XL hanya menyediakan 2 nominal pulsa yang dikirim, yakni Rp 1500 dan Rp 3000. Perlu dicatat bahwa biaya transfer seolah-olah menjadi beban penerima, dimana nominal pulsa yang diterima dari Rp 3000 menjadi Rp 2901, dan pulsa Rp 1500 diterima menjadi Rp 1401. Masa aktif yang diberikan antara 1 dan 3 hari. Skema ini punya keunggulan, untuk berkirim pulsa dibawah Rp 10 ribu. Tapi untuk pengiriman pulsa bernominal besar menjadi kurang efesien, sebab harus berkali-kali melakukan proses transfer.

Sistem Transfer Pulsa
Ada dua skenario jalur transfer pulsa. Indosat dan XL mengadopsi jalur shor number SMS (short message service). Tapi XL selangkah lebih maju dalam konsep ini dengan menyediakan menu Bagi Pulsa dalam Layanan Data di STK (SIM Tool Kit). Sedang di sisi lain Telkomsel menggunakan sistem USSD (Unstructure Suplementary Service Data), yakni perintah yang diawali tanda (*) dan diakhiri tanda (#). Agus Mulyadi menyebutkan alasan penggunaan USSD karena lebih reliable. "Dengan USSD data langsung dapat cepat terkirim, pengirim juga akan lebih cepat mengetahui apakah proses transfer berhasil, pending atau gagal,", papar Agus Mulyadi.

Lepas dari itu, untuk bisa menikmati transfer pulsa ada ketentuan standar yang sama. Diantaranya pengirim pulsa jelas harus berada dalam masa aktif, sedang si penerima bisa berada dalam masa aktif dan tenggang. Dari hasil penulusuran, umumnya transfer pulsa lebih populer sebagai layanan yang sifatnya digunakan bilamana perlu atau untuk keadaan darurat, diimana metode isi pulsa biasa tidak bisa dijangkau. Pengiriman pulsa juga tak menambah panjang umur masa aktif dan masa tenggang, sehingga peluang untuk menjadikan transfer pulsa sebagai lahan bisnis dirasa kurang menguntungkan. Apalagi ada pembatasan nilai nominal dan pecahan maksimum pulsa.

Jika MMS dan 3G sudah lintas operator, bagaimana dengan kemingkinan tarnsfer pulsa lintas operator? Jawabannya seragam, baik Agus Mulyadi, Guntur Siboro dan Bayu Samudiyo menyatakan sampai saat ini belum ada rencana kearah tersebut. Guntur menjelaskan hal itu mungkin saja dilakukan, tapi implementasinya agak sulit karena hal ini mirip transfer uang antar bank, dimana dibutuhkan rekonsiliasi dari tiap operator setiap bulannya.

(Jun07)

24 Apr 2008

Atur Tagihan dengan Credit Limit






Tidak cuma kartu kredit yang bisa memberikan limit belanja. Belanja pulsa untuk paska bayar pun kini bisa diautur dengan credit limit Gunanya tidak lain sebagai pilihan agar tagihan per bulan lebih bisa dikendalikan



Sampai saat ini umumnya operator merasa enggan untuk memberikan program credit limit (batasan kredit) untuk pelanggan paska bayar nya. Argumen yang muncul jelas karena paska bayar adalah ‘ladang’ bagi operator untuk memperoleh revenue tinggi degan siklus bulanan yang relatif continue setiap bulan. Credit limit pada paska bayar ditanggapi berbeda, tentu tergantung pada individu yang menggunakan. Buat orang yang memiliki trafik panggilan tinggi, sudah pasti credit limit pasti tidak relevan. Namun sebaliknya bagi individu pengguna paska bayar yang doyan ‘irit-irit’ credit limit bisa jadi fasilitas penolong agar tagihan bulanan tak kebobolan.

Awal Maret lalu produk Xplor XL untuk pertama kali nya memperkenalkan sistem credit limit untuk program paket keluarga. “Sistem ini sengaja kami rancang untuk lebih menarik bagi kebutuhan keluarga, dimana orang tua dapat mengendalikan pengeluaran tagihan per bulan berdasarkan credit limit yang sudah ditentukan,” ujar Ruby Hermanto, GM marketing post paid XL. Pola dasar credit limit dalam hal ini masih didasarkan pada tanggung jawab suatu komunitas. Pilihan credit limit pada paket keluarga bisa di set mulai dari minimal Rp 50 ribu dan kelipatan nya.

Sebelumnya langkah pemberian credit limit pernah pula ditawarkan paska bayar Telkomsel pada tahun 2003 lewat program Halo Instant. Tujuan program ini tidak lain untuk mempercepat pertumbuhan pelanggan kartu Halo dengan sistem aktifasi yang cepat. Proses administrasi bisa dilakukan belakangan setelah pelanggan menikmati layanan. Dalam paket jual nya Halo instant memberikan credit limit awal sebesar Rp 300 ribu. Berbeda dengan Xplor, Halo instant bersifat individu. Meski menarik pihak Telkomsel hanya menawarkan program ini kurang dari satu tahun. Ada yang menyebutkan Halo instant kurang mendapat awareness dan respon market yang memadai. Namun toh tanpa itu kartu Halo masih memimpin untuk market paska bayar dengan angka 1,5 juta pelanggan.

Langkah yang serupa namun tidak sama ternyata diikuti oleh Xplor yang menerapkan program aktifasi cepat untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Dengan program MGM (member get member) dan mitra Xplor (sales outbound) alur aktifasi sebuah nomer bisa berlangsung dalam hitungan kurang dari 2 hari dan maksimum satu minggu. Tentu nya pihak operator tidak dapat langsung percaya sepenuhnya, pada masa awal credit limit juga diberlakukan sebesar Rp 500 ribu. Alhasil dari segi jumlah pelanggan Xplor memang meningkat drastis, Ruby Hermanto menjelaskan akhir tahun 2004 pelanggan Xplor hanya 50 ribu tapi kini sudah sampai angka 350 ribu lebih.

Dua Jenis Credit Limit
Singkat cerita ada dua sistem credit limit yang diberlakukan. Pertama credit limit yang memang berdasar dari peraturan (regulasi) sang operator dan kedua credit limit berdasar pada permintaan khusus pelanggan. Untuk credit dengan dasar regulasi operator sudah umum diterapkan, semisal pada masa verifikasi atau sesudahnya. Perlu diingat juga dalam paskabayar bergatung juga prinsip kepercayaan dalam pembayaran. Ini nantinya mementukan jenis service yang bisa didapatkan.

Jika Xplor reguler memberi batasan Rp 500 ribu per bulan. Lain halnya dengan Matrix, “Sistem kami setelah masa verifikasi tidak akan memberikan credit limit, hanya saja selama masa verifikasi kami berikan pulsa dengan limit Rp 200 ribu. Untuk itu proses verfikasi harus dilakukan dengan cermat”, ujar Hera Laxmi, marketing communication PT. Indosat. Hingga saat ini jumlah pelanggan Matrix sudah mencapai 700 ribu. Sedangkan untuk credit limit berdasar permintaan pelanggan baru diterapkan oleh Xplor dalam program family package.

Hadirnya credit limit pada paska bayar menjadi pertanyaan, seperti pertanyaan apa bedanya dengan pra bayar? Ruby menjelaskan bahwa hal ini sebagai sebuah pilihan untuk mengendalikan tagihan. “Jadi semua berpulang pada pilihan saja. Namun perlu diketahui tarif paska bayar jauh lebih rendah dari pra bayar, dan saat ini biaya abonemen sudah dihilanghkan”, ujar Ruby. Maklum hambatan terbesar orang untuk menggunakan paskabayar adalah ke khawatiran akan tagihan yang di luar ‘kendali’ serta adanya biaya abonemen. Lepas dari itu operator pun punya concern untuk menyediakan tools untuk mengetahui pergerakan tagihan harian. Meski tidak real time, hampir semua operator kini menyajikan info tagihan langsung lewat jalur IVR (interactive voice respon) dan SMS.

(Apr06)

18 Apr 2008

Tekan Biaya Customer Care via USSD














Penyampaian informasi adalah bagian dari fungsi customer care operator. Banyak jalan yang menjadi pilihan. Salah satu nya adalah lewat jalur USSD, teknologi lama yang dinilai mampu mengurangi biaya untuk program customer care


Sebagai sebuah institusi dengan basis pelanggan berjumlah besar menjadikan operator selular harus memiliki cara jitu untuk mendekatkan diri ke para pelanggan nya. Customer care program yang berlaku haruslah dijalankan secara tepat guna dengan pesan yang efektif. Baru-baru ini misalkan, para pelanggan pra bayar operator selular di Tanah Air diwajibkan untuk melakukan registrasi nomor nya. Pihak operator dalam penyampaian informasi, selain mengandalkan jalur iklan di media massa cetak dan elektronik juga tentu mengandalkan sistem broadcast seperti lewat SMS.

Namun seiring kian banyak program customer care ke pelanggan, media SMS dipandang punya beberapa kelemahan. Terutama dipandang dari sisi operator, “pemanfaatan customer care lewat SMS memang punya banyak kelebihan, tapi jika volume SMS tinggi pasti juga akan berdampak pada biaya. Pasalnya trafik kapasitas SMS reguler sehari-hari juga pasti nya tinggi,” ujar M. Kuncoro, head of network planning Lippo Telecom. Sebagai alternatif nya operator punya cara dengan memanfaatkan jalur teknologi USSD (unstructured suplementary service data).

USSD adalah perintah informasi dengan sistem push message yang ditandai awal kode bintang (*) dan akhiran kode pagar (#). Setiap pelanggan selular rasanya sudah mahfum dengan kode ini, seperti saat ingin melihat saldo pulsa atau pun saat ingin mengisi voucher. Jika dahulu informasi yang disajikan USSD dengan karakter sangat terbatas. Kini kemampuan karakter USSD operator sudah ditingkatkan. Contohnya selain info saldo dan masa aktif, teks program pengumuman operator yang cukup panjang (160 karakter) bisa disajikan.

M. Kuncoro menjelaskan biaya yang bisa ditekan dengan pemanfaatan USSD untuk customer care dapat mencapai lebih dari 20 persen, jika dibandingkan penggunaan lewat SMS broadcast. Namun tentu saja besaran biaya juga sangat bergantung pada jenis equipment yang dipasang oleh masing-masing operator. Wibisono, vice president product management PT. Indosat juga menjelaskan bahwa salah satu keunggulan USSD juga sifat pengiriman yang lebih cepat ketimbang SMS. Bisa sampai 7 kali lebih cepat dari respon dari SMS. Pihak Indosat sendiri malah sudah memanfaatkan lebih jauh USSD dalam bentuk UMB (USSD menu browser), yakni penempatan menu browser bukan di kartu SIM, tapi pada server operator.

Namun ada tanggapan yang berbeda, “sebenarnya penggunaan baik USSD maupun SMS broadcast hanya masalah bagaimana utilisasi dari network saja. Meski tentu operator akan mencari solusi yang paling efesien dan efektif,” ujar Bayu Samudyo, GM prepaid XL. Meski demikian pengembangan USSD dimasa mendatang diperkirakan akan meingkat. M. Kuncoro menambahkan USSD memakai jalur SS7 signaling channel unit network, berbeda dengan jalur SMS. Dalam konsep simpel customer care USSD lebih tepat ketimbang IVR (interactive voice respond) yang ‘memakan’ jalur voice selular. Apalagi skema customer care USSD terbilang mudah diterapkan, tidak serumit WAP dan GPRS.

Lepas dari hal diatas, para operator sebenarnya masih punya tools lagi untuk mendekatkan diri ke pelanggan nya. Contohnya CB (cell broadcast) yang dipercaya juga dapat menekan biaya marketing. Hanya saja alokasi seting CB harus berdasarkan site per site, seperti BTS (base tranceiver station). Operator Telkomsel dan XL adalah termasuk yang paling rajin mengootimlkan CB nya. Seperti CB dengan sistem stream, hanya menampang kan info di layar ponsel, tanpa dapat disimpan. Ada pula SMS CB seperti yang banyak dijumpai saat berada di bandar udara. Meski demikian CB masih dianggap berinvestasi tinggi. Apalagi CB juga menyita kapasitas kanal di BTS yang bersangkutan.

Memang operator perlu lebih banyak mendekatkan diri ke pelanggan, mendekatkan diri dengan cara diatas berarti mencoba mengambil hati pelanggan. Berapa pun investasi yang dibebankan tentu dapat bermibas positif bagi image layanan dan produk itu sendiri.

(Mar06)

15 Apr 2008

Asuransi Komunitas Selular




Asuransi memang banyak ragam nya, siapa sangka kini aplikasi selular mampu di kreasikan untuk hal ini. Lebih efesien dengan proses instant

Setiap orang hidup pasti butuh perlindungan, dan memang ada banyak kiat agar diri kita dapat terlindungi dengan baik. Salah satu yang tidak asing adalah lewat jalan asuransi. Pelayanan asuransi punya tawaran dengan banyak ciri dan sistem, dan baru-baru ini pelanggan operator selular secara mudah dan cepat bisa memanfaatkan jalur layanan asuransi lewat teknologi ponsel. Adalah Telkomsel operator yang pertama kali menghadirkan layanan ini, lewat kerjasama dengan Great Eastern Telkomsel menawarkan program Safe Zone untuk pelanggan pra bayar Simpati.

Seperti diketahui pelanggan pra bayar demikian besar bagi setiap operator, dan sudah menjadi tuntutan untuk senantiasa memberikan service lebih pada saat ini. Pasalnya tidak lain adalah trend churn pelanggan pra bayar di Indonesia sangat besar. “Pengguna pra bayar dewasa ini sangat mudah untuk urusan berganti-ganti nomor, seiring dengan maraknya program kartu murah”, ungkap Johnny Swandi Sjam, ketua Asosiasi Telepon Selular Indonesia (ATSI). Akibatnya operator harus berusaha mati-matian untuk menjaga agar pelanggan pra bayar tetap loyal.

Asuransi operator bisa menjadi jurus manjur untuk itu, sejak diluncurkan pada Desember tahun lalu, program Safe Zone Simpati sudah mampu menggaet lebih dari 5 ribu pelanggan. “Layanan asuransi ini merupakan ide murni dari kami, dan sengaja kami rancang untuk kebutuhan segmen komunitas Simpati Zone”, ujar Anang Apriyanto, manager customer loyalty program Telkomsel. Menurut Anang, model program asuransi selular ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Program Safe Zone sendiri konon adalah ide orisinil dari Telkomsel.

Pertanyaan nya mengapa khusus pelanggan Simpati Zone ? Anang lebih jauh mengatakan bahwa dalam bisnis asuransi yang diperlukan adalah faktor trust (kepercayaan) dan ketersediaan data pelanggan yang memadai. Dalam hal ini diketahui bahwa komunitas Simpati Zone meruapakan ciri dari pelanggan yang sudah trust terhadap layanan Telkomsel. Disamping lewat Simpati Zone operator telah memiliki profil singkat sang pelanggan.

Untuk dapat menggunakan Safe Zone hanya diperlukan proses registrasi lewat SMS (short message service) ke nomor 5433. Setelah mengisi beberapa tahapan syarat-syarat, pelanggan akhirnya berhak mendapat nomor polis secara otomatis. Paket asuransi yang ditawarkan mencakup asuransi kecelakaan diri dan asuransi perlindungan rumah sakit. Manfaat dan berbagai ketentuan yang berlaku pun serupa dengan program asuransi pada umumnya. Pelanggan perlu teliti untuk membaca beberapa klausul yang ada, agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

Tarif premi yang dikenakan adalah Rp 20 ribu untuk asuransi kecelakaan diri, sedang Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu untuk asuransi perlindungan rumah sakit (tergantung paket). Kesemuanya memiliki masa perlindungan satu tahun, dengan tingkat biaya tertanggungan bervairasi. Semisal manfaat kecelakaan diri cacat tetap mendapat total tanggungan sebesar Rp 25 juta. Begitu pula dengan paket perlindungan rumah sakit, tersedia cover program rawat inap dari mulai Rp 175 ribu sampai 250 ribu per hari dengan maksimum 90 hari rawat per kejadian.

Tidak ke Paska Bayar
Sampai saat ini Telkomsel menyatakan baru tertarik untuk menggarap pangsa pra bayar untuk layanan asuransi. Sebab menurut Anang ekspektasi yang diharapkan pelanggan paska bayar umumnya lebih besar. “Pelanggan paska bayar cenderung menginginkan nilai pertanggungan yang sekaligus lebih besar, singkat kata Safe Zone memang dihadirkan untuk memberikan pilihan ber asurasni buat pelanggan pra bayar yang memiliki sifat instant proses dalam pembayaran. Seperti hal nya premi yang cukup dibayarkan satu kali Rp 20 ribu untuk masa tanggungan satu tahun. Tentu ini berbeda dengan kebiasaan yang terjadi pada pelanggan paska bayar”, ungkap Anang.

Berdasarkan survei dari pihak operator disebutkan pelanggan pra bayar umumnya hanya mau membayar untuk satu tahap saja. Sistem ini menjadikan pelanggan tidak perlu repot untuk membayar premi per bulan. Pemilihan Great Eastern selaku partner asuransi dilakukan lewat uji kelayakan yang ketat dari Telkomsel. Anang menjelaskan beberapa syarat itu adalah faktor kepercayaan masyarakat, sistem kerja elektronik dan luas nya cakupan.

“Dalam menunjang layanan Safe Zone seluruh perangkat elektronik termasuk server hanya ditempatkan di operator”, ungkap Anang. Telkomsel tidak melibatkan peran content povider, sedang untuk bagi hasil nya revenue dari SMS mutlak dimiliki operator, sedangkan pemotongan tarif untuk premi menjadi hak pihak asuransi. Walau registrasi dapat berlangsung secara otomatis, tapi tetap saja untuk proses klaim harus dilakukan secara tertulis dengan mendatangai konter Grapari atau kantor-kantor cabang Great Eastern.

Inovasi Asuransi Selular Kedepan
Telkomsel sebenarnya bukan pertama kali ini menghadirkan layanan asuransi sejak dua tahun lalu lewat program Telkomsel Siaga. Hanya saja layanan ini tidak bersifat untuk komunitas khusus, seluruh pelanggan Telkomsel baik Simpati, HALO, dan Kartu As bisa ikut serta dengan beregistrasi lewat SMS ke nomor 2580. Premi yang dikenakan juga bersifat sekali bayar Rp 5 ribu, dengan nilai pertanggungan yang tentunya juga lebih kecil. Jumlah pelanggan yang berhasil dihimpun tidak terlalu besar, untuk Telkomsel Siaga tahun 2003 tidak sampai seratus peserta, dan Telkomsel Siaga tahun 2004 baru bisa mencapai diatas seratus.

Sampai awal Januari 2005 jumlah komunitas Simpati Zone telah mencpai 2,3 juta pelanggan. Dimana seluruh pelanggan Simpati sampai kuartal keempat 2004 adalah 11,6 juta pelanggan. Artinya prospek program asuransi sebagai value added services (VAS) masih terbuka luas. “Malah kedepan kami sedang merancang bentuk inovasi asuransi dimasa mendatang, diantaranya asuransi kehilangan ponsel dan asuransi bea siswa ahli waris”, ujar Anang. Ausransi kehilangan ponsel dilakukan dengan misalkan melakukan locking pada ponsel yang telah dicuri, sehingga sang pencuri tidak dapat mengoperasikan ponsel. Hal itu dilakukan dengan jalan mematikan nomor IMEI (international mobile equipment identifier).

Layanan ini sudah berlaku di Inggris, namun menurut Anang layanan ini cukup rumit dibutuhkan kerjasama terpadu dari ATPM (agen tunggal pemegang merek), asuransi dan operator. Berdasarkan pola yang dijalankan, kemungkinan jenis asuransi kehilangan ponsel lebih cocok untuk pelanggan paska bayar. Lain halnya dengan asuransi bea siswa yang tentunya lebih mudah di implementasikan dalam waktu dekat. Hanya saja Anang masih menunggu momentum yang tepat untuk meluncurkan layanan ini.

Tantangan
Menghadirkan layanan ini bukan berarti tanpa resiko, banyak tantangan yang menghadang. Diantara yang mudah dilihat adalah menyamakan visi antara dua industri yang berbeda, kemudian rawan terhadap tuntutan, sebab operator bisa mendapat limpahan tuntutan dari pelanggan. Serta terakhir menyamakan informasi antara dua sistem perusahaan yang berbeda. Anang mengakui tidak mudah menjalankan layanan ini, untuk itu wajar saja jika belum ada operator lain yang menhadirkan asuransi lewat ponsel.

9 Apr 2008

Dibalik Suksesnya Ponsel Murah






Harga ‘sangat murah’ menjadi andalan Motorola dalam mengusung konsep Emerging Market Handset. Selain harga yang menjadi perhatian, ponsel murah juga memiliki kisah sendiri dibalik suksesnya

Ponsel keluaran baru ditambah berharga bandrol ‘super’ murah pastilah banyak membetot perhatian. Apalagi jika ponsel yang dimaksud keluaran vendor ternama. Hal ini menjadi fenomena yang kini ramai berlangsung di pasar ponsel negara-negara berkembang, utamanya setelah vendor-vendor besar berlomba ‘mengguyur’ pasar segmen ponsel murah. Vendor seperti Motorola, Siemens, Nokia dan Sony Ericsson adalah pelaku yang cukup berperan aktrif dalam menggenjot pasar ponsel murah di Indonesia dalam beberapa bulan ini.

Ditambah lagi tender dari GSMA (GSM Association) beberapa waktu lalu yang mencanangkan konsep EMH (emerging market handset). Membuat para vendor beradu melakukan penawaran untuk memproduksi kelas ponsel murah. Hasilnya seperti diketahui Motorola pada event 3GSM Congress di Cannes – Perancis bulan Februari lalu mendapatkan kontrak dari GSMA untuk memproduksi ponsel dengan harga kisaran 40 dolllar AS atau lebih rendah. Kontrak produksi dengan jangka 6 bulan itu diperbaharui lagi dengan tender baru untuk produksi ponsel dengan kisaran 30 dollar AS. Pemenangnya untuk tender kedua ini masih Motorola yang diumumkan pada event 3GSM Asia bulan September lalu di Singapura. Target yang dicanangkan tidak main-main, dalam enam bulan pertama Motorola sudah harus mampu memasarkan 6 juta ponsel. Dimana ponsel pertama akan diluncurkan pada kuartal pertama tahun depan.

Mengapa Bisa murah?
Ponsel baru dengan harga bandrol murah sebenarnya bukan cerita baru. Hanya saja paradigma baru dan murah harus sedikit bergeser setelah munculnya ULC (ultra low cost) phone. Biasa ponsel baru dan murah dibandrol dengan harga toko dibawah Rp 1 juta, tapi dengan hadirnya ULC Anda bisa mengatakan sudah ada ponsel baru dibawah Rp 500 ribu. Copntohnya salah satu ponsel ULC Motorola terbaru seri C117, yang malahan paket jualnya sudah ikut di bundling dengan perdana pra bayar Simpati Telkomsel.

Ada beberapa elemen yang membuat vendor mampu menghadirkan ULC. Sebagai ponsel murah, tentu harus tahu diri, pastilah keberadaan fitur-fitur tambahan harus banyak di eliminir. Seperti infrared, layar warna dan akses GPRS jangan harap ditemui pada ponsel ULC. Kemudian tidak kalah penting adalah dukungan dari vendor chipset, sebuah chipset adalah ‘otak’ dari beroperasi nya suatu ponsel. Seiring berjalannya program GSMA para vendor chipset juga turut menurunkan harga jual chip ke vendor ponsel. Texas Instrument, Philips, Qualcomm dan Infineon adalah beberapa vendor yang menghadirkan integrated single chip circuit untuk ponsel ULC. Dampak chipset baru ini adalah mampu mengurangi BOM (bill of materials) yang diemban sebuah ponsel.

Seperti dikutip dalam www.telecomasia.com, Goran Nastic seorang analis dari VisionGain menyebutkan hasil integrated single chip circuit berupa desain basic ponsel yang hanya mengandalkan fungsi voice dan text. Penggunaan sebuah chipset memakan biaya sekitar 23 dollar AS. “Dengan pengembangan teknologi, proses testing, perakitan dan pengemasan diyakini BOM chipset akan dapat diturunkan hingga 15 dollar AS pada tahun 2006 mendatang”, ujar Goran.

Malahan divisi semiconductor Philips sudah menawarkan harga chipset super murah, produk nya diberi nama Nexperia single chip solution yang berharga per unit hanya 5 dollar AS. Dengan harga chipset 5 dollar, beberapa pengamat meyakini vendor dapat menjual paket ponsel baru seharga 20 dollar AS saja. Selain fitur chipset yang dikurangi, space board pada chipset juga ikut dikurangi. “Pada chipset reguler terdapat sekitar 150 hingga 200 komponen pada board. Sedang untuk kebutuhan ponsel ULC jumlah komponen pada chipset dapat dikurangi hingga kurang dari 100 komponen”, kata H.P Ang, vice president of Infineon Asia Pacific. Dengan integrasi circuit pada akhirnya juga menurunkan biaya testing dan kalibrasi chipset yang biasanya memakan waktu 60 detik menjadi hanya 1 detik.

Margin yang Kecil
Butuh kesiapan bagi vendor untuk berani terjun ke pasar ULC. Goran Nastic menyebutkan faktor profit margin menjadi kesulitan vendor untuk memasarkan ponsel ULC. Menurut Nastic diperkirakan profit margin ULC belum akan berkembang pada tahun 2006 mendatang. Namun tentu itu semua sangat bergantung pada struktur biaya yang diadopsi masing-masing vendor. Hal senada juga diakui oleh Yanty Agus, marketing manager mobile devices PT. Motorola Indonesia, diakatakan dari sisi margin ponsel ULC memang tidak besar, namun hal itu bisa ditutupi dari volume produksi dan penjualan yang tinggi.

“Sampai saat ini rangkaian seri ponsel ULC Motorola sudah terjual dengan memuaskan”, ujar Yanty Agus, meski disayangkan Yanty tidak menyebutkan bilangan angkanya. Perlu dicatat, untuk mendukung harga jual ponsel yang murah, Motorola memiliki dukungan pabrik di Singapura. Hal ini dapat memperkecil proses biaya distribusi, pabrik ponsel Motorola di Singapura melayani distribusi untuk negara Asia Tenggara.

Bukan Tanpa Tandingan
Pasar ponsel ULC bukan tanpa tandingan, beberapa pemain industri ponsel banyak yang melakukan impor ponsel murah dari Cina. Langkah pemain tersebut kemudian melakukan perubahan branding dengan grafir merek yang baru. Contohnya perusahaan MCorp Clobal dari India menjual ponsel murah dengan harga antara 35 dollar AS sampai 60 dollar AS. MCorp sendiri melakukan import ponselnya dari Cina dan Taiwan. Di Indonesia vendor Sanex juga menjual ponsel yang sebelumnya diimpor dari perusahaan DBTEL Cina. Fenomena yang berbeda muncul di Amerika Serikat, dimana ponsel Hop On (sekali buang) dijual dengan harga hanya 36 dollar AS.

Baterai AAA untuk ULC
Untuk mendukung misi ULC, Infineon sebagai vendor chipset ternama dari Jerman punya kreasi tersendiri. Infineon menciptakan E-Gold Chipset solution. Kelebihannya selain mampu mengurangi banyak komponen, E-Gold dirancang khusus menggunakan tenaga dari rechargeable AAA betteries. “Konsep chipset ini dirancang untuk mengakomodasi telekomunikasi mobile di wilayah yang belum terdapat jaringan listik”, ujar H.P Ang. Ide ini mengingatkan keberadaan ponsel-ponsel Alcatel yang dahulu pernah menggunakan baterai AAA. Cuma perlu diketahui pula, harga baterai AAA terbilang tidak murah untuk sekedar komunikasi singkat.

(Nov05)

8 Apr 2008

‘Kaya’ Pulsa dari Terima Telepon










Selain membeli voucher, ada cara lain untuk menambah pulsa. Tidak perlu keluar uang, cukup tahan pembicraan rekan yang menelepon, pulsa Anda otomatis akan bertambah


Ini merupakan sebuah kisah nyata, sebut saja namanya Yitno (26 tahun) yang berprofesi sebagai penjaga malam di sebuah penerbitan surat kabar. Yitno tergolong pribadi yang boros pulsa dalam berponsel, maklum pemuda ini memang doyan ber SMS ria hingga pulsa puluhan ribu ‘ludes’ dalam semalam. Jika ditilik dari penghasilan, sebenarnya Yitno tidak memiliki penghasilan besar alias pas-pasan saja. Lajang ini pun tidak punya usaha sampingan. Lalu pasti muncul pertanyaan, dari mana Yitno memproleh pulsa?

Setelah ditelesuri Yitno ternyata orang yang mahfum soal layanan operator. Jurus Yitno cukup praktis untuk mengisi pulsa, tidak perlu keluar dana pribadi. Caranya Yitno diam-diam melakukan panggilan ke nomer ponsel miliknya sendiri melalui telepon tetap kantor. Cukup diamkan beberapa saat, bahkan bisa jadi hitungan jam pulsa ponsel Yitno bertambah secara lumayan. Apa yang dilakukan Yitno tergolong perbuatan tercela, dan kini yang bersangkutan mendapat hukuman berat di kantornya. Hal diatas adalah sebagian efek negatif dari promo terima pulsa dari panggilan masuk. Meski jika dilihat lebih jauh, dampak positif promo ini juga sangat banyak.

Di Tanah Air promosi bertajuk terima pulsa dari panggilan masuk pertama kali diperkenalkan oleh Esia, dengan program yang diusung ‘terima telepon dapet duit’ Program ini mulai diluncurkan bulan Januari lalu, dengan respon yang begitu besar promo ini pun diperpanjang dari yang seharusnya berakhir April bergeser hingga akhir Desember tahun ini. Mengikuti jejak Esia, promo dengan tajuk ‘bonus panggilan masuk’ dicanangkan oleh XL pada awal September lalu.

‘Operator memberi diskon tarif ke pelanggan saat telepon itu sudah biasa, tapi memberi pulsa saat menerima telepon tentu ini baru yang luar biasa," ujar Charles Sitorus, vice president retail sales Esia. Promo Esia ini ditujukan bagi pengguna paska dan pra bayar. Sebagai ilustrasi pelanggan Esia yang menerima telepon dari operator manapun akan bertambah pulsanya Rp 50,- untuk setiap menitnya. Sehingga jika dikalkulasi dalam satu jam menerima telepon pulsa Anda sudah bertambah Rp 3000,-

XL memberikan iming-iming yang sedikit lebih tinggi. Untuk satu menit menerima panggilan pulsa akan bertambah Rp 60,-, dan jika dikalukasi dalam satu jam pulsa sang penerima sudah bisa bertambah Rp 3600,-. Hanya saja promo XL ini diperuntukkan bagi pengguna kartu pra bayar Jempol dan Bebas. Bonus pulsa akan diterima pelanggan jika pelanggan melakukan percakapan minimal 30 detik. Promo ini juga berlaku bagi pengguna paket SMS dan bicara. ‘Tujuan promo ini lebih ditekankan untuk memelihara loyalitas pelanggan existing, dan baru kemudian memberi sensasi untuk menarik pelanggan baru,” ujar Riza Rachmadsyah, manager Bebas XL.

Terkait Interkoneksi?
Dalam hitung-hitungan bisnis, promo yang dilakukan kedua operator diatas bersinggunggan dengan biaya interkoneksi. Pasalnya melibatkan komunikasi lintas operator. Bayu Samudiyo, GM prepaid XL menjelaskan sudah pasti ada biaya khusus yang dikeluarkan operator untuk mendukung promo ini. Namun Bayu tidak dapat menjelaskan lebih rinci apakah bonus panggilan masuk berasal dari keuntungan intekoneksi. “Ini adalah promo yang wajar, biaya yang dikeluarkan bisa dimaksudkan sebagai sebuah investasi,” ujar Bayu. Dtambahkan XL memberlakukan promo ini dalam jangka pendek saja, sebagaimana bentuk promo-promo lainnya.

Begitu pula Charles Sitorus tidak memberikan keterangan terperinci dalam kaitan interkoneksi. “Dahulu kita menggunakan sistem SKA (sender keeps all) untuk telepon loka dimana operator awal akan mendapatkan keseluruhan biaya percakapan telepon. Namun seiring perkembangan sistem ini digantikan dengan pola revenue sharing. Dengan pola revenue sharing semua pihak mendapatkan manfaat yang maksimal dari pelayanan komunikasi,” kata Charles.

Pola promosi terima panggilan dapat pulsa sebenarnya sudah terlebih dahulu populer di luar negeri seperti Malaysia dan beberapa negara Eropa. Sebagai contoh Sunrise, operator GSM di Swiss memberikan bonus 0,05 CHF (Swiss Franc) per menit pada tiap panggilan masuk. Hanya Sunrrise memberikan maksimum kredit per panggilan sebesar 0,75 CHF.

Menyangkut biaya Interkoneksi, sampai saat ini pembasahannya masih kontroversial. Mengigat ada berbagai macam pemahaman yang berbeda diantara pemain di industri ini. Ditjen Postel dalam siaran pers tanggal 5 Oktober lalu bahkan mengeluarkan siaran pers tentang masih berlanjutnya pembahasan seputar intekoneksi. Ditjen Postel menyadari bahwa pola revenue sharing dalam pengaturan interkoneksi tidak lagi sesuai dengan iklim kompetisi. Lepas dari problema yang ada, bonus pulsa dari ‘limbah’ interkoneksi bisa menjadi ptomo yang sangat menarik, dan tentunya sangat berguna bagi kebanyakan orang secara positif. Misalnya promo ini bisa menjadi ‘alat’ pertolongan bagi kerabat yang kebetulan kesulitan mendapat tambahan pulsa.

(Nov05)

2 Apr 2008

Kolaborasi BenQ Siemens




Siemens punya nama besar sebagai vendor ponsel. Namun per 1 Oktober 2005 Siemens Mobile tidak lagi murni berdarah Aria, masuknya BenQ dipastikan bakal membawa perubahan besar. Bagaimana dan apa saja yeng berubah?


Sejumlah tanda tanya muncul bagi para pemerhati dan pecinta ponsel Siemens, apa yang bakal terjadi setelah tanggal 1 Oktober mendatang? Memang sudah jelas bulan Juni lalu divisi mobile Siemens device telah beralih kepemilikan pada BenQ group. Sekedar mengingat kembali, kesepakatan yang dilakukan kedua pihak mencakup pengalihan usaha secara penuh semua aset unit bisnis, di dalamnya termasuk tiga pabrik Siemens yang berlokasi di Kamp linfort (Jerman), Shanghai (Cina) dan Manaus (Brazil). Tidak hanya itu, elemen litbang, teknologi, karyawan, manajemen dan intelektual properti juga turut diakuisi, menjadi hak penuh pihak BenQ.

Meski begitu ada banyak pertanyaan yang membuat penasaran tentang kelanjutan ponsel Siemens. Maklum tidak sedikit penggemar ponsel asal negeri Bavaria ini. Hingga kini baik pihak Siemens dan BenQ masih sama-sama tutup mulut seputar apa yang terjadi setelah tanggal 1 Oktober mendatang. Keterangan pers resmi menyebut sampia 18 bulan setelah kesepakatan nama tetap memakai Siemens, lalu setelah itu hingga lima tahun bakal memakai brand BenQ Siemens. Menjadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan sistem distribusi ponsel Siemens yang sudah ada di Tanah Air? Jawabnya lag-lagi juga belum jelas. Menurut kabar yang di peroleh dari pihak PT. Siemens Indonesia, untuk sementara waktu distribusi ponsel Siemens dan ponsel BenQ masih dibiarkan jalan sendiri-sendiri dahulu.

Entah ada hubungan atau tidak dengan program akuisisi, BenQ mobile per tanggal 20 Juli lalu secara resmi mulai masuk ke pasar Indonesia, lewat kerjasama dengan PT. Metrotech selaku distributor tunggal. Sedang di lain pihak ponsel Siemens sudah sejak tahun 1995 hadir di Indonesia dengan jaringan distribusi PT. Dian Graha Elektrika sebagai distributor tunggal ponsel Siemens di Tanah Air. Peran distributor ibarat nafas bagi peredaran ponsel di pasar, jadi kiprah pihak distributor teramat vital seperti sistem sales dan pendanaan.

Martono Jaya Kusuma sekalu presiden direktur PT. Metrotech dalam kesempatan peluncuran BenQ mengatakan bahwa pihaknya belum tahu apa yang terjadi setelah tanggal 1 Oktober. Metrotech sendiri sudah cukup punya pengalaman dalam memasarkan consumer product BenQ seperti monitor dan komputer. Dengan jaringan distribusi dan penjualan yang ada, pihak Metrotech pun merasa tidak kesulitan dalam meng handle penjualan dan layanan perbaikan ponsel BenQ. Sementara PT. Dian Graha sudah punya pengalaman panjang hingga merek Siemens hingga sempat menjadi vendor ponsel kedua terbesar di Tanah Air. Jaringan distribusi PT. Dian Graha pun sudah ‘battle proven’ plus dukungan Siemens Mobile Customer Care (SMCC) yang terdapat di 27 lokasi yang tersebar pada kota-kota besar.

Entah apa yang terjadi per 1 Oktober mendatang, yang jelas banyak pihak berharap sinergi dua kekuatan itu bisa menghasilkan produk yang baik dan diterima pasar. Aloysius chong, analis IT dari International Data Corporation (IDC) punya pendapat bahwa BenQ saat ini perlu mengambil langkah cepat bagi penyegaran bisnis. “BenQ harus memanfaatkan sebaik-baiknya keunggulan yang dimiliki Siemens, khususnya jaringan distrubusi, terutama di wilayah Eropa dan Amerika Latin yang belum di mampu ditembus BenQ mobile”, ungkap Aloysius Chong. Untuk urusan produksi pun nantinya akan diterapkan kolaborasi sistem, kabarnya produkis ponsel kelas high bakal dilakukan di pabrik Kamp lintfort, sebaliknya pabrik di Taiwan lebih difokuskan pada penanganan ponsel entry level.

Pernah Berjaya di Masa Lalu
Langkah strategis Siemens AG melepas divisi Siemens mobile device sudah pasti dikarenakan kerugian yang terus menerus menghantam dua tahun belakangan. Siemens kurang begitu sukses di pasar pada seri 55 dan 65. Untuk seri 55 dipandang vendor ini agak telat meluncurkan produk ke pasar, padahal vendor lain dengan teknologi lebih unggul sudah lebih dulu launch di pasar lokal. Begitu pula seri 65, banyak yang beranggapan juga telat, padahal dari sisi teknologi cukup bagus. Cuma sayang Siemens harus ‘berdarah-darah’ di seri 65, banyak software nya yang trouble. Akibatnya Siemens di Eropa harus menarik ribuan unit produk yang ada di pasaran.

Sebagai gambaran total kerugian unit bisnis Siemens device pada tahun fiskal 2004 mencapai 152 juta Euro. Penjualan pun terus merosot, dari Januari hingga akhir Maret turun 27,3 persen atau 9,3 juta unit, sedang pada periode yang sama tahun sebelumnya penjualan mencapai angka 12,8 juta unit. Kerugian per hari pun disebutkan mencapai 1 juta Euro.

Lothar Pauly, president and CEO Siemens Communication pernah mengungkapkan jika ada kelambatan distribusi hal tersebut lebih dikarenakan masalah shipping (pengapalan). Siemens bukan vendor kacangan di Indonesia. Meski kini sudah diakuisisi BenQ, pada periode tahun 2000 sampai 2002 pernah menjadi vendor peringkat dua besar setelah Nokia di Indonesia. Di kala itu produk seri C/M/S 35, seri ME45, S45 dan SL45 sangat laris di pasar. Data dari Gfk Asia Ptr Ltd tahun 2001 pernah menjelaskan posisi Siemens pernah menyodok Ericsson.
Menjelang dijalankannya akuisisi justru tidak ada perubahan pada pola pemasaran ponsel Siemens di Indonesia. Terbukti PT. Dian Graha malah menggenjot penjualan seri M 75 dan CX75 yang menjadi andalan. Di pasar internasional pun demikian, malahan Siemens pada 11 Agustus lalu di Madrid, Spanyol kembali meluncurkan seri terbaru CF110 dan CC75.

Margin pun Merosot
Informasi dari Gartner menjelaskan pada kuartal pertama tahun ini penjualan ponsel di dunia mencapai lebih dari 750 juta, meningkat 13 persen dari kuartal pertama tahun lalu. “Saat ini lebih banyak ponsel yang terjual, tetapi margin keuntungan dari vendor terus menyusut. Ini disebabkan konsumen baru lebih banyak membutuhkan ponsel dengan harga murah, dan kompetisi yang ketat antar vendor mengharuskan harga jual semakin rendah”, papar Ben Wood, researh VP for mobile terminal Gartner. Tren ini menjadikan vendor-vendor kecil semakin tertekan dengan margin kecil. Beberapa vendor yang tidak kuat memilih menutup usaha atau melakukan penjualan unit bisnis. Tidak hanya Siemens yang mengalami cerita pilu ini, pola yang serupa pun harus dilalui Alcatel dengan menjual unit bisnis ponselnya ke TCL. Melihat pola-pola ini, sudah pasti kisah sukses Sony Ericsson layak jadi rujukan vendor yang kepepet.

(Sep05)