Tampilkan postingan dengan label Beranda Kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beranda Kolom. Tampilkan semua postingan

15 Nov 2010

Efek Perang Tarif : Pengguna Bingung, Siapa Lagi Yang Buntung ?
























Sebagai pengguna telepon selular, saya termasuk yang pusing tujuh keliling dengan perang tarif yang makin lama kian tidak jelas. Meski sebagai pengguna kartu paska bayar, saya juga memiliki beberapa nomor pra bayar yang (terus terang saja) dipilih karena mempertimbangkan tarif tadi. Pusing pertama karena bingung memilih mana yang sebenarnya paling murah. Dan pusing kedua karena siapa yang paling murah ternyata bisa saja berganti dalam hitungan hari. Itu artinya nomor tersebut harus dihanguskan atau membeli nomor baru. Semua tahu, mengelola dan menghidupkan banyak nomor selular sekaligus tak semudah yang diperkirakan.

Jika dulu perang promosi antar operator lebih bervariasi dari sekedar permainan tarif, sekarang komponen tarif seperti menjadi mendominasi perang antar operator. Dahulu operator masih bisa berpromosi sambil membanggakan luasnya jaringan, kejernihan suara, hingga layanan tambahan lainnya. Namun kini, promosi sangat fokus pada berapa nominal rupiah yang dikeluarkan per detik dan yang paling konyol lagi sampai muncul persepsi perang tarif operator saat ini adalah perang angka nol paling banyak.

Penurunan tarif percakapan khususnya percakapan lokal cepat atau lambat harus dan akan segera terjadi mengingat rencananya mulai April 2008 akan diberlakukan tarif interkoneksi baru yang akan turun hingga 30%. Namun yang tidak disadari oleh para pengguna adalah, apakah operator telah siap dengan skenario lonjakan pengguna yang tinggi dalam waktu singkat. Bisa jadi mereka tidak peduli, karena yang penting murah, putus-putus atau mati di tengah jalan adalah konsekuensi.

Perang tarif yang semakin lama semakin norak (setidaknya menurut saya) di satu sisi merupakan fenomena bisnis yang biasa, namun menjadi tak biasa karena pihak operator sibuk mengekplorasi komponen yang tidak penting dan sepertinya sengaja untuk mengorbankan perang di tataran kualitas layanan. Padahal, dengan diturunkannya tarif percakapan oleh sebuah operator, dalam waktu singkat akan memacu keinginan pengguna secara signifikan untuk terus berbicara yang akhirnya meningkatkan kepadatan lalu lintas percakapan.

Jika menilik pengalaman pas hari raya saja, dimana jaringan operator seringkali tumbang dan kepentingan pengguna tak terlayani dengan baik, bisa dibayangkan jika kondisi tersebut berlangsung setiap harinya. Idealnya penurunan tarif harus diimbangi kenaikan kapasitas jaringan dan ini berarti peningkatan biaya. Nyatanya, penurunan tarif percakapan yang diikuti dengan kenaikan volume percakapan tidak serta merta ikut menyumbang peningkatan pendapatan yang signifikan bagi operator. Dan kondisi ini berimbas dengan skenario terburuk, tidak akan ada peningkatan kualitas jaringan yang sebanding dengan peningkatan jumlah penggunaan jaringan oleh pengguna.

Dari kacamata pribadi, perang tarif menunjukkan bahwa operator mulai kehabisan ide untuk memenuhi target pengguna selular yang dilayaninya. Yang lebih ironis, operator justru berebut pasar yang memang tidak loyal. Pada akhirnya bukan operator saja yang buntung, komponen lain yang bersinggungan dengan dunia selular juga ikut murung. Dengan biaya percakapan yang nol sekian rupiah per detik, masih jauh lebih murah ketimbang akses 1 Kbyte data dengan menggunakan GPRS atau 3G yang berkisar 10-25 rupiah per Kbyte-nya.

Ini artinya, konten terasa semakin mahal jika ditilik dari tarif percakapan. Dan ini imbasnya, bisnis konten menjadi semakin sulit meraup keuntungan padahal situasi saat ini sudah sangat berat. Dan bukan rahasia lagi jika bandwidth untuk penggunaan bisnis konten oleh Content Provider selalu mendapatkan porsi yang jauh lebih kecil. Dalam jangka panjang bisnis konten akan semakin mandek, tak akan banyak inovasi muncul, peluang baru pun akan mati. Siapa yang rugi? (Antonius Aditya Hartanto – Praktisi Konten Multimedia)

5 Nov 2010

Bisnis Konten, Tak Ramah Bagi Pendatang Baru


















Banyak hal menarik yang perlu dicatat seputar fenomena pertumbuhan bisnis konten yang tumbuh pesat tiga tahun terakhir di Indonesia. Selain munculnya banyak alternatif layanan baru yang unik, di tahun-tahun tersebut SMS premium ternyata primadona utama bagi para Content Provider (CP), sesuatu yang mungkin tidak terjadi di negara lain.

Tampilnya SMS premium sebagai bisnis utama sebuah CP awalnya sedikit diluar perhitungan. Berbeda dengan layanan data melalui GPRS yang sebenarnya lebih kaya akan variasi layanan, SMS ternyata justru jauh bisa diterima oleh pengguna. Bahkan hingga saat inipun, turunan dari layanan-layanan terbaru yang dikeluarkan oleh CP-CP pun tak jauh-jauh dari pemanfaatan SMS Premium. Sekalipun hanya digunakan sebagai ‘media charging’ alias pentarifan saja. Alasannya sederhana saja, operator belum siap dengan model pentarifan premium terhadap layanan GPRS.

Meski tetap optimis, bisnis SMS premium sendiri sebenarnya sedang mengalami masa ‘kejenuhan’. Salah satunya adalah maraknya SMS Subscription alias PUSH. Sebagian besar CP tanpa dikomando, ‘memaksakan’ dan ‘terpaksa’ menyelenggarakan layanan ini untuk menjaga eksistensi bisnisnya. Meski mungkin bagi banyak orang terlihat biasa, namun fenomena ini memberi indikasi CP mulai sedikit ‘frustasi’ pasar yang ada. Fenomena ini juga memberi indikasi bahwa jumlah pengguna layanan-layanan SMS premium ini sendiri kurang tumbuh seperti yang diprediksikan. Jumlah nomor baru yang dikeluarkan memang bertambah, namun pengguna uniknya meningkat tidak seperti yang diprediksi. Untuk itu para CP berusaha menjaga konsistensi pendapatan dengan cara ‘memaksakan’ pengguna untuk berlangganan.

Bahayanya, layanan model ini rentan terhadap manipulasi dan kecurangan melalui pemaksaan yang mencoreng citra bisnis konten secara keseluruhan. Semuanya dilakukan ‘demi’ satu hal, mengejar ‘setoran’ agar CP yang bersangkutan tetap diperkenankan menggunakan jalur dari operator untuk berbisnis.

Bisnis konten melalui operator selular saat ini dapat dikatakan ‘masih’ menjadi milik segelintir perusahaan CP saja. Seperti mengikuti hukum pasar, CP-CP besar yang umumnya telah eksis lebih lama dan memiliki modal yang cukup besar telah mencaplok banyak hal. Praktis hanya CP-CP besar yang mampu mendominasi ruang publik melalui iklan-iklan. Saat ini bisa dikatakan hanya dua tipe CP yang mampu bertahan dalam persaingan usaha bisnis konten. Pertama yang masih memiliki biaya promosi yang besar dan kedua adalah yang memiliki basis komunitas yang kuat. Ini merupakan hal penting yang patut dicatat oleh calon pebisnis di bidang konten.

Bisnis CP sendiri merupakan bisnis yang “fair”. Indikatornya jelas! Tak boleh ada permainan harga oleh para CP, karena harga ditentukan secara sepihak oleh operator. Dan operator memiliki kendali atas segenap koridor dari konten yang boleh ditawarkan, terutama yang menyangkut pornografi dan SARA. Jadi praktis kompetisi antar CP sesungguhnya benar-benar pada kualitas dari layanan yang ditawarkan serta strategi pemasaran dari CP yang bersangkutan. Meski demikian terdapat beberapa perlakukan khusus terhadap CP-CP tertentu yang sudah besar, yang menurut saya sebenarnya wajar, namun di beberapa hal sering berlebihan misalnya dalam kemudahan penggunaan beberapa short code, dan sebagainya.

Salah satu permasalahan besar bagi CP-CP baru maupun yang masih kecil adalah perubahan regulasi mengenai batas minimal ‘revenue’ per bulan yang harus diperoleh setiap CP di setiap bulannya yang mulai ditingkatkan. Dalam hitungan matematis ala CP, jumlah nominal minimal tersebut kurang lebih setara dengan berapa nilai nominal iklan yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Persyaratan tersebut masih diembel-embeli bahwa nilai tersebut harus terpenuhi dalam kurun waktu 3 bulan berturut-turut. Dan yang menambah berat adalah ketika nilai tersebut gagal dipenuhi, maka CP yang bersangkutan tetap harus membayar ke operator jumlah “sharing minimal” yang telah disepakati. Jumlah revenue minimal yang harus dihasilkan ini bervariasi untuk setiap operator dan umumnya meningkat sesuai dengan jumlah pelanggan dari operator. Nilai sharingnya juga berubah sesuai dengan berapa nominal per bulan yang dapat dihasilkan oleh CP. Semakin besar, tentu nilai prosentase yang didapat oleh pihak CP juga semakin besar.

Sebenarnya, regulasi ini adalah positif adanya dan harusnya akan membuat CP-CP bekerja lebih professional. Terus terang CP harusnya diuntungkan dengan cara seperti ini secara tidak langsung. Namun kondisi ini harus dibarengi dengan kearifan dan keadilan operator dalam mengimplementasikan regulasi ini, mengingat meskipun kesuksesan sebenarnya ada di tangan para CP sendiri, namun sebenarnya nadi utama dari bisnis ini justru adalah operator. Mungkin ini catatan penting bagi operator bahwa CP-CP pun saat ini sudah menyumbang pendapatan yang cukup besar bagi operator.

Bagi CP-CP yang baru dan akan muncul, pikirkan strategi lebih dalam lagi sebelum melangkah. Mulailah dengan produk unik. Jangan banyak membuang ‘resource’ dengan mencoba banyak media promosi tanpa perencanaan matang dan data yang akurat tentang efektifitas dari media yang bersangkutan. Ingat! Pengguna selular semakin cerdas. Tetaplah fokus pada SMS. MMS memang cukup menarik, namun SMS jauh bisa diterima masyarakat Indonesia dan tingkat kegagalan pentarifannya relatif lebih rendah. Jadi, peluang bisnis konten tetaplah menarik. Meski demikian, anda harus cermat karena kompetisi bisnis konten semakin berat. (Antonius Aditya Hartanto, Praktisi Bisnis Konten)

9 Mei 2010

Setelah Model Qwerty, Model Ponsel Apa Yang Akan Jadi Tren ?













Sudah menjadi realita bahwa ponsel qwerty mendominasi pasar ponsel di Indonesia. Beberapa pemain lokal/baru ikut menyemarakan pasar qwerty di Tanah Air dengan harga bervariasi dari Rp500.000 sampai Rp1.000.000. Semaraknya pasar ponsel qwerty mengindikasikan dengan jelas bahwa konsumen Indonesia begitu menginginkan jenis ponsel qwerty.

Pertanyaannya, kenapa ponsel qwerty begitu fenomenal di pasar Indonesia? Perlu kita ketahui bahwa fenomena ini hanya terjadi di Indonesia. Tidak pernah terjadi di negara lain. Sebelum fenomena ponsel qwerty, Indonesia juga pernah mengalami fenomena ponsel tipe communicator di tahun 2004, yaitu Nokia 9500/9300, dan tahun 2007 yaitu Nokia E90. Harga ponsel tersebut pernah mencapai 200% saat pertama kali dirilis ke pasar. Saat itu Communicator menjadi ponsel yang diidam idamkan oleh konsumen Indonesia. Hanya saja pada waktu itu tidak banyak pemain lokal yang menawarkan produk yang sejenis.

Communicator bisa dikatakan ponsel cerdas dengan spesifikasi tertinggi saat itu. Dan kita akui bahwa Nokia Communicator membawa tren baru dalam bisnis ponsel. Tren yang dapat membawa si pemakai merasakan bahwa dirinya adalah orang yang sukses dalam berbisnis dan membawa prestis karena membawa perangkat yang mahal. Disini kita dapat bermain matematika, bahwa ponsel tipe communicator dapat bertahan dari tahun 2004 hingga 2008. Selama 4 tahun untuk 3 tipe ponsel menjadi ponsel idaman konsumen Indonesia.

Seiring dengan perjalanan waktu, ponsel qwerty mulai diperkenalkan. Hanya beberapa pemain yang memulai memperkenalkan produknya di pasar Indonesia, diantaranya Blackberry dan Nokia tipe E61. Hanya saja konsumen awalnya belum melirik pada ponsel qwerty, dengan alasan keypad terlalu kecil, susah untuk mengirim SMS, berbadan tebal, tidak mempunyai kamera, dan sebagainya. Sedangkan disisi fungsional, ponsel qwerty ini menitik beratkan pada layanan push email. BlackBerry Enterprise Service (BES) pertama kali diperkenalkan oleh Indosat untuk push email pelanggan korporat di tahun 2005.

Dengan BlackBerry email dapat diakses setiap waktu, semua informasi dapat diraih dengan cepat. Atasan senang karena produktivitas anak buah sangat tinggi. Selain itu fitur Blackberry messenger (BBM) dan chatting (Yahoo Messengger, Windows Messengger) yang menjadi andalan ponsel blackberry. Hanya saja keterbatasan jumlah populasi Blackberry tidak banyak sehingga BBM tidak populer pada saat itu. Dan BBM hanya dapat digunakan pada ponsel Blackberry. Sedangkan chatting memberikan alternatif baru dalam era berkomunikasi. Menggunakan Yahoo Messengger (YM) atau Windows Live dapat digunakan antar ponsel dengan beragam platform atau juga dengan PC yang terhubung ke internet. Nah disinilah kebutuhan akan chatting pada ponsel mulai disukai.

Melihat kebutuhan pasar akan chatting, push email,dan Web browsing maka operator pun tak mau ketinggalan akan peluang emas ini. Maka diperkenalkan Blackberry Internet Service (BIS) untuk memenuhi kebutuhan pasar. Hanya saja layanan BIS waktu diperkenalkan sangat mahal untuk biaya bulanan, belum lagi handset BlackBerry juga dijual dengan harga tinggi. Akan tetapi disinilah tren baru mulai terbentuk, dimana ada ponsel cerdas mahal yang bisa push email, chatting, dan social networking. Suatu kombinasi yang unik untuk menciptakan sebuah tren baru. Dan juga statement dari Presiden Amerika Serikat “Barrack Obama” yang sangat susah menukar ponsel Blackberry nya dengan yang lain. Jadi boleh disimpulkan bahwa tren ponsel qwerty adalah ponsel yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna seperti chatting, push email, Facebook dan dasar fungsi telpon yakni telpon dan SMS.

Pada awalnya, ponsel qwerty masih didenominasi oleh vendor merek global yang menjual produk dengan harga tinggi. Bagi para para pelaku pasar hal ini merupakan peluang emas. Dimana pelaku pasar menyisiasatinya dengan memberikan ponsel qwerty dengan harga terjangkau yang juga dilengkapi fasilitas chatting dan Facebook. Untuk memperkuat penetrasi pasar, dilakukan kerjasama dengan operator untuk memberikan layanan data yang murah. Sekarang tersedia lebih dari puluhan merek ponsel nasional yang berada di pasar dengan beragam fitur, warna, dan spesifikasinya.

Nah pertanyaannya, apakah ponsel qwerty juga mampu bertahan selama 4 tahun hingga 2012? Melebihi masa edar communicator. Atau tipe ponsel apa yang sekarang ini membayangi ponsel qwerty? Dilihat dari keberadaan jenis ponsel di pasar, maka mulai banyak merek yang menyediakan ponsel layar sentuh. Dilihat dari pemain papan atas, menengah, dan bawah semuanya menawarkan ponsel berlayar sentuh.

Jadi siapa pemenangnya? Apakah ponsel layar sentuh yang bakal menggantikan segmen qwerty? Atau perpaduan antara qwerty dengan layar sentuh? Tidak ada yang bisa menjawabnya sekarang. Yang terpenting adalah sebuah ponsel yang harus dapat memenuhi fungsi dasar telepon yakni telpon, SMS, chatting, push email, social networking dan internet. (Trisnawan Tjipto, Praktisi Telekomunikasi)

11 Mar 2010

Antara Strategi Bundling dan Promo Limited Edition




















”operator dan tokolah yang nantinya akan mem-bundling kontrak dengan ponsel yang sesuai dengan besarnya kontrak”


Berbagi sedikit pengalaman saat kuliah di negeri Kincir Angin, saya sempat magang di perusahaan ponsel ternama di kota Delft, Belanda selama setengah tahun. Sudah lumrah bila dilucurkan sebuah produk baru, saya selalu berkesempatan untuk menjajalnya. Seperti sudah diketahui, pasar ponsel di belahan Eropa Barat didominasi oleh segmen pasca bayar, dimana yang berlaku adalah ’hukum’ kontrak untuk berlangganan selama periode 1 atau 2 tahun. Kebanyakan ponsel bahkan tidak di-operator locked, sehingga dapat digunakan dengan kartu SIM dari operator lain.

Seringkali operator mengadakan promosi yang menarik, sehingga dianggap ‘good deal”. Dengan biaya bulanan yang tidak terlalu mahal, paket percakapan dan SMS yang memadai, pengguna ponsel bisa mendapatkan ponsel terbaru yang apabila dibeli tanpa berlangganan akan mahal sekali harganya. Spesial paket seperti ini biasanya di SIM-locked untuk jangka waktu 1 atau 2 tahun (bergantung pada lamanya kontrak), dan hanya bisa digunakan dengan SIM-card operator langganan. Cirinya antara lain memiliki logo operator di body ponselnya. Serupa dengan pola paket ponsel BlackBerry dengan Indosat yang mengadopsi sistem locked.

Dengan pola tersebut bisa dibilang pasar yang ada mengadopsi konsep operator market. Bahkan, ponsel pasca bayar pun kebanyakan di bundle oleh operator, seperti yang dilakukan kebanyakan operator CDMA di Tanah Air.

Strategi Limited Edition
Untuk menambah hangatnya persaingan, vendor seperti tempat saya magang kerap membuat ‘exclusive deal’ dengan operator. Bentuk kerjasamanya bermacam-macam. Namun yang sering dilakukan adalah eksklusivitas warna. Contohnya untuk sebuah handset yang menduduki peringkat 1 Gfk (Growth for Knowledge, market research company) selama berminggu minggu, vendor mengeluarkan lebih dari 5 warna berbeda. Satu warna adalah warna dasar dan tidak diperuntukkan special operator ataupun toko. Warna lainnya merupakan hak eksklusif dari operator yang berbeda, atau toko yang meminta warna khusus untuk menyambut event tertentu.

Sebagai contoh, warna pink sebuah ponsel hanya diproduksi secara eksklusif untuk toko ponsel bernama The Phone House dalam rangka menyemarakkan hari Valentine. Warna emas, hanya diproduksi khusus untuk sebuah operator dalam rangka menyemarakkan acara pemilihan Elite Model Look. Selain itu, ketika vendor tempat saya magang dan salah satu operator terbesar di Belanda sama-sama mensponsori sebuah film box-office bertemakan cinta, warna merah pun ditelurkan ke pasaran. Warna warna eksklusif ini membuat ponsel menjadi limited edition, dan bisa menambah kebanggan bagi sang pemilik ponsel.

Dilihat dari kacamata vendor, kerjasama dengan operator dan retail akan membantu meningkatkan penjualan, terutama jika dipadu dengan strategi pemasaran yang efektif dari pihak vendor sendiri. Walaupun vendor dapat berinisiatif untuk menawarkan berbagai jenis ponsel yang custom made untuk operator tertentu, operator dan tokolah yang nantinya akan mem-bundling kontrak dengan ponsel yang sesuai dengan besarnya kontrak.

Tampaknya praktek ini dirasa masih sulit untuk diterapkan di Indonesia. Kendala utamanya bukanlah terbatasnya kreativitas orang Indonesia dalam menciptakan paket yang menarik, tapi lebih kepada masih rendahnya jumlah penggunaan pasca bayar. Sistem pasca bayar di negara maju sangat sistematis dan juga kuat dilindungi hukum dan badan kredit. Apabila ada konsumen yang tidak membayar otomatis namanya di black list di badan kredit nasional.

Di Indonesia tampaknya institusi terkait masih belum terintegrasi sepenuhnya dan koordinasi antar institusi dirasa masih kurang. Misalnya, masih ada orang yang memiliki 2 buah KTP. Walau banyak tantangannya, seiring perkembangan sistem pemerintahan dan perbankan, sebenarnya kontrak bundling dengan ponsel bisa dikembangkan lebih jauh. Pola di Indonesia bisa saja benar-benar sama seperti di Eropa tadi, tapi untuk implementasi secara besar-besaran mungkin pihak operator masih harus berpikir cermat. Maklum semakin besar unit yang dilempar ke pasar, risiko yang ditanggung juga cukup tinggi. (Adinda Nesvia, Pemerhati Telekomunikasi, saat ini bekerja di salah satu vendor ponsel)

16 Feb 2010

Memandang Masa Depan Layanan Data














”Dari sisi pemasukan, operator sudah tidak bisa lagi mengharapkan angka yang tinggi dari layanan suara dan SMS”


Tren penggunaan telepon sekarang sudah meningkat jauh dari sekedar berbicara dan mengirim serta menerima pesan singkat (SMS). Didorong oleh sebuah operator yang menggebrak pasar dengan memperkenalkan layanan GPRS di tahun 2001 yang lalu, secara perlahan masyarakat mulai merangkul layanan-layanan berbasis data. Ini berarti permintaan akan layanan-layanan berbasis data juga meningkat. Dengan demikian, para operator mau tidak mau harus mengikuti permintaan pasar dan konsumen. Jika tidak, ada resiko ditinggalkan pelanggan.

Tantangan yang dihadapi para operator terutama timbul dari sisi infrastruktur. Diperlukan perubahan yang cukup signifikan, dari perangkat yang sebagian besar berbasiskan suara, menjadi ke perangkat yang berbasiskan data, atau Internet Protocol (IP). Ini artinya komitmen investasi yang cukup besar. Migrasi yang terjadi tentunya memakan sumber daya yang tidak sedikit.

Selesainya deployment perangkat baru tidak secara otomatis berarti selesainya proses migrasi. Masih banyak yang harus dipertimbangkan oleh operator. Misalnya, pembagian kue prioritas antara suara/SMS dengan data. Untuk bisa mencapai keseimbangan antara pelanggan yang membutuhkan layanan suara/SMS dengan pelanggan yang membutuhkan layanan data, para operator sebaiknya menerapkan fitur Quality of Service (QoS). Fitur ini sudah dimungkinkan dalam perangkat berbasis IP.

Namun pengorbanan yang terjadi akibat migrasi ini dengan cepat bisa tergantikan oleh berbagai keuntungan dengan mengandalkan layanan berbasis data. Dari sisi pemasukan, operator sudah tidak bisa lagi mengharapkan angka yang tinggi dari layanan suara dan SMS, apalagi di tengah-tengah perang tarif yang saat ini masih berkecamuk. Bahkan jika perang tarif ini masih terus berlangsung hingga beberapa bulan mendatang, jangan heran jika terjadi konsolidasi antara dua operator atau lebih, karena sudah kehabisan amunisi.

Untuk itu, layanan data menjadi alternatif pemasukan yang bisa menggiurkan. Mulai dari hal-hal sederhana seperti konten mobile (nada dering, wallpaper, nada sambung pribadi, dan sebagainya), panggilan video, hingga layanan bisnis seperti push mail. Perlu diingat bahwa meskipun jumlah pelanggan bisnis/korporat tidak sebanyak individu, pemakaian data mereka lebih besar. Selain push mail, masih terbuka luas peluang dalam layanan terkelola (managed service). Berarti masih banyak lagi yang bisa digali dari layanan data.

Jika kita perhatikan dengan jeli, layanan data nyaris tidak tersentuh perang tarif. Ada dua kemungkinan terjadinya hal ini, yaitu operator mungkin masih belum menyadari pentingnya layanan data sebagai masa depan mereka, atau operator justru sadar bahwa arus penerimaan dari layanan suara dan SMS sudah kering, dan sudah saatnya untuk menggali arus penerimaan baru dari layanan data.

Jika kemungkinan kedua ini yang dilakukan oleh para operator, maka artinya mereka sudah siap untuk menghadapi masa depan. Karena dengan mengandalkan layanan data yang didukung oleh perangkat berbasis IP, pintu-pintu peluang bagi para operator terbuka lebar. Jika layanan-layanan diibaratkan sebagai mobil, maka IP merupakan jalannya.

Jika perangkat-perangkat sudah sepenuhnya berbasis IP, pembaruan di masa depan juga menjadi lebih mudah karena IP merupakan standar terbuka. Jadi, nyaris tidak akan ada masalah kompatibilitas, karena semua perangkat berbasis IP saling berbicara dengan bahasa yang sama. Di perangkat-perangkat legacy, ini tidak dimungkinkan. Dengan begitu, pengembalian investasi juga lebih cepat, karena waktu yang terpakai untuk konfigurasi perangkat, pelatihan staf, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perangkat menjadi lebih singkat.

Jadi, lupakanlah perang tarif. Itu adalah masa lalu. Apalah artinya tarif murah, kalau kualitas layanan kurang memuaskan. Karena itu, mulailah perang layanan. Curi hati pelanggan dengan memanjakan mereka lewat layanan-layanan data yang menarik dan inovatif. (Irfan Setiaputra Praktisi Telekomunikasi)

6 Feb 2010

“Internet Bergerak” Masih Jalan di Tempat















Apakah Anda pernah merasakan kecanduan Internet, sehingga hampir sebagian besar waktu Anda dihabiskan untuk Internet? Mari kita lihat mengapa Anda dan juga saya sering bergaul dengan Internet. Suatu waktu kita akan mencari jadwal pertunjukan bioskop, atau mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan untuk membeli ponsel baru. Hampir sebagian besar aktifitas tersebut kita lakukan di depan komputer, tetapi tidak demkian di ponsel kita.

Padahal dengan semakin berkembangnya teknologi jaringan selular saat ini akan memungkinkan diaplikasikannya layanan-layanan berkecepatan tinggi seperti halnya di jaringan komputer. Tidak hanya WAP, SMS, MMS, E-mail, Internet dan Chatting, teknologi 3G memungkinkan pengguna mengakses layanan multimedia (videopon), layanan hiburan, bahkan televisi berbasis Internet (IPTV). Lihat saja munculnya berbagai aplikasi baru Internet bergerak yang cukup menarik bagi pengguna telepon selular seperti aplikasi Gmail Java, Google Maps, Opera Mini Browser, Fring Mobile VoIP, ShoZu Mobile Photography dan TelecomTV.

Pada akhir tahun 2007 lalu pelanggan ponsel di Indonesia diperkirakan telah menembus angka 96.41 Juta nomor. Namun, pertumbuhan teknologi Internet bergerak yang demikian pesat masih belum diimbangi oleh antusiasme masyarakat untuk menikmatinya. Salah satu operator selular terbesar mengungkapkan bahwa pengguna Internet bergerak khususnya 3G hanya sekitar 3% dari keseluruhan pelanggan di akhir tahun 2007. Diperkirakan angka tersebut berlaku juga bagi operator-operator lain, bahkan bisa jadi lebih rendah. Mengapa Internet bergerak yang telah lahir sejak beroperasinya GPRS tahun 2000 masih seperti berat untuk melangkah maju?

Pertama, kemampuan daya beli masyarakat yang rendah menjadikan hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati layanan ponsel. Masalah biaya ini diyakini menjadi faktor utama penghambat pertumbuhan Internet bergerak. Untuk dapat mengakses Internet, kita harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk membeli ponsel yang mendukung fitur-fitur Internet, terlebih yang mendukung UMTS atau 3G. Harga ponsel yang saat ini masih mencapai Rp 1 Juta lebih, penulis kira sangat berat untuk dapat dimiliki oleh masyarakat kebanyakan.

Selain itu, kita harus mengeluarkan biaya akses yang tidak sedikit ke operator selular, baik yang berbasis waktu, berbasis ukuran file atau yang bersifat flat rate. Dengan mudah kita dapat menebak kalangan masyarakat mana yang mampu menikmati layanan-layanan 3G yang bertarif Rp 250-300 ribu per bulan. Tidak berhenti di sini saja. Ketika kita melakukan suatu transaksi pembayaran melalui ponsel, ternyata kita harus mengeluarkan biaya tambahan yang relatif lebih tinggi dibandingkan ketika menggunakan terminal komputer biasa.

Alasan kedua berhubungan dengan aspek penggunaan. Mengakses Internet bergerak tidak senyaman ketika kita berada di depan monitor komputer yang dilengkapi dengan keyboard dan mouse. Layar dan keypad yang kecil sedikit banyak membuat pengguna merasa canggung ketika mengaksesnya. Sementara alasan ketiga berhubungan dengan terbatasnya konten Internet bergerak. Dari segi konten Internet bergerak, kita dapat membedakannya ke dalam dua jenis, yaitu i) konten layanan elektronik atau e-services yang disediakan oleh operator, dan ii) konten Internet global. Layanan elektronik cenderung didorong oleh pihak operator, sehingga kurang mengakomodasi sebagian besar pengguna ponsel. Sementara konten Internet global sangat melimpah, tetapi yang disederhanakan bagi pengguna ponsel (seperti Wordpress Mobile atau BBC Mobile) masih sangat sedikit.

Teknologi Internet diharapkan dapat menjadi penumbuh industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, sehingga menghasilkan multiplier effect bagi kemajuan pembangunan nasional. GSM Association bersama Prof. Waverman (2007) mengemukakan bahwa peningkatan penetrasi ponsel sebesar 10% di negara berkembang akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi tahunan (GDP) sebesar 1.2%, katakanlah X USD. Sementara pemanfaatan Internet yang meningkat sebesar 10% akan menghasilkan pertumbuhan GDP sebesar 1.25*X USD, bahkan akan mencapai 6.25*X USD karena masuknya teknologi broadband.

Pengguna Internet di Indonesia diproyeksikan akan mencapai angka 57.8 Juta pada tahun 2010, yang akan naik menjadi 80 Juta pada tahun 2012 di mana akan didominasi oleh pengguna ponsel. Akankah “Internet bergerak” mampu menyedot minat masyarakat Indonesia, sementara saat ini masih begitu banyak saudara-saudara kita yang belum dapat menikmati layanan telekomunikasi dasar sekali pun, terlebih lagi untuk dapat menikmati layanan Internet? Semoga tahun 2008 ini dapat menjadi momentum bagi lajunya pembangunan TIK yang didukung oleh teknologi Internet untuk mewujudkan terciptanya masyarakat berbasis pengetahuan yang cerdas, produktif dan ekspresif. (Yoanes Bandung - Praktisi Internet Multimedia)

7 Jan 2010

Ketika Tarif Operator Dipersoalkan
















Hingga akhir tahun 2007, kinerja industri telekomunikasi tampaknya semakin kinclong. Indikasinya terlihat dari jangkauan layanan, jumlah pelanggan, dan besarnya keuntungan yang ditangguk para operator. Namun dibalik itu, sektor ini dianggap belum mengakomodasi kepentingan masyarakat. Pasalnya, tarif layanan telekomunikasi (khususnya tarif off net) dinilai terlalu tinggi sehingga memicu dipersoalkannya keabsahan besaran tarif yang diterapkan para operator.

Tengoklah upaya beberapa lembaga --Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia, Indonesia Telecommunication User Group (IDTUG), IndoWLI, dan APWI-- menyomasi Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo karena tarif yang diterapkan ketiga operator ini dinilai telah merugikan konsumen sekitar 14 – 30 triliun. Selain itu, delapan operator (Bakrie Telecom, Exelcomindo, Hutchinson CP Telecommunication, Indosat, Telkomsel, Mobile-8 Telecom, Telkom, dan Smart Telecom) tengah diperiksa KPPU karena terindikasi melakukan kartel dalam penetapan tarif SMS.

Struktur pasar
Bagi ekonom, tingginya tarif adalah indikasi kegagalan pasar yang muncul akibat struktur pasar yang tidak kondusif. Dalam studi-studi kebijakan publik, khususnya pendekatan yang berbasis organisasi industri, setidaknya ada tiga aspek yang dapat dijadikan parameter untuk menilai apakah struktur pasar industri telekomunikasi dapat dikategorikan bersifat kondusif atau belum.

Pertama, konsentrasi pembeli. Secara kuantitatif, konsentrasi pembeli (pelanggan) tampaknya sudah kondusif yang ditandai dengan jumlah pengguna dan laba yang diraup tiap operator meningkat setiap tahunnya, walapun peningkatan ini masih didominasi Telkomsel, Indosat, dan Exelcomindo. Peningkatan jumlah pengguna dan laba ini merupakan fenomena kondusifnya struktur pasar yang dikarenakan tiap berlomba “mengeksploitasi” skala ekonomi dan potensi lain yang dimilikinya.

Kedua, hambatan bagi masuknya pemain baru di pasar (barrier to entry/BR). Munculnya BR dapat terjadi secara alamiah dan melalui intervensi. Di era monopoli, operator incumbent senantiasa menciptakan BR dengan “memanfaatkan” pemerintah lewat intervensi kebijakan. Akibatnya, terjadi dead weight loss yang berakibat merugikan konsumen --karena dikenakan tarif tinggi dengan kualitas layanan rendah-- dan menghambat perkembangan sektor telekomunikasi.

Sebaliknya di era kompetisi seperti saat ini, hadirnya BR merupakan konsekuensi logis seleksi alam dan bukan karena intervensi kebijakan pemerintah. Artinya, keberadaan operator di pasar ditentukan kemampuannya bersaing dengan operator kompetitor --lewat penawaran tarif yang rendah dengan beragam layanan yang berkualitas-- sehingga mengakibatkan kondusifnya struktur pasar.

Ketiga, konsentrasi penjual. Dari sisi konsentrasi penjual, struktur pasar industri telekomunikasi di Indonesia boleh dikata sudah kondusif dengan beroperasinya delapan operator. Pasalnya, kehadiran delapan operator itu menunjukkan ketatnya tingkat persaingan antar operator.
Perilaku pasar
Secara struktural, banyaknya operator yang beroperasi di pasar dan tingginya tingkat persaingan seharusnya memicu tiap operator berlomba memberikan peningkatan kualitas layanan dan menawarkan penurunan tarif komunikasi. Ironisnya, yang terjadi justru kecenderungan tingginya tarif dan penurunan kualitas layanan. Terbukti dengan masih tingginya tarif percakapan selular dan SMS, khususnya tarif antar operator (off net).

Kecenderungan tersebut merupakan salah satu bentuk anomali pasar yang dipengaruhi oleh perilaku pasar para operator yang “bermain” melalui price setting policy yang tidak wajar. Perilaku itu bisa berupa kolusi “diam-diam” (tacit collucion) maupun penetapan harga (price fixing). Kedua jenis perilaku ini sulit dibuktikan secara yuridis, karena lazimnya dipraktekkan berdasarkan kesepakatan antar perusahaan (operator) tanpa dilandasi perjanjian resmi. Penurunan kualitas layanan --yang terlihat dari tingginya keluhan dalam hal sulit tersambung dan sambungan terputus, utamanya percakapan yang menggunakan teknologi fixed wireless acces, serta pemotongan pulsa tanpa sepengatahuan pengguna misalnya-- juga merefleksikan perilaku pasar yang tidak kondusif. Fenomena ini terjadi karena quality control policy beberapa operator tidak berjalan semestinya.

Perilaku pasar lainnya yang tidak bersifat kondusif ialah kecenderungan operator berpromosi secara tidak transparan dan cenderung “membodohi” pelanggan. Dalam arti, apa yang dipromosikan operator tak sesuai dengan isi yang dijanjikan didalam promosinya.

Kinerja pasar
Berbagai perilaku buruk yang dipraktekkan operator telah menurunkan kinerja pasar. Penurunan setidaknya terlihat dari penggunaan sumber daya secara tidak efisien dan tidak sesuai dengan kapasitas yang tersedia, serta melambatnya akselerasi pertumbuhan industri. Secara hand in hand, berbagai faktor yang mempengaruhi penurunan kinerja pasar ini pada akhirnya berdampak mengurangi ekspansi jaringan secara nasional.

Penurunan kinerja pasar yang dipicu perilaku buruk operator ini harus diberikan sanksi hukum. Alasannya, karena perilaku itu “melabrak” aturan dan norma-norma bisnis maupun hukum yang berlaku, sebagaimana diatur dalam UU No.5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Selain itu, juga berdampak menghambat pertumbuhan sektor telekomunikasi dan merugikan konsumen, sehingga secara yuridis melanggar hakekat dan tujuan UU No.36/1999 tentang Telekomunikasi dan UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Secara fungsional, pemberian sanksi hukum ini setidaknya berdampak ganda. Disatu sisi dapat memulihkan, minimal mengurangi, perilaku buruk tiap operator telekomunikasi dan mencegah terjadinya praktik monopoli serta persaingan usaha yang tidak sehat antara para penyelenggara telekomunikasi. Di sisi lain, juga berpotensi meningkatkan kualitas dan menurunkan tarif layanan, sehingga pada gilirannya konsumen tidak mempersoalkan lagi tarif yang ditetapkan operator. (Abdul Salam Taba - Alumnus School of Economics the University of Newcastle, Australia)

22 Des 2009

Perkembangan Bisnis & Kreasi Software Ponsel



















Perkembangan teknologi ponsel belakangan begitu pesatnya sehingga fungsi ponsel bukan lagi untuk menelepon dan mengirim SMS. Sebuah ponsel sudah layak disebut sebagai komputer kecil. Tidak heran apabila istilah "ponsel komputer" kemudian menjadi popular. Saya masih ingat spesifikasi PC (personal computer) pertama yang saya miliki, prosesor Intel 80286 dengan kecepatan 12 MHz, memori 1 Mb dan hard disk 80 Mb. Saat ini, ponsel yang saya bawa sehari-hari menggunakan prosesor ARM9 dengan kecepatan 220 MHz, memory 48 Mb dan kartu memori 1 GB. Bisa Anda hitung sendiri perbandingan komputer saya pertama dulu dengan ponsel saya sekarang.

Berbicara tentang ponsel komputer tentu tidak terlepas dari software di dalamnya. Apabila kita cermati, manufaktur ponsel telah menambahkan berbagai software ke ponsel-ponsel mereka. Sekarang ini, fitur-fitur seperti kalender, alarm, notes, kalkulator dan bahkan music player sudah menjadi standar.

Karena sifat manusia yang tidak pernah puas, fitur-fitur standar tersebut masih belum cukup. Beberapa dari kita memimpikan berbagai aspek kehidupan bisa diakses dari saku kita! Bukan hanya daftar nomer telpon dan jadual kegiatan sehari-hari, tetapi juga akses email, pengelolaan album foto, langganan koran, penyimpanan data pribadi, menulis blog, sampai ke daftar belanjaan minggu ini!

Memang ada keterbatasan ponsel dibandingkan PC yang merupakan tantangan tersendiri. Sebagai contoh, layar ponsel ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan monitor PC. Keyboard ponsel juga cenderung lebih terbatas dibandingkan versi PC. Meskipun begitu, para pengembang software telah merilis berbagai software tambahan untuk merealisasikan impian kita. Jika pada awalnya software pihak ketiga untuk ponsel terbatas pada game sederhana, seperti PacMan, Tetris dan Sudoku, sekarang ini kita bisa menemukan software dari berbagai kategori.

Di kategori multimedia, ada software untuk memanipulasi foto sampai mengirimkan foto ke blog server (seperti Flickr). Ada juga software untuk mengolah dan menonton video. Di kategori komunikasi, beberapa orang menggunakan instant messaging di ponsel untuk berkomunikasi lewat MSN atau Yahoo! Messenger (sebagai alternatif lain dari SMS). Software VoIP mulai bermunculan, bahkan Skype juga akan dirilis untuk ponsel berbasis Symbian OS dalam waktu dekat. Di kategori blogging, software untuk berlangganan berita dan podcasting, juga telah tersedia.

Bagaimana sebenarnya situasi bisnis software ponsel secara umum? Kabar baiknya adalah pasar ponsel yang luar biasa besar. Tahun 2005 lalu, ada lebih dari 800 juta ponsel terjual di seluruh dunia (baca: 25 ponsel terjual setiap detiknya). Kabar buruknya, bisnis software di dunia ponsel belum begitu menggembirakan seperti halnya di dunia PC. Mengapa? Ada beberapa alasan. Pertama-tama, banyak pengguna masih menggunakan ponsel untuk menelpon dan mengirim SMS saja. Banyak dari kita yang belum tahu bahwa ada "hal-hal lain" yang bisa dilakukan dengan software tambahan. Dengan kata lain, edukasi dari berbagai pihak masih diperlukan.
Penyebab lain adalah biaya yang terlalu tinggi, baik itu harga software maupun layanan data. Permasalahan harga software sebetulnya juga terjadi di dunia PC karena sebagian besar software tersebut harus dibeli dengan US$ sementara mata uang kita nilainya sedang dalam kondisi tidak baik.

Sementara itu biaya layanan data yang relatif tinggi tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga di banyak negara maju. Untuk apa kita memerlukan layanan data? Pertama, untuk men download software ke ponsel kita. Memang untuk beberapa model ponsel, kita bisa men download software ke PC kemudian mentransfernya ke ponsel. Kedua, beberapa software memerlukan layanan data dalam pengoperasiannya. Sebagai contoh, software podcasting memerlukan layanan data untuk men download podcast baru. Memang sudah ada beberapa ponsel high-end yang sudah mendukung WiFi, tetapi belum semua tempat menyediakan koneksi WiFi.

Terlepas dari itu semua, bisnis software di dunia ponsel sebenarnya memiliki masa depan cerah. Hanya saja, ada banyak "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan baik oleh manufaktur ponsel, operator maupun pengembang software. Saya pribadi termasuk orang yang optimis bahwa beberapa tahun lagi, ponsel akan menggantikan PDA dan laptop. (Antony Pranata/ Praktisi Software Ponsel)

15 Sep 2009

Efek Perang Tarif : Pengguna Bingung, Siapa Lagi Yang Buntung ?












Sebagai pengguna telepon selular, saya termasuk yang pusing tujuh keliling dengan perang tarif yang makin lama kian tidak jelas. Meski sebagai pengguna kartu paska bayar, saya juga memiliki beberapa nomor pra bayar yang (terus terang saja) dipilih karena mempertimbangkan tarif tadi. Pusing pertama karena bingung memilih mana yang sebenarnya paling murah. Dan pusing kedua karena siapa yang paling murah ternyata bisa saja berganti dalam hitungan hari. Itu artinya nomor tersebut harus dihanguskan atau membeli nomor baru. Semua tahu, mengelola dan menghidupkan banyak nomor selular sekaligus tak semudah yang diperkirakan.

Jika dulu perang promosi antar operator lebih bervariasi dari sekedar permainan tarif, sekarang komponen tarif seperti menjadi mendominasi perang antar operator. Dahulu operator masih bisa berpromosi sambil membanggakan luasnya jaringan, kejernihan suara, hingga layanan tambahan lainnya. Namun kini, promosi sangat fokus pada berapa nominal rupiah yang dikeluarkan per detik dan yang paling konyol lagi sampai muncul persepsi perang tarif operator saat ini adalah perang angka nol paling banyak.

Penurunan tarif percakapan khususnya percakapan lokal cepat atau lambat harus dan akan segera terjadi mengingat rencananya mulai April 2008 akan diberlakukan tarif interkoneksi baru yang akan turun hingga 30%. Namun yang tidak disadari oleh para pengguna adalah, apakah operator telah siap dengan skenario lonjakan pengguna yang tinggi dalam waktu singkat. Bisa jadi mereka tidak peduli, karena yang penting murah, putus-putus atau mati di tengah jalan adalah konsekuensi.

Perang tarif yang semakin lama semakin norak (setidaknya menurut saya) di satu sisi merupakan fenomena bisnis yang biasa, namun menjadi tak biasa karena pihak operator sibuk mengekplorasi komponen yang tidak penting dan sepertinya sengaja untuk mengorbankan perang di tataran kualitas layanan. Padahal, dengan diturunkannya tarif percakapan oleh sebuah operator, dalam waktu singkat akan memacu keinginan pengguna secara signifikan untuk terus berbicara yang akhirnya meningkatkan kepadatan lalu lintas percakapan.

Jika menilik pengalaman pas hari raya saja, dimana jaringan operator seringkali tumbang dan kepentingan pengguna tak terlayani dengan baik, bisa dibayangkan jika kondisi tersebut berlangsung setiap harinya. Idealnya penurunan tarif harus diimbangi kenaikan kapasitas jaringan dan ini berarti peningkatan biaya. Nyatanya, penurunan tarif percakapan yang diikuti dengan kenaikan volume percakapan tidak serta merta ikut menyumbang peningkatan pendapatan yang signifikan bagi operator. Dan kondisi ini berimbas dengan skenario terburuk, tidak akan ada peningkatan kualitas jaringan yang sebanding dengan peningkatan jumlah penggunaan jaringan oleh pengguna.

Dari kacamata pribadi, perang tarif menunjukkan bahwa operator mulai kehabisan ide untuk memenuhi target pengguna selular yang dilayaninya. Yang lebih ironis, operator justru berebut pasar yang memang tidak loyal. Pada akhirnya bukan operator saja yang buntung, komponen lain yang bersinggungan dengan dunia selular juga ikut murung. Dengan biaya percakapan yang nol sekian rupiah per detik, masih jauh lebih murah ketimbang akses 1 Kbyte data dengan menggunakan GPRS atau 3G yang berkisar 10-25 rupiah per Kbyte-nya. Ini artinya, konten terasa semakin mahal jika ditilik dari tarif percakapan. Dan ini imbasnya, bisnis konten menjadi semakin sulit meraup keuntungan padahal situasi saat ini sudah sangat berat. Dan bukan rahasia lagi jika bandwidth untuk penggunaan bisnis konten oleh Content Provider selalu mendapatkan porsi yang jauh lebih kecil. Dalam jangka panjang bisnis konten akan semakin mandek, tak akan banyak inovasi muncul, peluang baru pun akan mati. Siapa yang rugi? (Antonius Aditya Hartanto, Praktisi Konten Multimedia)

3 Sep 2009

Pilih FWA atau Selular ?



















Perkembangan layanan selular yang pesat saat ini kurang diikuti dengan pertumbuhan telekomunikasi fixedphone (telepon tetap), baik infrastruktur maupun pelanggannya, bahkan pelanggan telepon tetap cenderung menurun. Pemerintah selaku regulator perlu mendorong tumbuh kembang layanan operator telepon tetap. Dalam kenyataannya untuk menumbuh kembangkan layanan telepon tetap, operator mengalami hambatan dengan mahalnya investasi penggelaran jaringan karena ketersediaan teknologi yang dirasakan mulai berkurang, bila adapun mahal.

Untuk mengatasi mahalnya investasi pengembangan telepon tetap di Indonesia, diperkenalkan layanan fixed wireless access (FWA) dengan karakteristik yang spesifik yaitu layanan wireless dengan mobilitas terbatas yang berlaku pada satu kode area, FWA berbasis pada cdma2000. Pada prinsipnya teknologi FWA dan selular adalah sama yang membedakan FWA dengan selular adalah mobilitasnya, dimana FWA berlaku lokal pada satu kode area tertentu, sedangkan selular dengan mobilitas penuh berlaku nasional. Mobilitas yang terbatas pada FWA dilakukan dengan menonaktifkan fitur roaming. Tetapi, FWA memiliki fitur untuk pindah ke kode area lain, pelanggan FWA harus melakukan mutasi.

Penyelenggaraan sistem komunikasi wireless baik seluler maupun FWA akan dikenakan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dan ijin stasiun radio (ISR). Walaupun FWA menggunakan media udara yang sama dengan selular, tetapi FWA mendapatkan perlakuan yang berbeda dari selular untuk BHP dan ISR. Perlakuan berbeda ini dinilai tidak adil, atau tidak memberlakukan kesetaraan ”fair flying field”. Saat ini sedang ramai dibicarakan adanya keinginan operator selula untuk menyelenggarakan FWA; bila ijin FWA tidak diberikan kepada operator selular, maka operator selula menuntut BHP dan ISR FWA untuk disesuaikan. Suatu permintaan yang wajar dari operator selular.

Dengan ”daya kreatifitas” operator, lisensi FWA yang semula berlaku lokal disatu kode area bisa dimodifikasi untuk mendukung mobilitas penggunanya sehingga dapat digunakan dikode area yang lain. Kreatifitas operator FWA ini menuntut regulator melakukan pengawasan dan monitoring terhadap layanan mutasi nomor dari suatu kode area ke kode area yang lain, apakah layanan yang ditawarkan operator FWA ini tidak menyalahi ijin yang telah diterima.

Menuju Selular

Sejarah pengembangan FWA di Indonesia mengacu pada pengembangan FWA di India yang terdiri atas beberapa negara bagian. FWA sangat mungkin diimplementasikan di India karena masing-masing negera bagian memiliki wewenang dalam penentuan frekuensi serta otoritas yang kuat. Untuk Indonesia sebagai negara kesatuan dengan 33 provinsi dan kewenangan pengaturan frekuensi ada di Pusat, dirasakan kurang cocok dalam menerapkan FWA untuk layanan telepon tetapnya. Selain itu pada hakekatnya teknologi FWA adalah teknologi selular, dimana pada FWA tidak difungsikan visiting location register (VLR) yang memungkinkan adanya roaming seperti pada selular.

Penyelenggara FWA yang diijinkan menyelenggarakan layanan selular atau penyelenggara selular yang diijinkan menyelenggarakan layanan FWA, suatu keputusan yang perlu hati-hati. Bila operator FWA menjadi operator seluler akan ada resistansi dari operator FWA dikarenakan sudah tergelarnya jaringan serta ”brand image” produk layanan, mungkin juga ada keberatan dari pelanggan FWA karena dikuatirkan akan naiknya tarif.

Operator FWA menjadi selular secara teknis mudah dilakukan yaitu hanya dengan memfungsikan kembali VLR. Bila operator selular diijinkan menjadi operator FWA, akan ada pembagian kanal dari bandwidth yang dimanfaatkan oleh operator selular tersebut dan secara teknis dilakukan dengan menonaktifkan VLR. Pembagian bandwidth ini mudah dilakukan karena besarnya kanal yang dikuasai oleh para operator selular. Dengan dikenalkan layanan FWA oleh operator selular diperkirakan akan ada ”churn rate” dari pelanggan selular karena terbatasnya jangkauan, tetapi pelanggan diuntungkan dengan tarif yang murah. Selain itu, penyelenggaraan FWA oleh operator selular terkendala masalah penomoran.

Oleh karena itu alangkah bijaksananya regulator meninjau ulang pemberian lisensi kepada FWA untuk mematuhi rambu-rambu peraturan yang berlaku. Selain itu, untuk menciptakan iklim kompetisi yang sehat serta menghilangkan dikotomi selular dan FWA yang sebenarnya tidak lain adalah ”tric businness”, alangkah baiknya bila penyelenggara FWA dialihkan menjadi penyelenggara selular. Karena pada hakekatnya FWA dan selular tidak beda, dua-duanya adalah teknologi akses tanpa kabel. (Gunawan Wibisono, Pengamat Telekomunikasi dan Dosen Elektro FTUI)

20 Agu 2009

Palapa Ring, Apa Manfaatnya Bagi Kita ?




















Banyak masyarakat umum yang bertanya-tanya, apakah gerangan Palapa Ring, proyek yang dicanangkan oleh pemerintah akhir2 ini di mass media, dan apakah juga manfaat nya bagi masyarakat umum dan buat bangsa secara keseluruhan

Palapa Ring sendiri saat ini diperbincangkan di mass media, mulai dari niatan awal pemerintah untuk melakukan tender buat operator Palapa Ring ataupun yang pada akhirnya, berujung pada pola konsorsium dari beberapa perusahaan diantaranya perusahaan terkemuka lokal seperti Telkom, Indosat, XL dan lainnya. Proyek ini juga di nikmati oleh kehadiran investor asing untuk nyemplung di konsorsium Palapa Ring.

Palapa Ring sendiri adalah jaringan nasional fiber optic untuk mendukung layanan telekomunikasi yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Seperti diketahui, back bone telekomunikasi saat ini terpusat di Jawa dan saat ini mulai ber expansi ke Sumatra, Kalimantan dan Bali. Jaringan telkomunikasi baik itu selular maupun fix, membutuhkan dukungan back bone sebagai peralatan transmisinya. Proyek Palapa Ring diharapkan bisa menyediakan back bone bandwidth untuk keperluan telekomunikasi ke seluruh wilayah Indonesia. Fiber Optic sudah tidak diragukan lagi merupakan teknologi yang sangat reliable sebagai back bone

Dikarenakan tingginya biaya investasi Palapa Ring, pemerintah merasa konsorsium adalah jalan yang terbaik untuk mewujudkan rencana besar ini. Belum diketahui secara persis, bagaimana pola revenue dari masing-masing investor proyek ini dalam mengembalikan dana investasinya, apakah revenue pengguna akan di bagi secara proporsional atau masing-masing investor diharapkan mencari pelanggannya masing-masing untuk re-coupe cost investasinya.

Diharapkan dari terwujudnya proyek ini, layanan telekomunikasi selular ataupun data (read-Internet) dapat dinikmati sampai pelosok-pelosok Indonesia dengan harga terjangkau. Harga terjangkau ? Masalah utama yang sekarang nyata adalah mahalnya harga bandwidth di Indonesia yang berujung pada mahalnya harga layanan internet di Indonesia. Semua itu tergantung dari niat pemerintah dalam hal membuka kompetisi di area bandwidth, sehingga dengan kompetisi, harga bandwidth bisa terjangkau.

Saat ini, harga bandwidth di Indonesia masih sangat mahal dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, kurang lebih untuk 1MB, di Indonesia pelanngan harus membayar +/- $1500 sedangkan di Singapura hanya $150 ataupun di US hanya $50. Tanpa himbauan pemerintah, walaupun nantinya Palapa Ring terwujud, harga bandwidth akan tetap mahal. Juga karena dikarenakan belum banyaknya provider bandwidth backbone di Indonesia yang menyebabkan kurang bergairahnya iklim kompetisi, yang bisa memaksa harga ke pelanggan bisa lebih murah.

Apabila kita membaca data statistik, pertumbuhan industry selular dan pengguna internet akan meningkatkan angka GDP dari suatu negara. Artinya, dengan telekomunikasi, angka kesejahteraan akan meningkat dan tentunya akan membuat growth rate dari suatu negara menjadi lebih tinggi.

Sebaiknya pemerintah mulai melihat, tujuan utama Palapa Ring adalah membuat biaya di operator selular, fix dan intennet lebih murah yang pada akhirnya, pelanggan juga yang bisa menikmati murahnya biaya internet atau pun komunikasi lainnya. Iklim kompetisi sebaiknya tidak hanya di operator selular dengan kampanye-kampanye agresif seperti Rp. 10/detik, Rp. 1000 per jam , Rp 47 per menit dan lainnya. Namun juga harus di terapkan di operator backbone bandwidth. Saat ini, iklim kompetisi belum sampai ke operator backbone bandwidth sehingga mengakibatkan masih mahalnya biaya internet di Indonesia.

Apalagi dengan adanya teknologi WiMax yang tendernya akan digelar pemerintah di tahun depan, seperti yang kita ketahui, WiMax membutuhkan bandwidth sekala besar untuk menjalankan operasinya. Apabila harga bandwidth masih mahal, kemungkinan technologi Wimax hanya dinikmati segelintir orang seperti halnya 3G. Muara dari mahalnya biaya internet akses adalah harga bandwidth yang masih mahal.

Mudah-mudahan pemerintah sudah mempunyai strategi untuk mengsikapi masalah ini, sehingga konsorsium Palapa Ring bisa lebih tepat guna, dan lebih berkompetisi. Masyarakat Indonesia menunggu adanya layanan yang lebih attractive di layanan internet seperti halnya di selular.

Jadi, mungkinkah nantinya kita bisa memakai internet sejam, hanya dengan membayar Rp. 1000 atau hanya membayar Rp. 99,000 tanpa batas ? Semuanya berpulang kepada regulator ataupun keberpihakan pemerintah kepada rakyat dan economic growth secara keseluruhan.
Internet murah ? kenapa tidak……………………………………………………………. (Judi Hartono, Praktisi Telekomunikasi)


14 Agu 2009

BlackBerry GSM vs. BlackBerry CDMA







BlackBerry® - pasti sering kita baca belakangan ini baik di media cetak maupun di media elektronik, bahkan juga mungkin menjadi bahan pembicaraan diantara kita. BlackBerry pertama kali di perkenalkan pada tahun 1999 oleh Research In Motion (RIM), sebuah perusahaan yang berbasis di Canada. BlackBerry pada awal nya adalah sebuah alat komunikasi pager dua arah berlayar monokrom. Baru pada sekitar tahun 2001 BlackBerry berkembang menjadi sebuah smartphone yang mendukung interaktif messaging (email, sms, mms), chatting (YM, G-Talk, BlackBerry Messanger), social networking (FaceBook, Twitter, Flickr) dan lain nya termasuk kebutuhan dasar telekomunikasi, yaitu voice call dengan layar berwarna dan bentuk yang semakin menarik.

Saat ini BlackBerry menduduki peringkat ke 2 (19,5%) dalam hal market share operating system di bawah SymbianOS, dan menduduki peringkat ke 4 (2.66%) setelah Nokia, SE dan Samsung dalam hal peringkat Pembuat Perangkat atau Manufaktur.

Untuk memenuhi kebutuhan operator di dunia, RIM tidak hanya membuat perangkat BlackBerry berbasis jaringan GSM, namun juga menyediakan perangkat BlackBerry berbasis jaringan CDMA. Dominasi perangkat BlackBerry berbasis jaringan GSM lebih besar di bandingkan dengan perangkat BlackBerry CDMA. Salah satu keluarga BlackBerry CDMA yang pertama yang di buat oleh RIM adalah BlackBerry 6750 dengan layar monochome. Disusul kemudian dengan BlackBerry 7250 dan BlackBerry 7750 yang berlayar warna.

Perangkat BlackBerry pertama yang mengkombinasikan jaringan CDMA dan GSM/GPRS adalah BlackBerry 8830 yang di luncurkan pada tahun 2007 oleh operator AT&T. BlackBerry 8830 ini memberikan layanan “always on, always connected wherever in the world”. Dengan BlackBerry 8830 ini, pengguna layanan CDMA dapat melakukan roaming ke jaringan GSM apabila sedang berada di suatu negara yang tidak mempunyai layanan jaringan CDMA. Dengan kata lain, hampir tidak ada satupun jaringan telekomunikasi di dunia ini yang tidak dapat di gunakan oleh BlackBerry 8830. Teknologi dual-network ini terus di kembangkan oleh RIM melalui perangkat BlackBerry terakhir dengan kode 9530 atau yang sekarang di sebut dengan BlackBerry Storm.

Bagaimana dengan BlackBerry di Indonesia?
Seperti kita ketahui bahwa di Indonesia saat ini sudah ada 11 operator layanan Telekomunikasi. 5 Operator menggunakan jaringan GSM dan 6 Operator lain nya menggunakan jaringan CDMA. Dari 5 Operator GSM, saat ini yang sudah menyediakan layanan BlackBerry adalah Telkomsel, Indosat dan XL dengan total pelanggan BlackBerry sampai akhir tahun 2008 sekitar 150.000 pelanggan atau sekitar 0,7% dari total jumlah pelanggan BlackBerry di dunia yang di catat oleh RIM pada periode yang sama.

Melihat pangsa pasar dan peluang yang masih besar (150 juta pelanggan telekomunikasi dan 230 juta penduduk Indonesia), beberapa operator lain nya yang berbasis GSM dan CDMA saat ini sedang mengajukan proses untuk menjadi partner layanan BlackBerry. Apabila disetujui oleh RIM, maka di Indonesia akan mempunyai layanan BlackBerry GSM dan BlackBerry CDMA.

Bagi operator baru, memberikan layanan BlackBerry merupakan suatu tantangan yang tidak mudah karena harus bersaing tidak hanya dari sisi harga namun juga dari sisi pelayanan, aplikasi dan luas nya jaringan dari penyedia layanan BlackBerry yang sudah ada. Tantangan terberat mungkin ada pada operator berbasis jaringan CDMA karena keterbatasan jenis perangkat BlackBerry yang bisa di tawarkan. Tapi disisi lainnya, layanan BlackBerry bagi operator CDMA (maupun operator GSM) yang baru bisa menggapai segment market yang lebih tinggi sehingga di harapkan bisa menaikkan jumlah pendapatan per pelanggan (ARPU).

Akan lebih menguntungkan bagi pelanggan apabila operator BlackBerry CDMA menyediakan perangkat yang dual network dan didukung dengan kerjasama BlackBerry Roaming antara operator CDMA dengan operator GSM baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga bisa mengeliminasi keterbatasan jaringan yang ada atau bahkan saling melengkapi. Dan dengan presepsi yang sudah terbentuk di masyarakat mengenai CDMA, di harapkan operator BlackBerry CDMA dapat memberikan layanan BlackBerry dengan harga yang murah, sebagaimana murah nya layanan voice yang sudah di berikan saat ini. Apakah bisa, kita tunggu saat nya nanti ? (Faizal Adiputra, praktisi telekomunikasi)