Tampilkan postingan dengan label jurnal Tren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnal Tren. Tampilkan semua postingan

8 Jun 2011

Mengintip Layanan Selular di Negeri Para Mullah














Walau menguasai teknologi nuklir dan persenjataan modern, untuk penguasaan teknologi selular, Iran justru bertolak belakang. Tapi negeri Mullah ini tengah menyiapkan gelar layanan 4G.


Dari ratusan negara di dunia, tak banyak yang mampu menandingi popularitas Iran. Negeri kaya minyak ini memang sedari dulu mempunyai pesona kontroversi luar biasa. Semenjak tergulingnya rezim Mohammad Reza Pahlavi diakhir tahun 70-an, Iran dibawah pemimpin spiritual, Ayatollah Ali Khamenei, mengambil jarak yang tajam dengan dunia barat, terutama Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hampir tiap saat terjadi perang urat syaraf yang berujung pada potensi aksi militer.

Kini Iran dibawah pimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad tak kalah galaknya terhadap AS. Dengan niat membangun proyek nuklir untuk pembangkit tenaga listrik, Iran berani menantang hegemoni AS dan Israel. Inilah yang membuat Iran hingga kini selalu dalam keadaan siaga perang. Walau dikenakan beragam embargo, tapi hebatnya Iran tetap eksis dalam berbagai bidang, tak cuma pengembangan persenjataan, tapi urusan ekonomi dan adaptasi teknologi pun terbilang cukup maju, untuk ukuran negeri yang sedang di embargo.

Dalam kesempatan kunjungan selama 3 hari 2 malam di Tehran, Ibu Kota Iran, saya melihat sesuatu yang unik seputar tren telekomunikasi selular. Pengguna ponsel di Iran kini mencapai 41 juta, bandingkan penduduk Iran yang 70 juta jiwa, dengan tingkat penetrasi selular mencapai 37% per tahun. Di Iran terdapat 5 operator selular GSM, yakni Telecommunication Company of Iran (TCI), Telecommunication Kish Company (TKC), popular dengan sebutan KIFZO, TCI-Isfahan (Celcom), RIC dengan Taliya GSM900 sebagai provider layanan GSM pra bayar, dan Irancell Telecommunication – MTN Irancell. Tidak ada operator pengusung layanan CDMA, maklum teknologi CDMA dipasok oleh AS.

Kelima operator hingga kini belum menyiapkan layanan 3G. Bisa dikatakan layanan selular di Iran, terasa seperti di Indonesia saat era 90-an. Mungkin bagi Anda yang ingin nostalgia dengan layanan selular era 90-an bisa bertandang ke Iran. Untuk layanan data masih mengandalkan GSM/CSD/ HSCSD, hal ini didukung dengan masih adanya iklan “supporting Fax & Data 9,6 – 14,4Kbps”.

Walau demikian, layanan tambahan (Value Added Service) yang memanjakan pelanggan tetap ada, seperti News, Call conference, Current date, Quran, Poem, Call me back, dan End of Call Notification service. Ada yang harus diperhatikan bila mau mengisi pulsa, biasanya dibedakan berdasarkan warna (semisal : Red untuk 100,000 Rials; Blue untuk 200,000 Rials dan Yellow untuk 400,000 Rials).

Pemerintah Iran termasuk jeli memadukan bidang telekomunikasi dan wisata, ini diwujudkan dengan adanya menara telekomunikasi yang termasuk nomer 5 tertinggi di dunia. Borj-e Milad, adalah menara terpadu dengan ketinggian 435 meter dan merupakan karya insinyur dalam negeri. Di menara inilah berbagai macam media pemancar ditempatkan. Ada beberapa tower yang saya temui, namun pada area tersebut nyaris semua sinyal akan blank. Saya yakin tower tersebut adalah tower jamming, sepanjang perjalanan ada beberapa spot yang memang di-jamming, ini mungkin salah satu kekuatan dari kampanye perang elektronika atau electronics warfare.

Ada yang menarik seputar bisnis telekomunikasi, Telkom Indonesia ternyata pernah berencana untuk mengakuisisi atau sekedar membeli saham Iran Tel hingga lebih dari 50%. Namun kabar yang pernah bertiup santer itu akhirnya menguap, mungkin ada pertimbangan lain dari Telkom Indonesia, seperti kondisi politik internasional yang kurang menguntungkan.

Meski layanan selular GSM di Iran terkesan tertinggal, tapi negeri Mullah ini justru telah siap melompati teknologi 3G, ini dibuktikan dengan persiapan kehadiran 4G, seperti WiMax dan LTE (long term evolution). Banyak pelajaran dari langkah Iran yang patut ditiru oleh Indonesia, terutama dalam strategi membangun harga diri bangsa. Salah satu kunci sukses Iran karena negeri ini tak memiliki permasalahan energi listrik. Dengan aktifnya pembangkit listrik tenaga nuklir, Iran memiliki kemandirian energi. Melimpahnya energi pada akhirnya turut meningkatkan daya kreatifitas masyarakatnya. (Arief Setia Nugroho - Tehran)





27 Des 2010

Samsung SGH-i780 - Pelopor Trackpad Untuk Smartphone
















Trackpad dilirik ibarat fitur baru nan aduhai, tapi sebenarnya fitur ini sudah hadir sejak 2007. Dipelopori oleh Samsung SGH-i780 yang dikenal sebagai smartphone Samsung terlaris di Indonesia



Apa aja sih ukuran canggihnya sebuah hape? Jawabannya pasti banyak, bisa ini itu, sesuai pemahaman tiap-tiap orang yang beda. Tapi dari sekian ukuran, tombol navigasi di hape bisa jadi salah satu standar yang boleh dihitung. Contoh gampangnya, sekarang lagi trend hape yang navigasi menunya pake trackpad. Berkat trackpad, performa navigasi menu hape jadi meningkat, untuk masuk atau jalan-jalan antar menu, kamu cukup sentuh area trackpad lewat sapuan jemari.

Trackpad pun sudah jadi alasan orang untuk mengganti hape, maklum trackpad jadi populer setelah digadang BlackBerry seri Gemini, Onyx dan Torch. Beberapa hape BlackBerry yang bakal muncul gosipnya juga mengandalkan trackpad sebagai fitur andalan. Bisa dibilang trackpad adalah pengganti era trackball di hape BlackBerry. Tapi tahukah kamu, bahwa justru bukan BlackBerry yang menjadi pelopor teknologi trackpad di hape pintar.

BlackBerry memang terbukti sukses membuat kondang trackpad, tapi pelopor fitur ini sebenarnya Samsung SGH-i780. Hape pintar dengan platform Windows Mobile Profesional ini sudah melenggang di pasar hape nasional sejak April 2007. Saat peluncuran hape dengan teknologi layar sentuh ini di bundling dengan paket T-Flash Telkomsel.

SGH-i780 juga menjadi hape Windows Mobile pertama yang hadir dengan komposisi – desain candy bar, berlayar sentuh dan dilengkapi qwerty keyboard, bisa disebut sebagai hybrid phone. Awal dipasarkan hape ini mengusung platform Windows Mobile 6.0, kemudian dapat di upgrade ke versi 6.1. Hape yang kondang dengan sebutan IJBO ini statusnya kini sudah discontinue alias tak diproduksi lagi.

Pihak PT. Samsung Electronics Indonesia (SEIN), selaku agen tunggal pemegang merek Samsung di Indonesia menyatakan SGH-i780 sebagai smartphone dengan penjualan terlaris. Diperkirakan populasi SGH-i780 mencapai 50 ribu unit, belum termasuk SGH-i780 yang beredar secara BM (black market). Hape ini terbilang ngetop pada eranya, pasalnya selain punya desain yang kompak, fiturnya juga seabreg, sebut saja ada 3G/HSDPA, WiFi b/g, bluetooth A2DP, built in GPS dan kamera 2 Mpix. Trackpad di hape ini juga dilengkapi sensor optik, jadi bisa di setting kadar sensitifitasnya.

Momen popularitas SGH-i780 terjadi setelah hape ini turun harga disekitar Rp3,5 – Rp4 juta, maklum harga perdana hape ini lumayan mahal, Rp5,5 juta. Hingga kini IJBO menjadi satu-satunya smartphone legendaris Samsung yang punya wadah komunitas paling eksis, baik di Facebook dan Kaskus. Setelah SGH-i780, Samsung juga mengadopsi trackpad untuk seri SGH-i900 Omnia. Tapi sayang, sebagai pelopor trackpad Samsung Mobile justru terlihat tak konsisten menghadirkan fitur ini di smartphone generasi terbarunya. (Haryo Adjie Nogo Seno)

25 Agu 2010

Dari Adopter ke Orientasi Gaya Hidup

















Orientasi gaya hidup lebih mendominasi penggunaan internet bergerak di Indonesia. Sebagian besar penggunanya terbukti lebih dominan mengakses aplikasi ber-bandwidth rendah



Pertumbuhan pengguna internet bergerak di Tanah Air mengalami lonjakan pesat setahun belakangan, terutama sejak demam online melanda penikmat ponsel. Salah satu indikatornya, tawaran paket internetan operator kini kian terjangkau diakses banyak kalangan. Belum lagi berkat fenemoena BlackBerry secara langsung turut meningkatkan laju akses internet bergerak. Di segmen menengah kebawah, hadirnya parade ponsel merek lokal juga punya andil, walau belum dibekali akses mobile broadband, ponsel besutan Cina kebanyakan sudah memuat konten multimedia populer, seperti Opera browser, Facebook, Twitter, dan sebagainya.

Menurut sumber yang diperoleh dari Opera, diperkirakan saat ini terdapat sekitar 9 juta pengguna internet via ponsel, dengan rata-rata 591 halaman dibuka oleh tiap pengguna setiap bulannya. Hal ini jauh melebihi rata-rata pengguna internet secara global yang hanya membuka 250 halaman per pengguna per bulan. Dari informasi diatas, pasar internet bergerak di Indonesia punya sesuatu yang unik untuk dicermati. Selain soal pertumbuhan internet bergerak yang tinggi, potret unik juga bisa dilihat pada serapan ponsel bundling berharga tinggi.

Merujuk fenomena diatas, pihak Nokia Siemens Network (NSN) dan lembaga riset IDS pada Desember 2009 lalu mengadakan analisa tentang broadband market di Indonesia. Analisa tersebut dilakukan lewat riset random ke 1000 responden yang tersebar di kota-kota besar. Ide riset yakni untuk mengetahui tingkat ”kesiapan” pasar konsumen Indonesia menjelang hadirnya teknologi layanan 4G, seperti WiMax dan LTE.







Dari beragam hasil analisa riset diketahui beberapa hal, seperti penggunaan internet bergerak cenderung meningkat untuk urusan gaya hidup ketimbang untuk urusan produktivitas kerja. Hal ini bisa terlihat dari demam situs jejaring sosial. Lebih dalam lagi, diketahui tiap pengguna menghabiskan 12 jam per minggu berinternet untuk urusan profesional, dan 15 jam per minggu untuk urusan yang sifatnya personal.

Juga dipaparkan sebagaian besar pengguna internet di Indonesia menggunakan aplikasi yang bersifat low bandwidth. Terlihat dalam bagan, browsing menjadi aplikasi terpopuler, selanjutnya diikuti email, unduh, unggah, dan video streaming. ”Riset menunjukkan bahwa Indonesia sedang dalam fase transisi dari adopter menjadi orientasi gaya hidup. Broadband sudah meningkatkan gaya hidup tetapi masih sedikit efeknya terhadap produktivitas,” ujar Yohanes Deny, Market Intelligence Unit NSN Indonesia.

Selain melakukan riset di Indonesia, NSN juga melakukan riset yang sama di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Algeria, Afrika Selatan, Arab Saudi, Swedia, Jerman, Rumania, Rusia, Australia, Cina, dan Taiwan. Dari hasil riset antar negara, ada sesuatu hasil yang menarik untuk Indonesia. Yakni Indonesia menempati urutan kedua (38%) dalam adopsi produk bundling high end. Urutan pertama ditempati oleh Brazil (47%). Hal ini rasanya memang kontras melihat laris manisnya produk bundling seperti iPhone dan BlackBerry.

Walau saat ini beberapa operator sudah memperkenalkan tarif paket internet dengan harga ekonomis. Hasil riset menyebutkan sebagian besar responden masih dominan memilih pola ”pay as you go” dalam mengakses internet. Artinya pengguna hanya membayar saat melangsungkan akses. Tentu pola tarif ini jatuhnya lebih mahal ketimbang pola paket data yang ditawarkan eceran.

Hasil riset memang menarik tapi terasa kontradiktif dengan semangat pasar. Sebut saja hasil riset menyebut penggunaan bandwidth internet di Tanah Air tidak terlalu besar, umumnya sekedar untuk browsing. Tapi disisi lain, operator gencar menawarkan solusi teknologi jaringan yang punya akses super cepat semacam HSPA+ dan LTE yang perlu bandwidth besar. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah hadirnya teknologi 4G memang benar-benar sudah diperlukan saat ini? (Haryo Adjie Nogo Seno)













25 Feb 2010

Dibalik Gagasan Desain Ponsel




















Apapun jenis ponselnya, untuk menciptakan sebuah produk yang berkualitas dibutuhkan kombinasi faktor personal, filosofi, dan inspirasi



Setiap penciptaan ponsel umumnya didasari konsep rancangan desain yang matang dan teruji, bahkan untuk menelurkan satu tipe ponsel tak jarang dibutuhkan waktu riset yang tak singkat serta anggaran yang tak kecil. Tapi kalimat diatas tak serta merta berlaku untuk tiap vendor, semisal vendor merek lokal yang mengimpor ponsel dari Cina, kebanyakan tak membutuhkan waktu lama untuk implementasi wujud sebuah ponsel, maklum sebagian besar desain ponsel Cina yang beredar di Tanah Air meng-copy desain ponsel popular keluaran vendor global.

Untuk urusan penciptaan rancangan sebuah ponsel, tiap vendor mempercayakan proyek ini pada tim desain lab studio. Walau tim desain lab umumnya bekerja dinamis, tapi menuntut sisi kerahasiaan tinggi, mengingat persaingan karya cipta desain di industri ini cukup tinggi. Secara umum desain sebuah ponsel didasari oleh faktor personal, filosofi desain, dan inspirasi.



Faktor personal biasanya terkait dengan riset untuk mengetahui tingkat pemahaman dan keinginan konsumen. Sedang filosofi menyangkut makna dari sebuah rancangan, seperti desain yang baik harus mencakup unsur style, fesyen, serta kegunaan fungsi layanannya. Kemudian inspirasi bisa berasal dari apa saja yang muncul dibenak si desainer. Contohnya sket desain Samsung Jet S8003, ”desain ponsel ini muncul dari inspirasi saya saat melihat embun-embun di daun,” ujar Minhyouk Lee, Principal Designer Samsung Electronics.

Rancangan desain yang serius dan mendalam tak hanya di monopoli ponsel menengah dan kelas atas. Ponsel pemula atau yang disebut low end juga mutlak digarap serius, mengingat justru di segmen ini bisa terciptra penjualan dalam volume besar. Nokia menjadi salah satu vendor yang getol menghadirkan ponsel pemula, dengan dukungan global team desain, terdiri dari 10 lokasi di dunia, dan 4 lokasi riset utama (London, Beijing, Calabasas di AS, dan Espoo di Finlandia), membuat Nokia mampu merespon cepat tuntutan desain di beragam pasar, termasuk pasar di negara-negara berkembang dengan tingkat kesejahteraan rendah.

Sejak bulan Juni sampai November 2007, Nokia mengadakan penelitian ”future urban study” dengan tujuan mempelajari tren gaya hidup berkomunikasi di tiga kota miskin berpopulasi padat, yakni di Mumbai (India), Rio de Janeiro, dan Accra (Ghana). Penduduk urban di tiga kota ini mempunyai tantangan berat dalam isu urbanisasi, kesehatan, lapangan kerja, kriminalitas, perubahan iklim, kebersihan lingkungan, dan infrastruktur kota yang serba terbatas.



Karena pasar yang disasar unik, riset dilakukan dengan 3 metode, yakni deep dives dengan merangkul beberapa komunitas secara selektif untuk melihat pemahanan dan kebutuhan komunikasi, lalu street survey, yakni melakukan riset secara acak di jalanan pada 750 responden. Terakhir dengan menggelar Nokia open studio sebagai ajang partisipasi dari khalayak untuk menuangkan ide-ide rancangan ponsel yang dikehendaki. Tak kurang 220 orang berpartisipasi dalam open studio ini.

Hasil riset ”future urban study” kemudian menjadi bahan diskusi oleh 300 anggota tim desain yang terdiri dari desainer, psikolog, peneliti, antropolog, engineer, dan spesialis teknologi. Tak sedikit hasil dari riset ini yang akhirnya direalisasikan. Contohnya sentuhan warna dan material yang disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang di Mumbai yang kerap melindungi ponsel dari basahnya air hujan. Maka jadilah seri Nokia 1xxx dilengkapi susunan keypad yang tahan terhadap debu dan cipratan air. Adopsi dari gaya busana dan asesoris ala Rio de Janeiro juga diadaptasi untuk finishing pemilhan warna casing.

Entah sengaja atau tidak, di Mumbai yang jumlah penduduknya jauh lebih besar dari Jakarta, hampir 30 juta jiwa, hingga kini belum tersedia layanan 3G. Maka kehadiran ponsel-ponsel kelas pemula dipandang pas untuk target pasar di kota tersebut. Selain implementasi dari desain ponsel, adaptasi juga dilakukan dari desain software untuk pasar emerging market, seperti diwujudkan aplikasi berbasis SMS, Nokia Life Tools. Meski Indonesia tak serupa dengan India, tapi banyak desain ponsel dari riset Nokia di India yang sukses dipasarkan di Indonesia. (Haryo Adjie Nogo Seno)

20 Nov 2009

Instant Messaging Vs SMS

























Sampai dua tahun kedepan SMS dipercaya masih menjadi media terpopular untuk berkirim pesan dari ponsel. Tapi dibalik itu, instant messaging siap bersaing menawarkan beragam solusi yang lebih memikat dengan basis internet



Sebagian dari Anda mungkin masih ingat, dahulu untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan selamat berhari raya kepada handai taulan, kerap mengandalkan media surat dan kartu pos. Tapi seiring perkembangan teknologi, terutama setelah SMS berlaku lintas operator, popularitas surat dan kartu pos lambat laun meredup. Sejak dua dekade lalu hadir di Tanah Air, SMS hingga kini dan di masa mendatang dipercaya tetap menjadi ’bahasa’ komunikasi terpopuler di jagad layanan selular setelah voice. Menurut beberapa praktisi telekomunikasi, SMS dengan beragam fitur dan layanan turunannya, tetap akan eksis dalam pemakaian lintas teknologi jaringan dan perkembangan ponsel.

Meski life time SMS diperkirakan masih panjang, tapi bukan berarti layanan semilyar umat ini tak bisa digeser. Digeser dari segi trafik tentu tidak, tapi dari segi tren booming kini SMS reguler harus bersaing melawan popularitas instant messaging (IM). IM bukan juga sesuatu yang terlalu baru, tapi gaung IM belakangan ikut merambat naik seiring laris manisnya penjualan ponsel QWERTY bergenre messaging, sebut saja BlackBerry, Wndows Mobile, Nokia E series dan puluhan tipe ponsel ”mendadak Berry” asal Cina. Salah satu jargon fitur yang diusung ponsel-ponsel tadi adalah kemudahan chatting lewat IM. Sebut saja aplikasi yang kini sedang kondang, seperti BBM (BlackBerry Messanger), YM (Yahoo Messanger), Facebook messenger, MSN messenger dan Google Talk.

Lingkup IM yang tadinya dikenal terbatas pada komunitas juga mulai bisa ditepis, indikasinya makin kuatnya orang dari lintas kalangan untuk mengikat diri dalam wahana jejaring sosial. Ditambah tren penjualan BlackBerry dan ponsel QWERTY ala Berry ikut mendongkrak pemakaian IM, artinya tak perlu ponsel berharga mahal untuk menikmati IM. Dari wawancara dengan beberapa responden di Jakarta mengindikasikan pemakaian IM begitu popular, bahkan ada yang berani menyatakan jarang lagi menggunakan SMS. Salah satunya diungkapkan Faizal Adiputra, penggiat komunitas BlackBerry di Jakarta ini menyebutkan, setiap hari hampir tak pernah lagi berkrim pesan lewat SMS, “saya kirim SMS sangat jarang, sebab sebagian besar kolega bisnis dan kawan telah terhubung lewat BBM atau YM,” ujar Faizal.

Tanggapan serupa juga diungkapkan Dewi Banowati (27), karyawati hotel di bilangan Kuningan, Jakarta. ”Sekitar delapan puluh persen pesan singkat sehari-hari menggunakan BBM/YM, SMS dalam sehari tak sampai 5 kali dikirimi, tapi SMS tetap perlu mengingat sebagian kecil kawan tidak terhubung di YM/BBM,” ujar Dewi. Tapi ada juga pendapat yang berbeda, “SMS masih lebih mendominasi kirim pesan untuk sehari-hari, terutama untuk urusan bisnis tetap lebih saya percayakan pada SMS, sebab pesan SMS ada record yang jelas, beda dengan IM,” kata Renno Raymond (33), karyawan event organizer di Jakarta. Walau IM basisnya merupakan media komunikasi untuk sebuah komunitas, kini tak sedikit orang yang membubuhi identitas ID YM dan G Talk pada kartu namanya untuk keperluan bisnis.

Sifat IM yang interaktif, padat fitur, lintas roaming dan lebih murah ketimbang SMS memang menjadi indikasi kuatnya tren ini. Ditambah pihak operator juga jor-joran menurunkan tarif internet, plus kualitas koneksi dan kapasitas jaringan yang kian memadai. Lalu bagaimana pandangan dari sisi operator seputar tren ini? ”Menurut kami trafik SMS tidak akan terganggu, dari hasil rekap data trafik SMS tetap meningkat pesat seiring perluasan cakupan jaringan. Tapi bukannya tak mungkin kedepan porsi SMS akan berkurang karena IM. Kecenderungan ini lebih bisa terlihat pada operator berbasis 3G GSM yang mempunyai banyak varian ponsel pintar,” ujar Irwan Anwar, Executive Vice President Network Services Bakrie Telecom.

Dari info audit SMS operator XL, Indosat dan Mobile8, pada menjelang Ramadhan lalu terjadi peningkatan trafik dua digit di ketiga operator. ”Menurut perkiraan saya, sampai dua tahun kedepan eksistensi SMS belum bisa tergoyahkan oleh IM, meski operator gencar dengan mengeluarkan paket bundling sekalipun. Pasalnya penetrasi internet sebagai basis IM masih tergolong rendah di Indonesia, booming IM juga baru sebatas di komunitas perkotaan,” kata Faizal Adiputra. Tapi apa pun tren yang di masa mendatang, tentu operator tetap jadi pihak yang diuntungkan, bila nantinya pendapatan SMS turun, idealnya pendapatan dari internet bakal meningkat. (Haryo Adjie Nogo Seno)

5 Nov 2009

Jalur Gaul Alternatif via SMS Facebook




















Banyak jalan untuk jadi lebih gaul di facebook, salah satunya silahkan coba SMS facebook yang kini tengah digadang tiga operator. Caranya beda tapi sensasi tetap sama



Facebook (fb) telah menjelma sebagai situs jejaring sosial terbesar sejagad. Indikatornya, per 16 Juli lalu pengguna fb dinyatakan telah mencapai 250 juta, sedang di Indonesia tak kurang 5 juta orang telah bergabung dengan aplikasi karya Mark Zuckerberg. Fb pun menjelma sebagai bahasa pergaulan yang populer untuk segala urusan dan kepentingan. Selain memikat dari segi fitur, popularitas fb ditengarai terdongkrak karena kehandalan jalur koneksinya. Selain utamanya akses fb lewat web, tersedia jalur akses via fb mobile dan fb SMS. Ditambah, beberapa vendor sistem operasi menciptakan aplikasi khusus fb untuk perangkatnya, seperti Microsoft dan BlackBerry.

Khusus untuk koneksi fb SMS terlihat beda dari yang lain, lewat jalur SMS pelanggan tak memerlukan koneksi internet/GPRS di ponselnya, ditambah untuk penggunaan layanan ini terkait langsung dengan kartu layanan operator tertentu. Di Indonesia kini tiga operator telah menggelar layanan fb SMS, yakni Tri, Axis dan Telkomsel. Fb SMS Tri malah menjadi yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Pola tarif dan jenis fitur yang ditawarkan antar tiga operator praktis tak terlalu beda. Meski memakai jalur SMS, untuk proses aktivasi tetap diharuskan registrasi nomer ponsel via internet www.facebook.com/mobile.

Kemudahan adalah visi dari hadirnya layanan ini, pihak operator beranggapan bahwa ada ceruk pasar yang bisa digarap lewat jalur SMS, meski fb lebih dahulu kondang via mobile browser. Dengan jalur SMS, fb dapat diakses lebih luas oleh banyak kalangan, dan coverage operator tentunya lebih luas dan teruji memakai teknologi SMS yang termasuk platform 2G. ”Dalam layanan ini, juga dipadukan dukungan MMS (multimedia message service) untuk upload foto sepuasnya, artinya kualitas GPRS juga harus optimal,” ujar Suresh Reddy, Chief Commercial Officer PT. Hutchison CP Telecomm Indonesia.




Sebagai sebuah layanan yang relatif baru, fb SMS punya kelebihan dan kekurangan. ”Kelebihannya layanan ini bisa diadaptasi oleh semua jenis ponsel, termasuk ponsel jadoel sekalipun dan proses setting pun mudah,” ujar Edi Purwanto (25 tahun), seorang mahasiswa di Jakarta kepada Tuti Handayani dari SELULAR. Ditambahkan Edi, fb SMS membuat interaksi kian mudah, salah satunya report yang langsung masuk saat rekan tertentu di friend list meng-update komentar dan bisa langsung dibalas dengan mengirim SMS ke 32665.

”Proses interaksi menu pun dipandang lebih cepat ketimbang jalur web dan GPRS. Berdasar pengalaman, butuh waktu lebih dari satu menit untuk loading status menu lewat GPRS, sebaliknya fb SMS hanya butuh waktu beberapa detik,” ungkap Fiddy Anggriawan (21 tahun), mahasiswa pariwisata yang sudah menggunakan fb SMS selama 3 bulan. Mengenai kekurangan, baik Edi dan Fiddy menyebutkan fitur fb SMS belum lengkap, idealnya juga disertakan fitur fb chatt. Walau belum terlihat banyak digunakan, Edi dan Fiddy yang mewakili generasi remaja yakin dengan maraknya penggunaan fb SMS, pasalnya penggunaan fb SMS terbilang efektif untuk keseharian plus ditunjang paket tarif menarik yang terbilang murah.

Soal tarif, meski nyaris serupa, tetap ada perbedaan sedikit. Misalnya Tri hanya menyediakan paket Rp 5000/bulan, penggunanya bebas update status kapan dan dimana saja, poke (colek) atau menerima poke dari kawan, mengirim pesan dan menerima message, menulis di wall kawan dan sebaliknya. Dengan tarif paket tadi, pengguna pun bebas upload foto semudah mengirim MMS. Sedang Axis menyediakan paket Rp 1500/minggu dan Rp 5500/bulan, fiturnya serupa dengan yang ada di Tri, bedanya untuk upload foto pengguna dikenakan tarif Rp 900/MMS. Sebaliknya agak beda fb SMS Telkomsel, meski fiturnya serupa, pelanggan dikenakan Rp 2000/20 SMS yang berlaku selama 10 hari.

Sejak pertama diluncurkan pada 7 April lalu, pihak Tri belum bersedia menyebutkan info jumlah pengguna layanan fb SMS. Axis operator kedua yang meluncurkan fb SMS pada 10 Juni lalu, pun hanya menyebutkan per harinya rata-rata 1000 pelanggan melakukan aktivasi fb SMS. Walau belum ada info pasti jumlah pengguna fb SMS di Tanah Air, tren gaul fb via SMS rasanya bakal meningkat, buktinya Telkomsel per 21 Juli lalu ikut terjun ke segmen layanan ini.

(Okt09)

21 Okt 2009

Menembus Batas Angkasa dan Lautan
















Praktis kita terputus dari akses selular kala berada di ketinggian angkasa atau di tengah lautan lepas. Tapi itu dulu, kini sekat pembatas itu telah terbuka untuk wahana udara dan laut



Dampak negatif dari munculnya perang tarif yakni menurunnya pendapatan operator, dimana tingkat ARPU (average revenue per user) operator terus tergerus. Tapi disisi lain operator harus mengalokasikan pendapatan untuk biaya operasional dan kualitas jaringan. Kondisi ini memang dilematis, walau begitu operator tak lantas kehilangan greget untuk menampilkan etalase layanan berkelas tinggi dan unik. Salah satunya adalah gelar value added service disisi jaringan, tapi jaringan yang dimaksud disini sifatnya terbatas, guna menunjang kualitas dan penetrasi di ’ruang’ yang selama ini belum terjamah akses selular reguler.

Wujudnya gelar jaringan selular di atas moda kendaraan, mulai dari bus, kapal laut dan pesawat terbang. Dimana sebelumnya mustahil pengguna ponsel biasa untuk mengakses komunikasi di atas kapal laut dan pesawat terbang. Tentu bukan ranah operator untuk menyediakan moda transportasi, disinilah muncul sinergi antara kepentingan operator dengan perusahaan penyedia jasa angkutan. Meski efektivitas pemanfaatan layanan ini belum bisa dibuktikan, tapi perlahan tiap operator terlihat berkompetisi menghadirkan layanan di ranah baru ini. Kompetisi yang paling kentara yakni antara Indosat dan Telkomsel, dimana masing-masing memilih segmen layanan selular di kapal laut dan pesawat terbang.

GSM over The Air
Bisa dibilang inilah layanan jaringan selular ekstra yang tengah jadi sorotan, pasalnya baru pertama kali operator lokal dapat menyediakan layanan akses ponsel di atas kabin pesawat yang mengudara di ketinggian 5000 meter. Indosat sejak 21 Juli lalu memulai layanan ini dengan menggandeng Aeromobile. Aeromobile adalah perusahaan telekomunikasi dunia yang menyediakan jasa integrasi selular di pesawat dengan cakupan beberapa maskapai penerbangan internasional. Layanan ini difokuskan untuk pelanggan kartu Matrix yang kerap bepergian ke luar negeri, dimana penggunanya bisa mengakses voice/SMS dan internet lewat ponsel biasa dan smartphone sekalipun.

Indosat Aeromobile kini baru menyediakan akses di maskapai Emirates, Malaysia Airlines, Saudi Arabia, Virgin Australia dan Qantas. Untuk menikmati layanan ini tak diperlukan registrasi, yang penting pengguna Martrix sudah mengaktifkan fasilitas roaming internasional. Tapi tak sembarang rute penerbangan menyediakan akses ini, teknologi ini baru diterapkan untuk pesawat berbadan lebar (wide body) keluaran terbaru, sebut saja tipe Airbus A330/340 dan Boeing 777 yang biasa melayani rute lintas benua.

Karena sifatnya roaming internasional, tarif layanan disesuaikan untuk segmen ”virtual country”. Sebagai gambaran, untuk terima dan melakukan panggilan tarifnya Rp 55.000/menit. Terima SMS gratis dan kirim SMS per 160 karakter Rp 13.000, dan tarif internet via GPRS Rp 350/Kb. Sayang saat ini belum ada pesawat dari maskapai Indonesia yang dilengkapi layanan ini. ”Kami tengah menjajaki gelar layanan ini untuk maskapai Indonesia, apalagi beberapa maskapai telah mendapat ijin terbang ke Eropa,” ujar Nora Talib, Senior Commercial Manager Aeromobile. Tentu banyak pertimbangan dari sisi bisnis, pasalnya biaya investasi hardware pico cell dan perangkat komunikasi satelit mencapai US$ 250.000 per pesawat.

GSM over The Sea

Basis teknologinya hampir serupa dengan GSM over The Air, yakni mengandalkan akses satelit. Hingga kini baru Telkomsel yang menggelar layanan ini untuk kapal penumpang Pelni. Sejak 7 Juni 2008, Telkomsel secara bertahap melakukan instalasi pico dan micro BTS GSM IP (internet protocol) untuk 24 kapal Pelni, dimana kini sudah 3 kapal yang siap, yakni Kapal motor (KM) Labobar, KM Gunung Dempo dan KM Kelud. Instalasi pun tak serawan di pesawat, sebab di kapal proses instalasi selular tak berpengaruh langsung pada navigasi kapal.

Untuk pentarifan tidak dikenakan biaya roaming internasional seperti GSM over Tha Air, mengingat kapal Pelni melayani rute domestik. Untuk PoC (poinf of charging) ditentukan dengan jarak pelayaran terdekat dengan suatu area di daratan. Tentunya soal PoC tak lagi jadi soal dengan tarif murah sesama operator. Sebagai sinergi komersial, operator diberi lahan untuk menjual voucher isi ulang dan promo-promo lainnya. Meski beda matra, baik GSM over The Air dan over The Sea sama-sama baru sebatas melayani akses jaringan 2G, dimana akses internet paling optimal lewat EDGE (Enhanced Data Rate for GSM Evolution).

Cyber Bus

Bisa jadi inilah bus paling mahal di Indonesia, bertipe Volvo B12 M 12.000 cc yang di impor built in. Biaya pengadaan dan instalasi elektronik bus ini mencapai Rp 4 miliar. Inilah Indosat cyber bus, disebut cyber karena di dalam bus ini telah dibenamkan layanan komunkasi canggih khas mobile office, seperti video conference, internet, WiFi, intarnet VPN (virtual private network) dan faximili. Akses sambungan ke jaringan luar memanfaatkan modem 3.5G dengan kartu Matrix.

Menurut situs www.omahmlaku.com, bus ini hanya melayani charter di wilayah pulau Jawa. Pihak pengoperasi bus ini adalah PO Nusantara yang bermarkas di Kudus, Jawa Tengah. Untuk menikmati bus dengan kapasitas 10 orang ini memang tak murah, ongkos sewa bus super mewah ini per harinya Rp 5 juta, termasuk biaya supir dan bahan bakar. Menurut Adita Irawati, Division Head Public Relation Indosat, bus untuk segmen korporat ini baru tersedia satu buah, dan pertengahan tahun ini diharapkan bakal ditambah satu unit lagi.

(Sep09)

30 Sep 2009

Ponsel Hijau Dengan Sel Surya
















Selain ramah lingkungan dan hemat biaya, ponsel dengan kemampuan solar cell dapat memberi solusi alternatif dikala keadaan darurat


Kampanye gerakan hijau menjadi isu utama yang diangkat oleh banyak vendor. Langkah konkrit sudah dilakukan, seperti memproduksi ponsel dengan komponen ramah lingkungan, memaksimalkan bahan daur ulang sampai pada kemasan jual yang serba ekonomis. Tapi itu semua rasanya belum lengkap, pasalnya gerakan hijau belum menyentuh pada pemanfaatan sumber energi yang dipakai oleh ponsel.

Seperti diketahui, sumber energi pada ponsel didapat dari arus listrik. Nah, tenaga listrik pada baterai didapat dari proses charging. Lewat kampanye Green Energy, vendor ponsel berusaha untuk mengurangi ketergantungan asupan listrik lewat proses charging. Ponsel diupayakan untuk mendapat sumber energi ramah lingkungan, contohnya dengan memanfaatkan teknologi solar cell. Meski bukan isu baru, tapi komitmen vendor untuk menghadirkan ponsel solar cell kian mencuat saat ajang tahunan Communicasia 2009 di Singapura, bulan Juni lalu.



LG dan Samsung Mobile menjadi vendor yang mengedepankan solar cell phone saat Communicasia 2009. Samsung malah sudah meluncurkan perdana ponsel solar cell lewat seri E1107 Crest Solar. ”Ponsel low end ini disiapkan untuk dipasarkan pada negara-negara berkembang seperti India dan Indonesia yang memiliki iklim panas,” ujar Cho Hongsik, Senior Vice President Mobile Communication Division Samsung Electronics.






Lain dari itu, ada lagi Samsung Blue Earth. Ponsel ini diklaim sebagai ponsel solar cell dengan layar sentuh pertama di dunia. Selain dibuat dengan material ramah lingkungan dan plastik daur ulang, terdapat banyak aplikasi yang bartajuk eco activities pada blue earth, seperti fitur built in pedometer. Blue Earth yang digadang masuk ke segmen smartphone rencananya baru akan diluncurkan secara komersial di bulan November mendatang.

Pihak LG pun tak mau ketinggalan, lewat slogan “Life’s Good When It’s Green”, vendor dari Korea ini juga memamerkan konsep ponsel solar cell. Konsep yang ditawarkan LG adalah penempatan solar cell pada cover baterai, konsep ini sebelumnya telah dipaparkan LG pada ajang World Mobile Congress 2009 di Barcelona. Walau identitas ponsel solar cell dari LG belum diberitakan, dalam relase disampaikan ponsel ini akan mulai dipasarkan pada akhir tahun, dengan pasar Eropa sebagai target awal.



Meski menyandang gelar ”solar cell phone”, kontribusi tenaga asal cahaya matahari ini baru sebatas alternatif pendukung untuk menghemat penggunaan energi listrik. Pasalnya banyak kondisi yang membuat ponsel jenis ini mati kutu bila cuma mengandalkan solar cell, contohnya saat malam hari atau cuaca berawan. Sebagai informasi, setiap satu jam pengisian baterai via solar cell hanya dapat memberikan tenaga untuk 5-10 menit waktu bicara, atau sekitar 2 jam waktu siaga.




Dari gambaran diatas, bisa dipasatikan solar cell kurang pas dijadikan sumber tenaga utama, tapi sangat ideal digunakan sebagai alternatif energi untuk mengurangi ketergantungan dari listrik. Oleh karena itu, setiap ponsel yang dilengkapi solar cell dipastikan tetap dilengkapi paket charger pada peket jualnya Untuk penikmat aktivitas luar ruangan bisa menjadi pihak yang benar-benar merasakan manfaat ponsel ini, belum lagi bila ada kejadian darurat saat tak ada pasokan listrik, teknologi solar cell bukan tak mungkin muncul sebagai fitur primadona.

(Ags09)

10 Sep 2009

Vendor Lokal ”Mendadak Berry”





















Hebohnya BlackBerry juga direspon vendor lokal untuk menghadirkan ponsel QWERTY lengkap dengan fitur chatt, email dan facebook. Sebuah terobosan baru di kelas merek lokal, harga pun dibandrol murah meriah



Tiga tahun lalu ada momen penting di industri ponsel Tanah Air, dimana mulai menjamurnya pemunculan vendor lokal. Meski hampir semua produknya berasal dari Cina, sambutan pasar tiga tahun lalu cukup hangat. Ini tak terlepas dari unsur harga yang relatif murah dan pilihan fitur yang unik. Urusan fitur inilah yang boleh jadi membuat era kebangkitan vendor lokal di kala itu. Tercatat fitur andalan vendor lokal adalah jaringan dual on, TV analog dan layar sentuh.
Sedikit mengingat, TV analog memang dipelopori vendorl lokal, tapi untuk tren dual sebenarnya pertama kali dipopulerkan Samsung lewat seri SCH-W579. Tapi kemudian strategi paket dual on dengan harga murah meriah khas vendor lokal yang justru mampu membetot pasar. Selang waktu berjalan tiga tahun, tawaran fitur-fitur tadi sudah dianggap ”biasa” oleh kebanyakan orang. Nah, lalu harus ada momen yang diciptakan vendor lokal untuk menghangatkan pasar yang mulai jenuh.

Strateginya serupa tapi tak sama dengan tiga tahun lalu. Momen pasar diciptakan vendor lokal dengan mengekor kesuksesan desain ponsel yang lagi ’hot’ saat ini, tak lain adalah desain QWERTY keyboard yang dipopulerkan BlackBerry. Tak bisa dipungkiri, saat ini desain BlackBerry mampu membius banyak orang untuk memiliki ponsel QWERTY. Ini juga dibuktikan lewat poling SMS pembaca SELULAR yang menobatkan BlackBerry sebagai ”Ponsel Idaman Pilihan Pembaca” di SELULAR Award 2009.

Hal itu yang kemudian direspon Nexian lewat peluncuran seri NX-G900 lewat bundling kartu XL. Seperti diketahui, ponsel yang dijuluki ”Nex Berry” ini begitu laris dipasaran. Kabarnya di hari pertama penjualan, stok 2000 unit lebih laris terjual. Bahkan saking larisnya, untuk membeli ponsel pernah harus indent, dan harga jualnya otomatis melonjak, tak tanggung-tanggung sampai 60 persen. Sebuah fenomena ajaib untuk kelas ponsel lokal. Melihat sukses kerjasama dengan XL, Indosat di pertengahan bulan Juli lalu juga menggelontorkan paket Nexian Indosat. Desain qwerty tetap serupa, hanya ada perubahan pada warna pernak pernik di tombol.

Melihat gurihnya pasar qwerty, dipastikan memicu vendor lokal lain untuk menghadirkan produk ber-genre serupa. Salah satunya adalah HT Mobile lewat seri G30, meski mengadopsi qwerty keyboard, acuan desain G30 lebih ke Nokia E71. ”Melihat tren yang ada, diperkirakan sampai bulan Agustus ini akan terus bermunculan beberapa tipe ponsel QWERTY yang diusung vendor lokal utama, boleh jadi akan banyak yang mendadak Berry” kata Nuramin, General Manager HT Mobile. Menurut Nuramin, bukan sesuatu yang sulit untuk menghadirkan beragam tipe ponsel qwerty, pasalnya OEM (Original Manufacture Equipment) di Cina menyajikan banyak pilihan sesuai pasar.

Tiap vendor lokal punya strategi tersendiri, salah satunya lewat diferensiasi pada desain dan fitur. ”Bakal maraknya ponsel qwerty harus disikapi lewat diferensiasi fitur dan peningkatan kualitas, tanpa diferensiasi dan kualitas yang rendah, pasar akan jenuh dan produk bisa cepat ditinggalkan,” ujar Edwin Nataatmadja, Manager Virtu-V Mobile. Kehadiran ponsel QWERTY idealnya sudah dilengkapi fitur chatting, messaging dan social networking. Itu pun sudah menjadi bekal wajib ponsel qwerty lokal yang kini tengah dijual.

Disesuaikan dengan segmen low end yang jadi target pasar vendor lokal. Kehadiran QWERTY ini tentu tak bisa disetarakan dengan kualitas QWERTY sekelas BlackBerry. Tapi setidaknya dengan adopsi plafform Java, beragam fitur chatting gratisan bisa di download. Browsing internet lewat Opera, email POP3 dan Facebook juga sudah bisa digelar walau dalam standar akses GPRS. Meski terkesan ala kadarnya, fitur-fiturnya termasuk lumayan bila dilihat dari harga yang ditawarkan di kisaran Rp 1 juta. Belum lagi QWERTY lokal dilengkapi bluetooth stereo, kamera, pemutar musik, FM radio dan slot kartu memori. Bagaimana dengan kualitas? Tentu banyak pendapat dari para penggunanya, yang jelas harga pasti menentukan kualitas.

(Ags09)

28 Des 2008

Menggaet Pelanggan Lewat Jalur Komunitas














Jalur komunitas bila digarap serius mampu menciptakan peluang pasar dengan tingkat loyalitas tinggi. Hadirnya BissTel dapat menjadi contoh menarik eksistensi produk komunitas selular.


Setiap operator jelas membutuhkan strategi marketing mujarab untuk bisa eksis di tengah kompetisi yang keras. Selain strategi terjun ke retail, para operator punya jurus lain seperti masuk ke pasar segmen korporat. Tapi belakangan pasar korporat pun dinilai sudah terasa jenuh. Hanya beberapa operator besar yang mampu menembus skala ekonomi di segmen ini. Namun dibalik itu, peluang menciptakan strategi baru masih terbuka lebar, salah satunya dengan memilih strategi komunitas.

Berbicara tentang produk berbasis komunitas, tentu tak bisa terlepas dari ikon BissTel (Bismillah Telekomunikasi) yang hadir sejak 25 Agustus 2007. BissTel yang dimiliki oleh KH (Kyai Haji) Nadjib Sungkar B.A.M.S adalah produk komunitas selular pertama di Indonesia. ”Niat kami mendirikan BissTel yakni untuk membangun silaturahmi dan kerukunan antar anggota Keluarga Besar Bismillah dan seluruh bangsa Indonesia dari semua golongan yang tersebar dipelosok Tanah Air. Yang menjadi pemahaman yakni telekomunikasi adalah kunci silaturahmi antar umat”, ujar KH. Nadjib yang sekaligus pendiri dan Ketua Umum Keluarga Besar (KB) Bismillah.

Yang cukup menarik, meski BissTel berlabel komunitas Islam, diakui KH. Nadjib banyak pengguna BissTel yang berasal dari kelompok komunitas lain diluar Keluarga Bismillah, bahkan dari lintas golongan dan agama pun banyak yang memakai BissTel.. Ulama kharismatik asal Solo – Jawa Tengah ini menyebutkan anggota KB Bismillah sangat antusias dengan hadirnya BissTel. ”Selain kualitas jaringan yang baik, para umat juga merasa senang, sebab semua bisa berkomunikasi langsung kapan saja dengan saya”, ujar Pak Kyai. Ia pun siap menerima silaturahmi via ponsel 23 jam dalam sehari.

BissTel sendiri adalah produk dari PT. Smart Telecom. Namun dalam pemasaran memiliki desain bungkus kartu perdana dan voucher fisik berbeda. Sesuai logo KB Bismillah, kombinasi warna di paket kartu perdana sarat dengan warna hijau. Walau demikian, desain kartu RUIM dan jenis nomernya serupa dengan kartu Smart pada umumnya. ”Mengenai tarif juga tak ada perbedaan dari tarif reguler Smart, begitu pula voucher reguler Smart bisa di reload ke kartu BissTel. Kami juga menilai penting hadirnya layanan tambahan, di BissTel saat ini telah tersedia info SMS doa yang di bulan Ramadhan akan diberikan gratis”, ujar KH. Nadjib.

Mengapa memilih bermitra dengan PT Smart? KH. Nadjib menjelaskan antara KB Bismillah dan Grup Sinar Mas (holding PT. Smart) telah memiliki sejarah panjang, dan lewat kerjasama telah menghasilkan produk BissQua dan BissOil. Grup Sinar Mas sendiri adalah bagian dari KB Bismillah. Saat ditanya seputar jumlah pengguna, Pak Kyai rupanya belum berkenan menjelaskan, ”yang jelas pertumbuhan pengguna BissTel cukup pesat, setiap ada pembangunan antena BTS baru, di wilayah itu BissTel selalu habis terjual. Target kami, Insya Allah, sampai akhir tahun ini adalah 1 juta pelanggan”, kata Pak Kyai yang fasih berlogat Jawa.

Keyakinan KH. Nadjib tentu bukan tanpa alasan, KB Bismillah kini memiliki 8.557.000 umat yang tersebar di seluruh Tanah Air. Jaringan Keluarga Besar ini mencakup 142 pondok pesantren, 378 masjid dan 181 madrasah. Untuk saat ini konsentrasi pengguna BissTel sebagian besar berada di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Berikutnya akan merambah ke Sumatera dan Kalimantan.

Meski menjalankan bisnis retail, BissTel tak melupakan sisi amal, dimana setiap penjualan produk BissTel sudah ada zakatnya 2,5 persen yang akan dibagikan ke kaum dhuafa dan anak yatim-piatu. Sistem penjualan produk BissTel juga mengadopsi sistem penjualan berbasis syariah. Selain mengandalkan pola distrubisi di gerai-gerai Smart, BissTel juga telah memiliki beberapa kantor cabang yang ada di beberapa kota besar.

Bicara soal konten, BissTel memang terlihat masih sederhana, tapi dalam roadmap BissTel telah disiapkan untuk mendukung fungsi mobile commerce dan fungsi akademis. ”Operator baru memang cenderung lebih leluasa untuk menciptakan inovasi marketing yang unik, salah satunya berkat ketersediaan kapasitas jaringan yang besar”, ungkap Yofa Pratama sekalu Special Project Account Manager PT. Smart Telecom.

(Sep08)


.

29 Agu 2008

Virtual Contact Center












Lebih Nyaman Tetap Terkendali


Era internet protocol membawa manfaat pada konsep contact center, lewat pola virtual operator bisa menghemat investasi. Tenaga contact center pun bisa bekerja lebih nyaman tapi tetap terkendali.

Adalah suatu kewajiban bagi operator untuk menyediakan jalur contact center yang memadai. Performa contact center secara langsung bisa berimbas pada citra layanan operator secara luas. Coba perhatikan, hampir setiap minggu di sebagian surat kabar, tak pernah absen aneka keluhan seputar pelayanan contact center di kolom surat pembaca. Isi keluhan beragam, mulai dari uneg-uneg soal jaringan, fitur yang macet, komplain tagihan hingga sulitnya akses pangaduan ke contact center.

Bukan perkara mudah bagi setiap operator menentukan strategi gelar contact center. Operator yang berijin fixed wireless access punya konsep lebih sederhana dari operator yang berijin selular dengan cakupan nasional. Kemudian tak ketinggalan, bertambahnya jumlah pelanggan harus diimbangi dengan jumlah kapasitas contact center, artinya secara harus ada pemambahan agen call center. Sebagai contoh, Telkomsel dengan 40 juta pelanggan, kini memiliki tak kurang dari 4000 tenaga call center. Nah, bagaimana dengan operator baru?

”Operator baru pada umumnya masih menggelar konsep contact center secara konvesional, tapi sudah ada satu operator selular di Indonesia yang mengadopsi virtual contact center (VCC),” ujar Hunady Budihartono, Channel Account Manager PT. Nortel Networks Indonesia. Meski tak mau menyebut nama operator yang dimaksud, Hunady menjelaskan bahwa VCC sudah banyak diterapkan di operator luar negeri, seperti di Amerika Utara. Dengan konsep VCC, operator bisa menggelar operasi contact center tanpa batasan ruang atau bangunan khusus. Pada umumnya operator menyediakan sebuah ruang khusus yang ’steril’ untuk divisi contact center.

Nah, konsep VCC menawarkan keleluasan bagi operator, utamanya dalam memangkas biaya pembangunan hardware. Para agen call center bisa bekerja dari mana saja, cukup membawa laptop yang terhubung ke jaringan internet, semua sudah bisa berjalan. Agen call center tak perlu wajib hadir di kantor operator. Meski terbilang menarik, konsep VCC ternyata punya banyak tantangan, terutama untuk digelar di Indonesia. Hunady menjelaskan, VCC membutuhkan infrastruktur jaringan internet yang cepat dan stabil.

Ukuran performa contact center tentu juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Agen dengan VCC harus berkualifikasi moral tinggi, sebab Ia beroperasi di ruang bebas. Namun untuk menjaga kualitas, setiap agen VCC tetap mendapat pengawasan langsung oleh supervisor. Selain Nortel, Oracle dan Avaya juga menyediakan konsep serupa.

Manfaat Hadirnya Virtual Contact Center

1. Tambahan Waktu Pelayanan
Contact center operator selular beroperasi 24 jam penuh, dengan VCC akan memudahkan untuk mengatur pola pekerjaan dalam zona waktu kerja. Semisal operator yang melayani zona area luas dengan perbedaan waktu.

2. Produktivitas Meningkat
Bagi sebagian orang merasa jauh lebih nyaman bekerja dari rumah. Diharapkan dengan rasa nyaman produktivitas kerja dapat lebih ditingkatkan.

3. Turnover
Pola kerja di contact center sarat dengan stres dan kejenuhan, hal itu pula yang memicu tingginya turnover. Dengan VCC diharapkan, tingkat stres para agen bisa berkurang. Untuk mengatasi turnover, sebagian operator di Tanah Air mempekerjakan tenaga contact center dengan sistem kontrak.

4. Mengurangi Investasi
Dengan VCC investasi pembangunan fisik bisa dihemat, tapi pembinaan sumber daya manusia tetap menjadi isu yang penting sebagai investasi.

5. Tanpa Batasan Geografis
Dengan basis internet protocol, batasan geografis tidak menjadi masalah dalam konsep ini. Agen contact center dapat bekerja dimana pun, sesuai jadwal kerja.

(Mar08)

8 Jul 2008

Awasi Anak via Family Locater














Paduan GPS dan cell tracking membuat family locater cukup ideal untuk mengawasi aktivitas anak. Apalagi didukung desain ponsel yang memang digemari anak-anak

Ungkapan perhatian orang tua terhadap anak bisa diwujudkan dalam banyak hal. Salah satunya memberikan perhatian dan pengawasan terhadap aktifitas sehari-hari sang anak. Maklum kian hari tantangan dan ancaman terhadap anak-anak kian meningkat, mulai dari sisi kriminal hingga salah pergaulan. Di Amerika Serikat (AS), negara yang terkenal dengan surga teknologi LBS (Location Based Service), punya jurus unik untuk pengawasan anak, yakni program family locater.




















Family locater adalah fitur yang disiapkan bagi orang tua untuk mengawasi keberadaan lokasi anak lewat ponsel. Metodenya mengusung paduan dari GPS (Global Positioning System) dan cell tracking, sudah barang tentu ponsel sudah berfasilitas built in GPS. Sebagai catatan, di AS kini ada puluhan penyedia layanan family locater dengan basis operator selular dan MVNO (Mobile Virtual Network Operator), artinya sebuah operator tak memiliki jaringan sendiri, melainkan hanya menyewa jaringan milik operator lain.




















Adalah Disney Mobile operator MVNO yang popular menerapkan family locater, dengan menyewa jaringan Sprint, Disney family locater mampu menjangkau seluruh wilayah AS. Konsep family locater yakni orang tua bisa mengawasi lokasi keberadaan anak secara real time, orang tua bisa memonitor dan merekam lewat layar web di PC dan ponsel, wujud visual tracking berupa tampilan map. Orang tua juga bisa mengatur child zone, artinya keberadaan anak di dasarkan atas parameter suatu area, misalkan bila anak coba-coba atau tak sengaja keluar dari lokasi belanja, sekolah atau perumahan, secara otomatis orang tua akan mendapat alert lewat SMS.

Lain dari itu family locater turut dibekali fungsi call control, si anak hanya bisa menghubungi beberapa nomer yang telah ditentukan. Sesuai segmen pasar, Disney mobile menyajikan fungsi entertainment seperti games, nada dering dan themes khas Walt Disney. Ponsel Disney pun dibuat atraktif dengan desain tokoh-tokoh komik. Paket ponsel dan program family locater ditawarkan dengan system kontrak, berkisar $ 9 hingga $ 12 per bulan, tergantung jenis ponsel yang dipilih. Disney menyediakn enam pilihan built in GPS phone dari merek Samsung, LG dan Pantech.

Tapi perlu diketahui, keberhasilan family locater bergantung dari kekompakan antara anak dan orang tua. Bila si anak tak mengaktifkan ponsel toh orang tua tak bisa men track keberadaan anak. Tapi orang tua tetap bisa mendapatkan koordinat terakhir, GPS tracking digunakan untuk situasi obyek outdoor, lalu cell tracking dioptimalkan untuk area indoor. Baik akses orang tua dan ponsel si anak dilengkapi password, sehingga family locater tidak bisa diakses oleh orang yang tak berkepentingan.

Perlindungan dan kebebasan individu merupakan isu yang keras di AS, untuk itu Disney Family locater hanya dijalankan untuk track anak di bawah umur 18 tahun. Secara otomatis layanan family locater berhenti merespon jika anak telah berumur 18 tahun, operator melakukannya berdasar input data saat registrasi. Disney Mobile secara resmi diluncurkan pada bulan Maret tahun lalu, sampai saat ini belum muncul data jumlah pelanggan resmi. Namun fenomena LBS family locater tengah santer di AS, Chaperone Child Locater dari Verizone juga menggelar layanan mirip Disney Mobile. Selain kerjasama dengan Disney mobile, nyatanya Sprint juga menyewakan jaringan selularnya ke Loopt Inc, yang juga menyediakan friend locater dengan jumlah 100 ribu pelanggan.

Sebuah Keharusan
Meski memunculkan kontroversi di masyarakat, pemerintah AS pada tahun 2008 mengharuskan semua ponsel yang dipasarkan sudah harus dibekali fasilitas GPS. Pemerintah berdalih GPS paling akurat untuk merespon panggilan darurat 911. Data Gartners Research pada The Wall Street Journal edisi 16 Januari 2007 mengungkapkan, di tahun 2006 lebih dari 55 persen ponsel yang terjual dibekali GPS, dan estimasi di tahun 2007 akan meningkat 63 persen.

Di lain pihak aktivis hak asasi memprotes keras hal ini, alasannya GPS mudah dimanfaatkan untuk kepentingan lain, seperti intelijen dan spionase. “Publik membutuhkan privasi untuk melakukan kegiatan apa pun, tanpa harus was was selalu diintai,” ujar Kevin Bankston, pengacara di Electronic Frontier Foundation.

(Sep07)

30 Apr 2008

Fiber Optik Penunjang Akses Selular














Sebagai pengguna akses ponsel (telepon selular) yang awam, pernahkah Anda membayangkan betapa rumit jaringan yang menyertai layanan ini. Dalam terminologi jaringan selular, umumnya pemahaman orang selalu terpusat pada idiom BTS (base transceiver station), mengapa demikian? Ini tidak lain karena BTS lah elemen jaringan selular yang langsung berinteraksi dengan perangkat ponsel yang Anda gunakan. Jadi wajar memang jika ada apa-apa yang selalu disebut-sebut adalah masalah BTS. Lebih jauh dari itu, ada sebuah elemen penghubung yang juga teramat penting dan terbilang jarang disinggung namun berharga super mahal yakni fiber optik.

Di Tanah Air sampai saat ini ada dua operator selular yang juga menjalankan bisnis sebagai operator penyedia jaringan. Pemain utama adalah Indosat yang menggukanan SKKL (sistem komunikasi kabel laut) sejak tahun 1985. Kemudian XL lewat layanan XLnet yang pada tahun 2003 telah merampungkan jalur fiber optik di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. “Tujuan gelar fiber optik adalah untuk menambah kapasitas dan meningkatkan kualitas layanan. Pada intinya prosesnya adalah mengubungkan transmisi antar kanal. Layanan yang bisa di backup pun cukup luas yakni berupa jalur data, suara, dan gambar sehingga kita bisa menelepon melalui teknologi GSM/CDMA, mengakses internet dan melakukan video conference”, ujar Wahyu Wijayadi, direktur marketing Indosat. Seandainya kapasitas terpasang berlebih, umumnya disewakan kepihak lain seperti kalangan korporasi.

Proyek Jakasusi (Jawa Kalimantan dan Sulawesi)
Implementasi pembangunan jaringan fiber optik terbaru di Indonesia adalah proyek Jakasusi milik Indosat. Proyek ini bertujuan mendukung SKKL Indosat yang sudah terpasang sebelumnya. Proyek Jakasusi menggunakan Alcatel sekalu kontraktor dengan pembangunan jaringan sepanjang 1000 Km, mulai dikerjakan pada Maret 2006 dan berakhir di bulan Oktober 2006. Selain proyek Jakasusi, kerjasama Indosat – Alcatel juga diwujudkan dalam proyek Jasutra, pembangunan fiber optik penghubung Jawa dan Sumatera.

Proyek Jakasusi bernilai kontrak US$ 40 juta, sedang proyek Jasutra bernilai US$ 5,96 juta. Salah satu yang khas dari proyek ini Alcatel langsung menghadirkan kapal instalasi kabel laut ‘Ile De Sein’ yang pada tanggal 2 Oktober lalu sempat lego jangkar di pelabuhan Tanjung Priok – Jakarta. Indosat kini memiliki SKKL di dasar laut sepanjang 11.840 km yang menghubungkan ke arah Asia Pasifik. Ada lagi jalur 39.000 km menggubungkan ke kawasan Eropa. Meski sebagian tidak dimiliki seratus persen oleh Indosat.

XLnet
Awalnya XL membangun jalur fiber optik antara Anyer (Jawa Barat) hingga Pasuruan (Jawa Timur) di sepanjang sisi kanan dan kiri rel kereta api. Sedang jaringan kabel laut XL membentang dari Senggigi (Lombok), selatan Makassar (Sulawesi) dan Sangata (Kalimantan Utara). Menyusul kemudian wilayah Sumatera, total panjang fiber optik XL telah mencapai 4400 km. Antara fiber optik di darat dan laut saling terhubung Dengan memiliki jaringan fiber optic maka akan mengurangi ketergantungan ke pihak lain, yang pada akhirnya dapat mengurangi biaya operasi.

Antara Fiber Optik dan Satelit
Wahyu Wijayadi menjelaskan dengan implementasi serat optic yang kian luas maka peran satelit bisa dikurangi untuk banyak hal. Seperti diketahui akses satelit unggul dari segi coverage layanan, namun mempunyai sisi lemahnya kualitas tidak terlalu bagus karena amat tergantung pada cuaca. Saat ini jasa satelit di Indosat lebih sebagai sarana pendukung.” Lepas dari itu peran satelit tidak bisa dilepaskan, justru antara jaringan fiber optik dan satelit pada kenyataannya saling mendukung. Untuk pulau-pulau besar bisa dengan fiber optik tapi wilayah terpencil tetap masih mengadopsi keunggulan satelit”, ujar Hamidah Tri Irianti, head of fixed telecom MIDI and backbone Indosat.

Dari segi bentuk, kabel darat dan kabel laut tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama berjenis fiber optik. Hanya saja diameter kabel laut lebih besar, yakni sekitar tiga cm, sementara kabel darat hanya 1,5 cm. Fiber optik mempunyai kecepatan transfer data antara 10 Gb per detik dan bisa ditingkatkan menjadi 150 Gb per detik, sungguh suatu kecepatan yang dapat menjamin kualitas voice dan data sangat prima.

(Nov06)

31 Mar 2008

Tangkap Sinyal Lokal di Negeri Tetangga





Muncul tak diduga dan sering hilang. Demikian gambaran performa sinyal lokal di negeri tetangga, Singapura. Memang bukan layanan resmi GSM Indonesia, meski terbukti banyak mendatangkan manfaat bagi pengguna ponsel dari tanah air


“Wah benar-benar berkah, biar di luar negeri sekalipun sinyal lokal (operator GSM Indonesia), ternyata masih bisa ditangkap,” ungkap beberapa orang saat menghampiri smoking area di bandara Changi, Singapura. Ungkapan diatas benar-benar terjadi ketika beberapa delegasi wartawan Indonesia sesaat mendarat di Changi guna menghadiri ajang Communicasia 2005 bulan Juni lalu. Sinyal operator selular dari Indonesia memang kadang muncul dan ‘tenggelam’ di Singapura, ini bisa dijumpai pada wilayah pelabuhan dan pinggir pantai yang menghadap ke pulau Batam.

Fenomena ‘sinyal nyelonong’ buat wisatawan atau pekerja dari Indonesia merupakan keuntungan tersendiri. Sebab begitu muncul logo operator GSM Indonesia maka sang pengguna dapat mendapatkan tarif selular Indonesia. Ini sangat membantu saat harus berkomunikasi ke dalam negeri, sebab jika logo ponsel sudah berganti ke operator Singapura (internasional roaming), dipastikan Anda harus membayar tarif roaming agreement yang diberlakukan saat kartu GSM lokal memanfaatkan jaringan GSM Singapura.

Sebagai ilustrasi saat mengirim SMS (short message service) dari Singapura lewat kartu Simpati Telkomsel, Anda akan terkena tarif Rp 4000,- per SMS. Tarif itu belaku saat kartu Simpati auto switching dengan operator M1, Singtel atau pun Starhub. Selain Simpati, kartu Mentari Indosat juga memiliki kemampuan internasional roaming. “Dengan munculnya logo operator lokal saya bisa berkirim pesan ke dalam negeri dengan tarif normal Rp 350 per SMS”, papar Junaidi, jurnalis dari Indonesia.

Pra Bayar dan Sinyal Lokal
Berdasar pengamatan mata, pengguna pra bayar adalah yang paling ‘merasakan’ dampak positif fenomena ini. Maklum dengan pra bayar pengguna berangkat dengan pulsa yang relatif terbatas. Sehingga kaum pra bayar memanglah harus benar-benar irit pulsa, hal yang berbeda jika menggunakan kartu paska bayar. Bagi pengguna Simpati Telkomsel tidak dapat melakukan pengisian ulang langsung dari luar negeri. Pengisian pulsa hanya dapat dilakukan lewat bantuan orang lain via elektronik dan ATM di dalam negeri. Sedang kartu Mentari selangkah lebih maju dengan kemampuan isi ulang di luar negeri lewat jalur USSD (unstructured suplementary service data).

Meski demikian sinyal lokal tidak serta merta bisa di ‘dapatkan’ dengan seketika. Paling tidak Anda harus mengetahui wilayah pesisir Singapura yang mengahadap ke Batam, dimana operator GSM Indonesia menempatkan BTS (base tranceiver station). Jika penasaran, coba dekati area terbuka dengan geografis agak tinggi. Banyak kasus sinyal lokal sering muncul pada ketinggian lantai hotel. Contohnya pada hotel-hotel berbintang lima di kawasan Raffles, Harbour Front dan Milenia

Performa Sinyal Lokal di Negeri Tetangga
Bicara performa sinyal lokal di Singapura ada ke khasan tersendiri. Sinyal lokal pastinya hadir tidak stabil, meski anehnya saat muncul rata-rata sinyal hadir dengan kekuatan bar penuh. Bertahan tidak sampai hitungan sepuluh menit, lalu hilang kemudian beberapa saat dan muncul lagi. Hal ini berlanjut terus, asalkan posisi pemakaian ponsel tidak banyak bergeser. Jika berada di lantai tinggi, diutamakan mendekat ke arah teras atau kaca. “Munculnya fenomena ini disebabkan karena sifat sinyal yang merambat, sehingga karakternya bisa turun naik tergantung kondisi radio interface (interference level) saat itu,” ujar Hendarmin, technical instructor ICM training centre Siemens Indonesia.

Biasanya sinyal lokal lebih sering muncul pada malam hari, jika interference minim bahkan sinyal dapat diterima sampai lokasi yang agak jauh dari pesisir. Ini terbukti sinyal XL mampu diatngkap pada hotel lantai tinggi di kawasan Little India. Ini kemungkinan terjadi saat tengah malam, dimana tidak terlalu banyak subscriber yang aktif.

Bagaimana dengan kualitas sinyal tersebut? Prabowo, senior BSS (base station subsystem) Telkomsel menyebutkan untuk kualitas voice tetap berjalan baik, meski kadang tidak terlalu maksimal. “Tren nya paling banyak sinyal lokal digunakan untuk SMS, dan menerima panggilan sebab tidak terkena biaya roaming. Berbeda jika auto switching ke operator Singapura, pelanggan akan terkena biaya roaming,” ujar Prabowo. Regina Hutama, pelaku bisnis telekomunikasi di Jakarta juga mengungkapkan pengalaman nya, “sinyal lokal tidak stabil dan timbul echo (gema), suara bisa saja mati seketika, lalu berganti ke SingTel. Jika ingin berbicara harus dekat-dekat ke jendela”, papar Regina yang memakai kartu Halo Telkomsel.
Untuk mendapatkan sinyal Telkomsel, pengguna diharuskan menset network dengan auto switching. Meski begitu ada juga pendapat yang menyatakan hadirnya sinyal lokal dapat mengganggu. Sebab komunikasi jadi putus sambung, mungkin bagi pebisnis lebih baik langsung pilih operator Singapura agar stabil, cara nya bisa dengan melakukan setting network secara manual.

Munculnya sinyal lokal mengalami beberapa fase fading, seperti pantulan udara dan pengaruh ionisasi awan. Dengan demikian sinyal menjadi tidak stabil, belum lagi faktor cuaca, gedung dan kaca. Sinyal pun dapat diserap dan dipantulkan lewat media air laut. Perlu diketahui jarak antara Batam dan Singapura sekitar 20 mil laut, dengan kapal cepat hanya dibutuhkan waktu 30 menit perjalanan.

Bukan Kesengajaan
“Adanya kasus sinyal lokal tertangkap di luar negeri, khususnya dari Telkomsel bukan berarti disengaja. Operator tidak secara khusus menambah power antena yang diarahkan ke wilayah negara lain. Jika sampai sinyal lokal ‘tertangkap’ di negara lain hal itu disebabkan unsur alam yang tidak bisa dihindari,” papar Prabowo. Lagi pun datangnya sinyal hanya sesaat dan tidak stabil, sehingga tidak terlalu dipermasalahkan.

Haryadi Kusmaryo, kepala Balai Monitoring Frekuensi Radio menjelaskan bahwa gelombang radio adalah tidak terbatas, hanya cara merambatnya yang diatur, termasuk dalam hal ini pada sistem selular. Memang fenomema diatas sering muncul pada wilayah perbatasan, tidak hanya di Singapura, ini akibat karakter sinyal yang dinamis maka bentuk coverage jadi tidak beraturan.

(Agus 05)

28 Mar 2008

MVNO - Operator Tanpa Jaringan Sendiri















MNVO adalah operator selular yang tidak memiliki jaringan sendiri. Pola operasinya mengandalkan sewa jaringan. Pun demikian MVNO terbukti potensial dikembangkan di belahan Eropa dan Amerika Serikat. Bagaimana dengan di Indonesia?



Adakah operator telepon selular yang memberikan layanan kepada pelanggan nya tanpa memiliki sistem jaringan sendiri? Jawabnya ada dan sudah banyak terdapat di luar negeri. Di Indonesia pun sudah ada cikal bakal operator tersebut. Adalah PT. Flash Mobile yang menjadi cikal bakal MVNO (mobile virtual network operator) pertama di Indonesia. Dengan pola MVNO maka Flash Mobile tidak memerlukan pembangunan sistem jaringan infrastruktur komunikasi sendiri, seperti spektrum frekuensi pun memakai dari frekuensi yang sudah digunakan oleh operator lain (incumbent operator)

PT. Flash Mobile adalah badan usaha hasil bentukan dari Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan (YPK) PLN dan PT. Senatel (Bimantara Grup). Andjar Firmansjah, direktur marketing dan operasional Flash mobile menjelaskan target awal pelanggan adalah customer PLN, dimana Flash mobile memberikan beberapa layanan seputar informasi PLN lewat SMS. Seiring perkembangan kini Flash mobile menghadirkan jenis produk kartu Hore bagi pelanggan pra bayar dan paska bayar.

“Semenjak diluncurkan di Bandung pada bulan April tahun 2004 kini kami telah memiliki jumlah 30 ribu pelanggan dengan komposisi 90 persen pra bayar di area Jawa Barat dan Jakarta”, ungkap Beydra Yendi, direktur Sales Flash mobile. Ditargetkan hingga akhir tahuni ada penambahan pelanggan sampai 50 ribu subscriber. “Kami memang merencanakan Flash mobile sebagai MVNO, saat ini kami belum memiliki lisensi dan bertindak layaknya distributor yang memiliki produk sendiri”, ungkap Andjar.

Coverage Flash mobile mengikuti jaringan Mobile 8 secara penuh, dimana ada coverage Mobile 8 maka Flash mobile bisa digunakan. Sietem billing pun masih mengacu pada Mobile 8, hanya saja nantinya saluran distribusi produk dan layanan pelanggan bakal terpisah. Hal ini mutlak dilakukan agar produk tidak menjadi rancu di pasar.

Sistem kerjasama dalam pola MVNO bisa bermacam-macam tergantung dari kesepakatan kedua pihak. Salah satu nya adalah lewat MOU (minute of use) dengan pembayaran berdasarkan pada lamanya penggunaan jaringan. Dalam skema MVNO terdapat pemisahan tanggung jawan antara penyedia jaringan (network provider) dan penyedia layanan (service provider). Johnny Swandi Sjam, ketua umum ATSI (Asosiasi Telepon Selular Indonesia) menyebutkan hadirnya MVNO di Tanah Air tidak menjadi masalah asalkan telah memiliki lisensi. MVNO pun harus mendapat sewa jaringan dari network provider, bukan penyelenggara layanan. Meski di Indonesia hampir semua network provider juga menjalankan peran sebagai penyelenggara layanan.

“Dari sisi operasional pola MVNO bisa dijalankan tanpa kesulitan yang tinggi, MVNO dapat menyewa elemen jaringan secara parsial maupun keseluruhan, semisal sewa pengelolaan switching center atau radio saja. Namun dapat juga pengelolaan MVNO diatur seluruhnya mulai dari intelligent network, BSS (base station subsystem) hingga BTS”, papar Tutik Dwidayanti, manager ICM Business Development PT. Siemens Indonesia. Justru yang menjadi isu penting di Indonesia adalah pengaturan tentang pola MVNO ini. Hingga saat ini MVNO terus berkembang, di seluruh dunia sudah terdapat sekitar 85 MVNO yang kebanyakan beroperasi di Eropa, Amerika Serikat dan Amerika Selatan.

Potensi Dibalik MVNO
Hadirnya MVNO membawa potensi bisnis yang cukup luas. Penyedia jaringan dipastikan dapat menarik segmen pasar baru, sehingga bisa mengoptimalkan kapasitas jaringan yang ada. Hal ini diakui oleh Bony Muslimin, senior manager Engineering Mobile 8, dimana kapasitas jaringan yang tersisa dapat diberdayakan lewat pola MVNO. Bahkan bukan tidak mungkin MVNO juga mengembangkan sistem jaringan tersendiri. Lepas dari potensi positif, MVNO juga bisa berdampak negatif jika tidak diatur dengan baik.

Adanya irisan produk yang tajam dan isu kanibalisasi dengan produk dari penyedia jaringan dan layanan bisa berakibat fatal. Ini bisa jadi tidak menguntungkan bagi operator penyedia jaringan yang rata-rata juga bertindak sebagai penyelenggara layanan. Seperti benturan dalam sistem pemasaran. Untuk itu biasanya diperlukan pengaturan dan kerjasama antara MVNO dan penyedia layanan/jaringan dalam menghadirkan fitur ke pasar.

Operator dengan kapasitas jaringan rendah adalah yang paling sesuai menyelenggarakan MVNO. Bagi Mobile 8, Star One dan Esia kehadiran operator virtual bisa mendorong persaingan yang sehat dan sekaligus mencapai jumlah target pelanggan yang diharapkan. Bagaimana dengan operator GSM? Nampaknya pihak GSM masih melihat terlebih model bisnis yang ditawarkan. Kemungkinan ini disebabkan kapasitas jaringan GSM sudah lumayan terpakai, dan kubu GSM merasa lebih optimal dengan memberdayakan potensi sendiri. Maklum pasar pelanggan GSM jauh sangat besar ketimbang CDMA di Tanah Air.

Pengaruh Ekuitas Merek
Ekuitas merek adalah kekuatan tersendiri dalam menjalankan bisnis. Virgin mobile adalah contoh MVNO yang terbilang sukses berkat kerjsama dengan T-mobile network. Bukti sukses adalah satu tahun sejak diluncurkan Virgin mobile di tahun 1999 telah memiliki basis 500 ribu pelanggan. Berikutnya pada tahun 2000 Virgin mampu memberikan kontribusi 13,7 persen bagi pelanggan T-mobile. Kemudian tahun 2001 meningkat menjadi 33,4 persen dan tahun 2002 bertambah menjadi 51,2 persen dan kian meningkat di tahun-tahun berikutnya. T-mobile adalah operator telekomunikasi kampiun dari Jerman dengan jaringan luas di Eropa hingga AS. Sedang nama Virgin sudah demikian melekat dengan jaringan holding multi usaha, salah satu nya adalah Virgin Atlanctic Airlaines.

Demikian pula Virgin mobile di AS menjadi operator MVNO yang cukup progresif lewat pemanfaatan jaringan operator Sprint. Penyedia content olahraga ternama ESPN pun turut bermain di bisnis MVNO dengan menghadirkan ESPN mobile. Jaringan ESPN mobile menggunakan fasilitas operator Sprint PCS secara nasional. “Tujuan kami adalah meningkatkan kepemimpinan dan pengalaman di dua layar, televis dan komputer, dan kini kami akan masuk ke layar ketiga yang juga penting bagi peminat olahraga adalah komunikasi mobile”,ungkap George Bodenheimer, president of ESPN Inc dan ABC sport. ESPN mobile menurut rencana akan diluncurkan pada tahun ini.

Jaringan retail 7 Eleven pun nyata-nyata ikut bermain di MVNO, dengan dukungan ekuitas merek yang tinggi 7 Eleven bekerjasama dengan Cingular Wireless Namun pola yang dijalankan 7 Eleven berbeda dengan ESPN mobile, 7 Eleven mengalihkan operasinya ke Ztar mobile yang bertindak sebagai MVNE (mobile virtual network enabler). Ztar mobile yang berpusat di Dallas, Texas ini sebagian besar meraih pelanggan pangsa pra bayar. Umumnya MVNO mengambil peran pengendalian penuh atas manajemen kartu SIM, branding, marketing, billing, dan customer operations.

Sukses dengan MVNO
Menjalankan MVNO bukan perkara mudah dan murah, minimal operator yang ingin menjalankan MVNO harus memiliki modal ekuitas merek yang tinggi, mempunyai produk dan jasa yang unik dan juga sangat penting adalah membangun sistem distribusi penjualan produk ke end user. Berbeda dengan Virgin, ESPN dan 7 Eleven, faktor ekuitas merek belum menjadi kekuatan pada Flash mobile. Untuk membangun ekuitas merek jelas diperlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit seperti promosi yang gencar. Lalu produk dan jasa yang unik, seperti Flash mobile memberikan gimmick berbagai paket menarik termasuk tarif jauh dekat hanya Rp50 per detik untuk sesama operator. Pemain MVNO juga harus jeli mencari celah pasar. Untuk urusan celah pasar Flash mobile membidik pangsa korporat dengan keunggulan akses data cepat CDMA2000-1x, meski tidak mengesampingkan layanan voice dan data reguler.

Di Eropa sendiri umumnya MVNO lebih mengusung pada berbagai layanan multimedia seperti GPRS dan MMS. Beberapa penngamat telekomunikasi menyebut MVNO sebagai ‘operator bodong’ oleh karena tidak memiliki jaringan sendiri. Lepas dari itu hadirnya MVNO merupakan tambahann alternatif bagi pelanggan selular untuk mendapat layanan dan produk terbaik.

(Sep05)

25 Mar 2008

Sejuta Fantasi lewat SMS











SMS chat bisa jadi solusi buat yang kesepian. Bersiaplah menuai fantasi, tapi jangan lupa perhatikan pulsa Anda


Hampir sebulan ini Mudji gundah gulana, perasaan pemuda ini begitu pilu semenjak ditinggal sang kekasih, dan sudah banyak cara dilakoni guna mebuang rasa sedih. Tidak terkecuali lewat ponsel kesayangan, berkirim SMS basa basi ke sahabat atau ke mantan pacar pun sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Namun lambat laun Mudji punya kejenuhan, pemuda wiraswasta nan pemalu ini menemukan cara baru untuk melampiaskan rasa kesepian nya. Masih tetap mengandalkan SMS di ponsel, kini Mudji memanfaatkan layanan SMS chat yang dikelola content provider (CP) bersama operator selular. Lewat SMS chat Mudji dapat berkenalan tanpa malu-malu dengan kenalan wanita baru, dan hebat nya sang kenalan dapat dikontak 24 jam.

‘Sebenarnya SMS chat atau biasa disebut SMS interaktif adalah pengembangan dari layanan premium call’, demikian dikatakan Ferrij Lumoring, director planning & technology Visitel Telemedia service. Dalam fakta kehidupan sosial, rasa minder untuk berkenalan dengan lawan jenis sering dihadapi banyak orang. Bahkan tidak sedikit yang merasa kurang percaya diri walau harus berkenalan lewat voice telepon sekalipun. Untuk itulah SMS chat bisa menjadi solusi bagi orang yang pemalu atau mungkin segan untuk bercakap-cakap.

Di Indonesia SMS chat sudah diperkenalkan sejak tahun 2003 silam. Umumnya iklan dan pemberitahuan layanan ini disampaikan berbarengan dengan iklan premium call dan download ringtone. Maklum rata-rata SMS chat dikelola berbarengan dengan premium call yang berpusat di content provider yang sama. Saat ini diketahui ada tiga CP yang populer menggagas SMS chat seperti Visitel, Mtouche dan Sha Box. Visitel adalah CP pertama yang menghadirkan SMS chat di Indonesia, hit nya pun sangat besar. ‘Khusus untuk SMS chat hit nya dapat mencapai 250 ribu per bulan, dan short number kami dapat diakses oleh multi operator GSM dan CDMA’, ungap Ferrij Lumoring. Total hit Visitel sendiri bisa mencapai puluhan juta sebulan, jika digabung dengan program SMS lain. CP ini pernah mendulang sukses dalam polling AFI (akademi fantasi Indosiar) tahun lalu.

Sedangkan Mtouche baru memulai bulan November tahun 2004 dengan hit rata-rata seribu per bulan. Begitu pun Sha Box juga baru memulai tahun lalu dengan hit sekitar 100 ribu per bulan. SMS chat dari Visitel menggunakan metode operator SMS yang siaga menemani ‘obrolan’ 24 jam. Untuk itu Visitel menyiapkan sekitar 40 tenaga operator SMS yang dibagi dalam 3 shift kerja. Tiap shift bekerja delapan jam terdiri dari sepuluh orang lengkap dengan supervisor.

Selalu dengan Wanita
Walau tajuk yang diangkat adalah SMS chat, manun publik pun sudah dapat mengasosiasikan bahwa layanan ini diperuntukkan ‘khusus’ buat lelaki. Indikasi nya dapat dilihat dari visualisasi iklan di media cetak dan elektronik yang menonjolkan sosok potret wanita cantik. Bisa dipastikan bahan obrolan SMS chat tidak beda jauh dengan premium call. Pihak CP memang sudah memberikan batasan umur 18 tahun keatas serta larangan untuk membicarakan politik, SARA dan seks. ‘Tapi siapa yang dapat menjamin, jika dua orang sudah berbicara’, ujar Ferrij Lumoring. Alhasil sudah bisa ditebak rata-rata ‘pembicaraan’ SMS sarat dengan aroma seksualitas.

Jika premium call Anda dapat memastikan mitra bicara adalah wanita. Bagaimana dengan SMS chat ? Beberapa orang masih banyak yang ragu jika SMS chat memang benar-benar dilayani oleh wanita. Keraguan ini lumrah saja mengingat SMS chat berlangsung 24 jam. Apakah saat tengah malam juga SMS chat dilayani oleh wanita ? Ferrij Lumoring menjamin bahwa crew SMS Visitel 100 persen adalah wanita tulen. Namun Ferrij tidak mengetahui apakah CP lain mempergunakan wanita sebagai operator. ‘Sebenarnya dari arah kontak pembicraan Anda pun akan mengetahui apakah lawan bicara wanita atau bukan’, papar Ferrij.

Seperti hal nya premium call, SMS chat juga mengenal waktu hit transaksi. Umumnya SMS chat mulai ‘berdenyut’ antara jam pulang kantor hingga sebelum waktu tidur malam. ‘melihat hit SMS tidak berlangsung terus menerus maka Mtouche hanya melayani SMS chat dari jam delapan pagi sampai sepuluh malam’, ungkap Onny Robert, manager business Mtouche. Jika Visitel dan Mtouche menyiapkan tenaga manusia sebagai ujung tombak layanan, Sha Box menerapkan sistem yang berbeda.

Layanan yang diberi nama Cheeky chat ini lebih berperan sebagai Love Matcmaker. ‘Lewat layanan ini pelanggan dapat mencari pasangan yang cocok untuk dapat diajak chat, jadi kami hanya menyiapkan server saja’, unngkap Manuel Putra, marketing Sha Box. Metode yang dilakoni Sha Box juga pernah digunakan oleh operator XL pada tahun 2001 lalu. Bekerja sama dengan OpenMobile Asia Pasific selaku CP layanan yang digelar pada waktu itu adalah matchmaker, M dating, M chatting dan dating tips.

Registrasi dan Tarif
Untuk ber ‘asyik masuk’ di layanan ini tentu tidak dapat asal-asalan. Prosedur di setiap CP memerlukan regisitrasi pendaftaran. Contoh Chat Reg (ketik nama Anda) lalu kirim ke short number tertentu. Untuk setiap transaksi SMS dikenakan charge tarif yang berbeda, banyak bergantung pada pole charge MO (mobile originating) SMS operator selular. Visitel mengenakan tarif Rp 2000,- per message dan Mtouche mengenakan tarif 1500,- per message. Harga tersebut sudah termasuk MO dan MT (mobile terminating). Sedang Sha Box Rp 1000 per message. Hanya saja Visitel yang ber short number 3799 bisa diakses semua operator, sedang Mtouche baru sebatas pelanggan IM3.

Dari segi harga SMS chat termasuk dalam golongan SMS premium. ‘Jika disebut mahal tentu akan sangat relatif. Mahal atau tidak tentu bergantung pada kebutuhan, dan SMS chat di desain sebagai value addded service semata’, papar Ferrij.

Berpacu dengan Kuota
Ada yang menarik seputar operator SMS chat. Umumnya tenaga yang direkrut adalah wanita muda dengan rentang usia 20 an. Syarat utama menjadi operator tidak perlu harus cantik dan bersuara sensual, seperti yang manjadi syarat utama operator premium call. ‘Buat operator SMS yang paling penting harus mampu mengetik cepat dengan sepuluh jari, dan tidak lupa wawasan yang luas’, ujar Ferrij.

Setiap operator bekerja dengan sistem kuota, jika tidak dapat memenhi kuota bisa-bisa kontrak tidak diperpanjang. Sebaliknya perusahaan akan memberikan reward jika sang operator mampu mendulang hit SMS. Di Visitel tidak jarang ada satu operator yang mampu menghasilkan hit hingga 20 ribu SMS per bulan. Menjadi operator juga sarat dengan peraturan, tujuan nya tidak lain untuk melindungi keamanan dan privacy operator itu sendiri.

Sudah umum jika sang operator dilarang untuk kopi darat dan menyebutkan lokasi keberadaan kantor. Hal ini penting sebab tidak diketahui pasti profil mitra yang ingin bertemu. Perlu juga dipperhatikan bahwa sebagian dari pelanggan SMS chat adalah orang yang sedang kesepian, bahkan ada yang sedang ‘sakit’. Ferring mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah tingkat turn over yang begitu tinggi. Setiap dua minggu selalu dibuka pendaftaran operator baru. Salah satu penyebab turn over adalah gara-gara kopi darat yang berlanjut.

m-Dating di Masa Depan
Layanan SMS chat termasuk kategori m-dating, dan bakal cenderung kian ramain dimasa mendatang. Buat CP lokal sendiri sudah jauh-jauh hari menyiapkan platform multimedia seiring maraknya pertumbuhan akses GPRS dan MMS. Justru tantangan yang menghadang saat ini berasal dari kesiapan operator selular. Tantangan ini umumnya bersumber masih terbatasnya kapasitas MMSC operator. Dikhawatirkan operator selular tidak mampu meng handle layanan MMS chat. Hingga saat ini Telkomsel memiliki kapasitas MMSC 40 MMS per detik, sedang XL dan Indosat masing-masing 10 MMS per detik.

Jenis layanan yang diusung bisa berupa MMS chat yang dilengkapi foto hingga kirim pesan teks panjang. Inggris sebagai negeri kampiun 3G awal tahun ini sudah meluncurkan 3G video dating lewat operator Vodafone dan Mobestar selaku CP. Wujudnya barupa video matcmaker, sang operator selular dan CP bertindak sebagai mak comblang. Sedang proses kreatifitas video diserahkan pada pelanggan masing-masing. Tentu sistem keamanan disini harus aman dan terjamin. Jadilah pelanggan kian ‘girang’menikmati.

(Apr05)