14 Agu 2008

Mobile TV via CMB









- Ponsel dengan kemampuan mobile TV CMB




Mobile Tv tergolong teknologi yang bisa digelar dengan beragam platform, dari teknologi satelit, cell hingga terrestrial. Kini dengan konsep CMB para operator bisa menggelar mobile Tv beserta layanan multimedia unggulan lain secara multicast.

Hadirnya era 3G membawa banyak sentuhan pada ragam fasilitas multimedia gaya baru. Salah satu hasilnya adalah mobile Tv yang kini menjadi maskot keberadaan 3G disamping video call. Sedikit kilas balik, mobile Tv dalam terminologinya mengadopsi beberapa platform, seperti DVB (Digital Video Broadcasting) H/T yang populer di Eropa, Media Flo dari Qualcomm, ISDBT (Integrated Services Digital Broadcasting Terrestrial) di Jepang dan DMB (Digital Multimedia Broadcast) yang diadopsi di kawasan Korea Selatan. Untuk Indonesia sendiri, DVB-H menjadi rujukan gelar mobile Tv oleh operator 3G.

Lepas dari beberapa platform diatas, ada sebuah platform mobile Tv yang tak kalah menarik yakni via CMB (Cell multimedia Broadcast) dan MBMS (Multimedia Broadcast Multicast Service) yang untuk pertama kali diperkenalkan pada 22 Januari lalu oleh PCCW, operator mobile dan fixed network dari Hong Kong. Layanan mobile Tv via CMB dari PCCW melibatkan peran vendor Huawei Technologies sebagai penyedia solusi jaringan via UMTS/HSPA network dan Qualcomm dalam penyediaan chip handset untuk terminal yang mampu menangkap layanan Tv CMB. CMB/MBMS merupakan interoperability testing (IOT) yang menjadi standar solusi mobile Tv berdasarkan basis dari 3GPP release 6.

Konsep mobile Tv via CMB berjalan melalui sistem jaringan selular pada umumnya, pancaran transmisi data Tv tetap disalurkan melalui media cell pada BTS (base transceiver station). Pada CMB/MBMS transmisi program Tv disalurkan dengan kecepatan 256 Kbps. Hal ini mirip dengan konsep layanan mobi Tv dari Mobile 8, meski Mobile 8 berjalan di platform CDMA2000-1x, sedang PCCW di jalur 3G UMTS turunan dari GSM. Berbeda dengan DVB dan DMB yang menyalurkan transmisi lewat jalur terrestrial.

Kelebihan dari MBMS yakni mampu mendukung multimedia broadcast dan multicast services secara bersamaan. Ini memungkinkan pihak operator mengirim multimedia content langsung secara broadcast ke seluruh pelanggan atau spesifik grup. Selain kemampuan mobile Tv, wujud dari CMB bisa disalurkan dalam bentuk MMS (Multimedia Message Services) broadcast, mirip dengan SMS broadcast tetapi memakai media MMS.

Teknologi CMB dari Huawei mengadopsi solusi PTP (Point to Point) dan PTM (Point to Multipoint), aplikasi yang bisa disebar diantaranya sending group multimedia message, multimedia advertisement dan tentunya free dan premium Tv. Untuk menggelar mobile Tv via CMB, operator hanya membutuhkan upgrade software pada jaringan 3G (UMTS/HSPA) yang sudah dimiliki. Hal ini bisa menjadi altertnatif yang patut diperhitungkan operator dengan basis 2G/3G UMTS jika ingin menawarkan layanan mobile Tv.

Aristektur Jaringan CMB













Keterangan : RNC (Radio Network Controller)
GSN (GPRS Support Node)
Node B – BTS selular dengan kemampuan 3G

(Jun07)

Transfer Pulsa - "Penyambung Lidah" Antar Pelanggan














Operator punya kepentingan agar komunikasi tetap ‘hidup’ di setiap nomer. Transfer pulsa menjadi layanan alternatif yang cukup diperhitungkan. Setelah lima tahun diperkenalkan, kini transfer pulsa telah menjelma sebagai sebuah kebutuhan, paling tidak disaat isi pulsa jalur biasa tak bisa dilakukan.


Beragam layanan operator selular dengan segmen value added service (VAS) telah begitu banyak dimunculkan dari waktu ke waktu. Tapi tak semua bisa berhasil diserap dengan cukup baik oleh pelanggannya. Alih-alih biasanya operator memberlakukan layanan VAS dalam wujud promo yang dibatasi oleh sebuah periode tertentu, umumnya periode layanan VAS dalam skema bonus pulsa sering diterapkan dalam pola per 3 bulan atau 6 bulan.

Bila respon pelanggan bagus, bisa jadi promo di evaluasi dan diperpanjang. Tapi nyatanya cukup banyak yang harus dihentikan sesuai waktunya. Alasannya bisa jadi akibat respon kurang optimal atau sebaliknya malah respon pelanggan sangat besar. Semisal program bonus pulsa panggilan masuk dan bonus free talk. Perlu dicermati bahwa setiap promo layanan VAS berarti mengandung unsur subsidi, yang artinya operator ‘harus’ mengurangi sebagian dari potensi keuntungan.

Diantara sederet layanan VAS, jenis layanan transfer pulsa terbilang yang cukup awet. Maklum ditawarkan sebagai VAS permanen. Meski sudah diperkenalkan cukup lama, yakni pertama kali diperkenalkan kartu IM3 Indosat pada bulan Januari 2004. Transfer pulsa terus dikembangkan dan hampir diterapkan oleh seluruh operator besar. Berita terbaru seputar transfer pulsa datang dari XL, di bulan April lalu dengan tajuk Family Progam, kartu Xplor menawarkan transfer pulsa dari nomer paska ke pra bayar.

Kini layanan transfer pulsa telah berusia empat tahun. Sederet operator besar mulai dari Indosat, Telkomsel dan XL telah membuktikan eksistensi transfer pulsa. Meski platform yang digunakan berbeda antar operator, tapi tujuan inovasi transfer pulsa tetap sama yakni memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi akses komunikasi dengan melengkapi keterbatasan pada sistem reload pra bayar.

Revolusi Transfer Pulsa
Boleh jadi transfer pulsa adalah sebuah inovasi VAS yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Indosat sebagai pelopornya bahkan pernah mengikutkan layanan ini di nominasi Best Innovative Award GSM 2004 di Cannes - Prancis. Sekilas kebelakang, runtutan kehadiran transfer pulsa setelah IM3 yakni kartu Mentari yang juga dari Indosat di bulan September 2005. Kemudian menginjak di bulan Januari 2006 Kartu As dari Telkomsel menggelar layanan ini, yang disusul oleh kartu Simpati di bulan April 2007.

Pihak operator ketiga terbesar XL juga tak mau ketinggalan, di bulan November 2005 kartu Bebas dan Jempol juga dibekali transfer pulsa. Bahkan menurut sebuah sumber yang tak ingin disebutkan, operator CDMA berbasis selular juga akan menawarkan transfer pulsa dalam waktu dekat. Transfer pulsa memang populer digunakan antar kartu pra bayar. Tapi seiring kemajuan teknologi inteligent network (IN), para operator mampu membuat sinergi antara transfer pulsa dari kartu paska ke pra bayar, meski harus dalam skema komunitas. Seperti dicontohkan oleh Halo isi pulsa ke Simpati Telkomsel, dan paket Xplor Family Plus.

Pasang Surut Transfer Pulsa
Adanya fasilitas transfer pulsa jelas membawa pengaruh positif pada image operator. Tapi bagaimana dengan perkembangan pasar pemakaian layanan ini? Mengingat expose transfer pulsa kadang kalah gencar dari layanan lain. Hasil investigasi memunjukkan peningkatan animo penggunaan, tapi antar operator jelas punya beda karakter.

Indosat
Layanan yang diberi nama M3 Transfer pada awalnya diterapkan dengan metode pendaftaran untuk memperoleh PIN. Lalu seiring perkembanan dan memberikan kemudahan, M3 Transfer bisa digunakan langsung tanpa PIN. "Awalnya jumlah pengguna transfer pulsa dari IM3 paling banyak, tapi setelah Mentari juga dilengkapi transfer pulsa kondisi berbalik, apalagi setelah prosedur registrasi dan PIN dihilangkan, pengguna melonjak cukup drastis," ujar Guntur Siboro, head of integrated marketing Indosat.

Hingga bulan April lalu, hit transfer pulsa Mentari mencapai 550 ribu, sedang IM3 mencapai 350 ribu. Dengan total hit 900 ribu dari 14,7 juta total pelanggan didapat jumlah pulsa yang ditransfer mencapai Rp 8.5 miliar. Guntur menjelaskan bahwa jumlah nominal yang ditransfer terbilang rendah, antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Rendahnya nominal pulsa yang ditransfer menandakan bahwa layanan ini dibutuhkan untuk penerimanya dalam keadaan terdesak alias tanpa pulsa. Populasi terbanyak pengguna transfer pulsa Indosat berasal dari area Jabotabek yang mencapai 40% dari total pelanggan yang melakukan transfer pulsa. Hingga saat ini Indosat belum menggelar transfer pulsa untuk pelanggan Matrix paska bayar.

Telkomsel
Dengan total jumlah pelanggan 39 juta, Telkomsel punya peluang besar untuk sukses di layanan transfer pulsa. Apalagi semua jenis kartu sudah dibekali kemampuan transfer pulsa. "Dilihat dari hit nya, tampak bahwa pelanggan kartu Simpati adalah yang terbanyak melakukan transfer pulsa. Ini dimungkinkan jumlah pelanggan yang telah mencapai 21 juta," ungkap Agus Mulyadi, VP Product Telkomsel.

Agus menuturkan jumlah penggguna transfer pulsa berkisar 20 sampai 30 persen dari jumlah total pelanggan. Nilai nominal favorit yang sering di transfer yakni Rp 10 ribu untuk Simpati dan Kartu As. Tentang penyebaran pengguna layanan ini yang terbesar adalah wilayah Jakarta.

Excelcom
Meski terbilang paling baru dalam implementasi transfer pulsa. XL sudah mencatat perkembangan yang sangat baik, "sampai kini 61% pengguna kartu prabayar telah menggunakan layanan transfer pulsa. Data bulan April lalu menyebut rata-rata 135 ribu nomer per hari melakukan transfer pulsa," kata Bayu Samudiyo, GM Marketing Prepaid XL. Dominasi pengguna transfer pulsa adalah pelanggan Jempol. Total saat ini XL memiliki 10,1 juta pelanggan, dimana 96% nya adalah pelanggan pra bayar.

Serupa dengan Telkomsel, transfer pulsa XL juga telah bisa diaplikasikan oleh jenis paska bayar. Jika di total per akhir April lalu, pengguna pra dan paska bayar yang memakai transfer pulsa lebih dari 4 juta. Pilihan nominal pulsa yang favorit yakni Rp 3 ribu.

Esia - Bakrie Telecom
Untuk segmen operator berbasis teknologi CDMA, baru Esia yang telah memperkenalkan sisten transfer pulsa antar pelanggan prabayar. Selain transfer pulsa, hebatnya Esia juga bisa transfer masa aktif.

Biaya Transfer Pulsa
Bicara soal beban biaya transfer pulsa, Telkomsel dan Indosat punya hitungan tarif yang sama Rp 500 per kirim. Sedang XL sangat beda yakni Rp 99 per kirim. Keduanya skema tarif punya keunggulan yang berbeda. Transfer pulsa Telkomsel dan Indosat menerapkan metode pecahan bilangan nominal dengan besaran Rp 10 ribu sampai Rp 100 ribu, nominal diantaranya bisa ditransfer sesuai kelipatan. Yang agak sedikit beda adalah IM3, dimana tak memberikan batasan minimum transfer.

Sedangkan XL hanya menyediakan 2 nominal pulsa yang dikirim, yakni Rp 1500 dan Rp 3000. Perlu dicatat bahwa biaya transfer seolah-olah menjadi beban penerima, dimana nominal pulsa yang diterima dari Rp 3000 menjadi Rp 2901, dan pulsa Rp 1500 diterima menjadi Rp 1401. Masa aktif yang diberikan antara 1 dan 3 hari. Skema ini punya keunggulan, untuk berkirim pulsa dibawah Rp 10 ribu. Tapi untuk pengiriman pulsa bernominal besar menjadi kurang efesien, sebab harus berkali-kali melakukan proses transfer.

Sistem Transfer Pulsa
Ada dua skenario jalur transfer pulsa. Indosat dan XL mengadopsi jalur shor number SMS (short message service). Tapi XL selangkah lebih maju dalam konsep ini dengan menyediakan menu Bagi Pulsa dalam Layanan Data di STK (SIM Tool Kit). Sedang di sisi lain Telkomsel menggunakan sistem USSD (Unstructure Suplementary Service Data), yakni perintah yang diawali tanda (*) dan diakhiri tanda (#). Agus Mulyadi menyebutkan alasan penggunaan USSD karena lebih reliable. "Dengan USSD data langsung dapat cepat terkirim, pengirim juga akan lebih cepat mengetahui apakah proses transfer berhasil, pending atau gagal,", papar Agus Mulyadi.

Lepas dari itu, untuk bisa menikmati transfer pulsa ada ketentuan standar yang sama. Diantaranya pengirim pulsa jelas harus berada dalam masa aktif, sedang si penerima bisa berada dalam masa aktif dan tenggang. Dari hasil penulusuran, umumnya transfer pulsa lebih populer sebagai layanan yang sifatnya digunakan bilamana perlu atau untuk keadaan darurat, diimana metode isi pulsa biasa tidak bisa dijangkau. Pengiriman pulsa juga tak menambah panjang umur masa aktif dan masa tenggang, sehingga peluang untuk menjadikan transfer pulsa sebagai lahan bisnis dirasa kurang menguntungkan. Apalagi ada pembatasan nilai nominal dan pecahan maksimum pulsa.

Jika MMS dan 3G sudah lintas operator, bagaimana dengan kemingkinan tarnsfer pulsa lintas operator? Jawabannya seragam, baik Agus Mulyadi, Guntur Siboro dan Bayu Samudiyo menyatakan sampai saat ini belum ada rencana kearah tersebut. Guntur menjelaskan hal itu mungkin saja dilakukan, tapi implementasinya agak sulit karena hal ini mirip transfer uang antar bank, dimana dibutuhkan rekonsiliasi dari tiap operator setiap bulannya.

(Jun07)

12 Agu 2008

Tangkal Kebakaran dengan WiFi















Teknologi mesh WiFi (wireless fidelity) terbukti punya multi peran dan fungsi, kini WiFi telah disiapkan untuk peran rescue dan menangkal kebakaran hutan.

Memang merepotkan bila suatu area terkena bencana kebakaran hutan, pasalnya dampak kerusakan yang diakibatkan terbilang cukup besar, seperti ekosistem hutan yang rusak. Ditambah penyebaran area api cenderung cepat meluas dan membesar, seperti pada kondisi musim panas yang disertai angin kencang. Selain Indonesia yang langganan kebakaran hutan, Amerika Serikat (AS) juga punya trauma pada masalah ini. Pada tahun 1993 terjadi kebakaran hutan hebat di Laguna Beach, California. Titik api dari semak belukar di hutan secara cepat merambat ke arah pemukiman. Akibatnya lebih dari 400 rumah hangus dengan total luas bidang terbakar keselurahan 16.000 hektar.

Tentu negeri Paman Sam tidak tinggal diam, apalagi pertengahan tahun 2007 kebakaran hutan kembali muncul. Berkat adaptasi kecanggihan teknologi mesh WiFi, kini area Laguna Beach dan Laguna Canyon telah terpasang sistem ”Fire Watch”. Sistem ini berupa instalasi video pengamatan (Video Surveillance) yang mencakup area 20 mil atau sekitar 32 km persegi di sekeliling Laguna Beach. Kamera dipasang pada menara tunggal (pole). Secara real time petugas di ruang kendali bisa memantau kondisi lingkungan semak-semak dan hutan yang berpotensi menjadi titik api. Kabarnya untuk satu menara dilengkapi 2 kamera Sony sudut tetap dan 3 kamera putar yang dibekali fungsi digital zoom.
















Nah, jalur koneksi antara menara ke ruang kendali, menggunakan backhaul dari teknologi mesh metro WiFi, ini adalah solusi akses WiFi yang mencakup wilayah luas, dan bisa disiapkan untuk konsep indoor dan outdoor, bahkan mesh WiFi telah mampu menjalankan fungsi roaming/seamless data dan voice. Di setiap menara, transmiter WiFi beroperasi dengan tenaga matahari (solar powerede system) yang didukung baterai cadangan. ”Fire Watch” merupakan penerapan teknologi dari Tropos Network, vendor utama mesh WiFi.













”Dengan adanya video surveillance, potensi terjadi kebakaran besar dapat dicegah, personel pemadam kebakaran dapat bereaksi lebih cepat bila ada indikasi munculnya titik api. Solusi ini bukan pemeahan keseluruhan, tapi dapat meminimalisir kerusakan yang besar”, ujar David Horne, Chair of Laguna Fire Safe Council. Sistem pengamatan berlangsung 24 jam selama seminggu penuh yang di fasilitasi Laguna Broadcast Network sebagai ISP (internet service provider). Agar cepat dalam soal respon, petugas polisi dan pemadam kebakaran di integrasikan ke sistem Pro 911. Salah satunya koneksi video streaming dan data GPS lewat perangkat PDA (personal digital assistant) yang ada dalam genggaman petugas.

Proyek ”Fire Watch” mendapat pasokan dana dari National Fire Plan dan didukung penuh oleh US Bureau of Land Management dan California Fire Safe Council. Pihak Negara bagian California punya kepentingan besar, mengingat Laguna Beach adalah kawasan wisata, dan hunian mewah para artis. Menurut situs Information Week, kebakaran tahun 1993 telah menelan kerugian lebih dari 2 miliar dollar.

Mesh WiFi dalam konsep yang lebih sederhana, juga pernah disiapkan untuk melayani wilayah Senayan - Jakarta, tepatnya pada medio Februari – Maret 2007. Tapi entah kerana alasan yang tak jelas, proyek broadband ini tertunda sampai sekarang.

Multi Fungsi
Selain untuk mengintai potensi kebakaran hutan, ”Fire Watch” juga disiapkan untuk menjaga kelangsungan ekosistem di hutan. Aktivitas flora dan fauna dapat dipantau, serta tugas para penjaga hutan bisa lebih ringan. Lain dari itu, Tropos Network baru-baru ini juga berhasil bekerjasama dengan Shot Spotter, yakni konsep penanganan aksi kriminal di Baton Rouge, Louisiana – AS. Sistem Shot Spotter dilengkapi pendeteksi bunyi letusan senjata dan video surveillance dengan konsep mesh WiFi. Polisi bisa bereaksi lebih cepat terhadap situasi yang genting.

(Feb08)

11 Agu 2008

Adu Murah Paket Broadband PraBayar Selular




















Saat ini operator pengusung akses internet broadband (3G/HSDPA) kian jor-joran promo tarif. Salah satu yang sedang marak digenjot yakni segmen broadband prabayar, maklum di Indonesia sagala sesuatu yang berbau prabayar memang menempati urutan favorit. Hingga kini ranah kompetisi broadband prabayar diusung oleh dua operator terbesar - Telkomsel dan Indosat

Indosat lewat anak perusahaannya PT. Indosat M2 (Mega Media) menjadi penyelenggara akses internet prepaid pertama di Indonesia sejak 27 Februari 2008. Kemudian menyusul di awal Agustus 2008, Telkomsel menghadirkan prepaid broadband dalam ikon T Flash. Soal kualitas tentu keduanya bisa diadu, dalam beberapa kondisi dan area uji bisa dibilang setiap produk punya keunggulan dan kelemahan tersendiri.

Namun yang jadi perhatian, operator kini kian menyiasati layanan prepaid broadband dengan tarif yang semakin murah. Dengan dominasi khas prabayar, operator memberikan kuota MB yang lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Sebagai perbandingan, dengan kocek pulsa Rp 100 ribu, seorang pengguna T Flash prepaid Telkomsel bisa mendapat jatah 100MB untuk 30 hari masa aktif. Sedang pengguna IM2 dengan tarif voucher Rp 100 ribu bisa mendapat jatah 166 MB dengan masa aktif 45 hari.

Soal kemudahan isi ulang, kedua produk sama-sama mudah diakses, yakni bisa dengan jalur voucher fisik dan SMS. Hanya saja kartu T Flash dirasa lebih mudah dan unggul dalam aplikasi untuk beberapa perangkat, yakni bisa dijalankan sebagai kartu modem di ponsel reguler. Sedangkan desain IM2 untuk berjalan di perangkat data card, dimana fungsi voice tak dapat digunakan.

Berikut Perbandingan Tarif Voucher IM2 dan Telkomsel T Flash

Tarif IM2 Prepaid










Tarif T Flash Telkomsel